
Kegiatan Juan dan Nadira selama liburan di puncak hanya tidur dan makan, mereka tidak melakukan kegiatan layaknya orang liburan.
Hal lain yang mereka lakukan hanya bermain game dan menonton film. Tapi itu dilakukan ketika salah satunya sedang di kamar mandi.
Saat bersama, Juan dan Nadira memiliki cara tersendiri untuk menghabiskan waktu mereka.
Menurut kebanyakan orang mungkin percuma melewati liburan seperti mereka. Tapi Nadira memiliki pemikiran lain, Nadira berlibur untuk mendapatkan ketenangan dan itu saja cukup.
Sementara bagi Juan, yang terpenting berada disamping Nadira dan menemani wanita itu. Juan akan merasa semuanya menyenangkan.
"Kak Dira." Juan menghampiri Nadira dengan rambut basahnya karena baru selesai mandi.
"Kenapa?" tanya Nadira, menatap pemuda itu.
"Boleh minta tolong?" Nadira langsung paham yang diinginkan Juan. "keringin rambut kamu?"
"Iya, kalau kakak gak keberatan." jawab Juan.
"Sini." Nadira menepuk tempat disampingnya.
"Aku duduk dibawah aja, biar lebih gampang."
Juan duduk di lantai, tepat di hadapan Nadira.
"Rambut kamu udah mulai panjang." Nadira mengeringkan rambut Juan dengan handuk karena mereka tidak ada pengering rambut.
"Jelek ya, kak?" Juan menyentuh rambutnya.
"Gak jelek, tapi lebih bagus kalau dipotong."
Nadira meluruskan supaya Juan tidak salah paham. Lagipula, Juan masih tetap tampan.
"Yaudah, pulang dari sini aku potong rambut."
"Tapi kalau kamu nyaman sama rambut kamu sekarang gapapa gak dipotong. Ganteng kok."
"Bukannya lebih bagus rambutnya dipotong?"
"Gak dipotong juga tetep keliatan bagus kok."
"Jadi lebih bagus dipotong atau enggak, hm?"
"Bagus dua-duanya." Juan tertawa karenanya.
Setelahnya mereka berdua tenggelam dalam keheningan. Juan dan Nadira saling terdiam.
"Oh ya, bener kakak mau nungguin aku lulus?"
Juan menoleh kebelakang sebentar. "kakak tahu kan aku masih lumayan lama lulusnya?"
__ADS_1
"Kenapa? kamu takut kakak tiba-tiba ngilang?"
"Kalau boleh jujur iya, aku takut kakak pergi."
Juan menunduk, membayangkan itu terjadi.
"Kakak gak bakal pergi kecuali kamu sendiri yang ngusir kakak." ucap Nadira meyakinkan.
"Aku gak mungkin ngusir kakak." sambar Juan.
"Dalam mimpi pun, aku gabakal ngusir kakak."
Juan berbalik, menatap yang lebih tua darinya.
"Gimana kalau kita nikahnya dipercepat aja?"
"Kenapa tiba-tiba bahas nikah?" tanya Nadira.
"Bukannya kita sepakat nunggu kamu lulus?"
"Aku gak yakin bisa nunggu selama itu, kak."
"Aku takut kakak akhirnya ketemu cowok lain."
Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat.
"Aku bohong waktu itu. Aku mau kakak nikah sama aku, bukan sama cowok lain diluaran sana. Aku gak bakal sanggup lepasin kakak."
Tidak ada yang mau wanita yang dicintainya menikahi pria lain, Nadira mengetahui hal itu.
"Kamu tenang aja, kakak gak mungkin nikah sama cowok lain. Kakak bakal nunggu kamu."
Pandangan Juan dan Nadira saling terkunci.
"Dan kamu cukup fokus sama kuliah kamu."
"Tapi kakak mungkin gak ngerti-"
"Kakak bisa nunggu kamu sampe kamu lulus, gak peduli selama apapun itu." tegas Nadira.
"Setelah itu kita nikah?" Nadira mengangguk.
"Iya. Kita bisa nikah setelah kamu lulus nanti."
"Jadi kakak mau nikah sama aku?" tanya Juan, masih belum percaya Nadira mengiyakannya.
"Beneran ya?" Juan memastikannya kembali.
Nadira kembali mengangguk. "iya, makanya kamu cepet lulus biar kita juga cepet nikah."
Juan berhamburan memeluk Nadira, bahagia mendengar hal yang diinginkannya selama ini.
__ADS_1
"Aku bakal cepet lulus buat kakak." sahut Juan.
Terakhir kali membahas rencana pernikahan, Nadira mengatakan akan memikirkannya lagi. Tapi sekarang akhirnya Nadira menyetujuinya.
"Iya. Tapi kamu meluknya kekencengan, Juan."
"Maaf..." Juan langsung melepas pelukannya.
"Rambut kamu udah kering sekarang." Nadira mengalihkan pembicaraan seperti biasanya.
"Makasih, kak." Juan mengambil alih handuk dari tangan Nadira. "aku mau kebawah ambil minum, kakak mau sekalian aku bawain gak?"
"Eum, kamu bisa bikin kopi buat kakak gak?"
"Bisa kok. Yaudah aku ke dapur dulu ya, kak."
Chup.
Juan mengecup kening Nadira sebelum pergi dari kamar dengan wajah yang terlihat merah.
Juan yang mencium Nadira, Juan juga yang wajahnya merah sekarang. Senyuman terus terukir di wajah tampannya karena bahagia.
Nadira baru menyetujui mereka akan menikah, tapi Juan benar-benar bahagia mendengarnya.
......................
"Juan pergi ke puncak sama tante-tante itu?"
"Iya, mereka lagi liburan ke puncak sekarang."
"Cuma berdua?" Jericho mengangguk lemah.
Kadang Jericho heran, kekasihnya selalu saja menanyakan Juan. Awalnya Jericho berpikir wajar Kirana menanyakan Juan, tapi semakin kesini Jericho merasa Kirana mulai berlebihan.
"Terus kamu biarin mereka berduaan gitu aja?"
"Mau gimana lagi? mereka juga udah diijinin."
Kirana terlihat tidak senang dan itu membuat Jericho merasa ada yang tidak beres disana.
"Kita harus nyusul mereka ke puncak." kening Jericho berkerut bingung. "aku khawatir nanti Juan di apa-apain, apalagi mereka berduaan."
Jericho mengatur nafas sejenak, tidak ingin terbawa emosi karena Kirana tidak berhenti membahas Juan. "Juan pasti bisa jaga diri."
"Tapi, sayang-"
"Lusa mereka udah pulang kok, jadi kita gak perlu datang ke puncak buat nyusul mereka."
"Tapi lusa masih lama, gaada yang tahu apa yang akan terjadi selama mereka di puncak."
"Kita susul Juan ke puncak ya?" ucap Kirana memohon. "Juan adik kamu, masa kamu gak khawatir sama keadaan adik kamu sendiri?"
__ADS_1