Sugar Mommy

Sugar Mommy
52. Jangan sampai terluka


__ADS_3

Juan tidak pernah merasa tidak senang saat bersama Nadira, hanya jalan-jalan menikmati udara pagi saja Juan merasa sangat senang.


Mereka melupakan sejenak soal Kirana dan Jericho yang mungkin masih berada di villa.


"Kakak udah sering kesini, tapi baru sekarang kakak bisa lihat pemandangan disekitar sini."


Juan menatap Nadira, menatap wanita yang sedang menikmati pemandangan tidak jauh dari villa mereka. "indah juga ya tempatnya?"


"Iya, indah." bukan tentang pemandangannya, tapi Nadira terlihat sangat indah di mata Juan.


Mungkin benar bagi seseorang yang sedang jatuh cinta, orang yang dicintainya lah subjek paling indah. Sementara yang lain biasa saja.


"Sayang besok kita pulang." Nadira menatap Juan yang daritadi menatapnya. "kenapa eh?"


"Huh?" Juan mengerjapkan mata. "apa, kak?"


"Kamu kenapa ngeliatin kakak kayak gitu tadi?"


"Oh, kakak cantik banget hari ini." jawab Juan.


Nadira sudah biasa mendengar kalimat pujian keluar dari mulut Juan, dan seharusnya Nadira biasa saja. Tapi Nadira gagal untuk biasa saja.


Nadira salah tingkah disebut cantik, dan Juan juga ikut salah tingkah karena melihat Nadira.


"Kakak tadi manggil aku sayang?" tanya Juan.


"Hah?" Nadira berpikir sejenak, tapi kemudian tertawa dan memeluk Juan gemas. "kamu ini emang cuma badan aja yang gede tahu gak?"


Juan dan Nadira itu sama, saat gemas pasti mereka akan memeluk satu sama lain, beda cerita kalau mereka gemas pada orang lain.


Juan maupun Nadira tidak akan seekspresif itu berhadapan dengan orang, apalagi Juan yang tidak pernah dekat dengan wanita lain.


"Kakak gak manggil kamu sayang kok, kakak tadi cuma bilang sayang besok kita pulang."


Juan merasa itu sama saja, tapi yasudahlah. Tidak peduli siapa yang benar, Nadira akan menjadi yang paling benar bagi pemuda itu.


"Kamu lihat kan? tante-tante itu meluk Juan!"


"Kamu mau meluk Juan juga?" tanya Jericho mulai jengkel dengan perkataan kekasihnya.


Bayangkan saja! Sudah hampir setengah jam mereka mengikuti Juan dan Nadira jalan-jalan, selama itu juga kekasihnya terus berkomentar.


"Kamu ngomong apa sih? aku kan udah punya kamu, ngapain meluk adik kamu? aku cuma-"

__ADS_1


"Ayo, pulang." ucap Jericho sudah tidak ingin mendengarkan apapun lagi dari mulut Kirana.


"Kamu marah?" Kirana menatap mata Jericho.


Jericho menghela nafasnya dan itu saja sudah menjelaskan bahwa Jericho marah sekarang.


"Sayang." Kirana mengeluarkan jurus andalan, yaitu memeluk Jericho dan meraba-raba dada kekasihnya. "kamu beneran marah sama aku?"


"Aku capek." ucap Jericho tanpa menjawab.


Kirana diam-diam mendengus, Jericho tidak boleh sampai marah karena itu akan bahaya bagi rencananya untuk menyingkirkan Nadira.


Kirana melepaskan pelukannya dan menatap wajah kekasihnya yang terlihat sedang marah.


"Kita istirahat di villa gimana?" tawar Kirana.


"Istirahat di villa Nadira?" tanya balik Jericho.


"Iya, kan gaada villa lain." jawab Kirana enteng.


"Kamu ngerti gak sih, Kirana?" Jericho sedikit meninggikan suaranya. "Nadira gak bakal mau nerima kita, apalagi kita hampir ngebunuh dia."


"Kamu bentak aku?" Kirana mulai meneteskan air matanya. Tidak, Kirana tidak benar-benar menangis. Air matanya hanya air mata buaya.


"Kamu mau kita pulang ke Jakarta? ayo, kita pulang. Tapi tolong setelah itu jangan marah."


Misi Kirana sukses, Jericho terlihat merasa bersalah setelah melihat Kirana menangis.


"Aku gak marah sama kamu, aku minta maaf."


"Aku ngajak kamu kesini karena aku khawatir sama Juan, tapi kalau akhirnya kamu marah kayak gini, mendingan kita pulang ke Jakarta."


"Aku beneran minta maaf, jangan nangis lagi. Malam ini kita nginap di villa Nadira, aku bakal ngomong sama Juan supaya kita bisa nginap."


Kirana ahli dalam mengendalikan Jericho dan itu membuat Kirana bangga terhadap dirinya.


"Kamu gak marah sama aku?" tanya Kirana masih dengan air mata buayanya, Jericho yang lemah terhadap Kirana mengangguk.


"Iya, aku gak marah sama kamu." jawabnya.


"Makasih, sayang." Kirana memeluk Jericho.


"Hm, iya." Jericho membalas pelukan Kirana.

__ADS_1


Tidak ada yang sadar kalau Juan dan Nadira daritadi memperhatikan dari tempat mereka.


"Mereka pasti ngikutin kita kesini." ucap Juan yang disetujui oleh Nadira. "nyebelin banget."


"Siapa?" Nadira dan Juan bertukar pandangan.


"Kak Richo dan kak Ana, mereka kesini pasti cuma mau ganggu liburan kita." jawab Juan.


"Udah biarin aja. Gak usah peduliin mereka."


"Gimana kalau mereka maksa nginap di villa kakak? kakak bakal bolehin mereka nginap?"


"Ya... Lagian masih banyak kamar kosong."


Kalau dipikir-pikir, mungkin lebih baik Nadira membiarkan Jericho dan Kirana menginap.


Nadira tahu, Kirana pasti mempunyai rencana yang licik terhadapnya. Tapi Nadira yakin bisa mengatasi apapun yang direncanakan Kirana.


Nadira akan membuktikan kalau Kirana salah memilih lawan. Karena kalau soal licik, Kirana tidak akan bisa dibandingkan dengan Nadira.


Nadira selalu mengatakan ini pada dirinya sendiri. "jangan melukai orang, tapi jangan sampai terluka oleh permainan orang lain."


"Kakak serius mau ngijinin mereka nginap?"


"Kalau mereka maksa, mau gimana lagi kan?"


"Aku bisa ngurus mereka supaya gak nginap."


"Gak perlu, biar nanti kakak aja yang ngurus."


"Kakak yakin?" Juan selalu percaya Nadira. Tapi untuk hal ini, jujur saja Juan khawatir.


Juan bukan tidak mempercayai Nadira. Tapi dia lebih tahu bagaimana Kirana dan Kirana akan membuat Nadira merasa tidak nyaman.


"Menurut aku mending kakak cariin villa buat mereka, aku takut kakak gak nyaman nanti."


"Gapapa, Juan. Lagian cuma malam ini kan? besok kita udah mau pulang lagi ke Jakarta."


Benar. Hanya untuk malam ini. Sepertinya tidak akan ada masalah yang akan terjadi.


"Yaudah, aku ikut kata kakak." putus Juan.


Lagipula, Juan bisa melindungi Nadira kan?

__ADS_1


__ADS_2