Sugar Mommy

Sugar Mommy
46. Pelukan terakhir


__ADS_3

Entah kenapa Nadira merasa suasana berubah aneh saat sedang bersama Juan dan ada Jefri di tengah-tengah mereka. Juan yang biasanya manja dan berisik menjadi pendiam dan hanya akan bicara ketika Nadira mengajaknya bicara.


Nadira merasa seperti sedang berada diantara kekasih dan selingkuhan karena kedua pria ini.


"Kamu lupa bales chat ku ya?" Nadira menatap Jefri karena pria itu bertanya padanya. Ah, iya tadi malam Nadira tidak membalas pesan dari Jefri. "atau, kamu gak mau ketemu sama aku?"


Nadira melirik Juan, melihat pria yang sedang sibuk memakan pancake sebelum menjawab.


"Aku ketiduran." Nadira kembali menatap Jefri. "kenapa kamu mau ketemu sama aku?" bukan Nadira namanya kalau tidak bisa meng-handle situasi seperti ini. Terutama menyangkut Jefri.


"Aku cuma mau ngeliat kamu." Juan mendecih dalam diam mendengar pengakuan Jefri. Juan tidak mengerti kenapa Jefri bisa bicara seperti itu pada Nadira disaat Jefri akan bertunangan.


Juan akan memaklumi, kalau Jefri tidak akan tunangan dengan wanita lain. Juan tahu Jefri terpaksa, tapi pria sejati akan tegas menolak.


Jefri bisa bicara baik-baik pada orang tuanya kalau memang Jefri mencintai Nadira, begitu pikir Juan. Karena kalau seperti ini, Jefri akan melukai perasaan dua wanita dalam hidupnya.


Jefri akan melukai wanita yang akan menjadi istrinya kalau belum bisa melepaskan Nadira, dan Nadira bisa di pandang buruk karenanya.


"Cuma mau ngeliat aku? ada-ada aja!" Nadira tertawa dan diam-diam menatap kearah Juan.


"Ya, aku mau ngeliat kamu." Jefri menegaskan. Jefri sama sekali tidak tertawa melihat Nadira tertawa karena sadar Nadira terus saja melirik Juan. "karena terakhir kita ketemu kamu luka, aku mau mastiin kamu baik-baik aja sekarang."


"Aku baik-baik aja kok, lagian cuma luka kecil."


"Aku juga kangen sama kamu, Ra." ucap Jefri pelan. Membuat Juan menghentakkan garpu diatas piring. "aku ke kamar mandi sebentar."


Nadira bergidik mendengar suara Juan yang berubah berat. Jelas sekali pemuda itu kesal.


"Kalian pacaran?" tanya Jefri menyadari Juan tidak menyukai kehadirannya yang sepertinya menjadi pengganggu. "Juan keliatan gak suka aku datang kesini, aku ganggu kalian berdua?"


"Juan gak kayak gitu." Nadira membela Juan. "mungkin dia cuma lagi pusing mikirin tugas."


"Kamu suka sama Juan?" tanya Jefri merasa Nadira selalu membela Juan, bahkan Nadira sampai terluka juga karena melindungi Juan.


"Hm. Juan lucu kan? sikap Juan juga manis."

__ADS_1


"Sepertinya bukan sekedar suka, kamu sudah jatuh cinta sama dia huh?!" bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Nadira sampai memuji Juan, itu berarti Nadira memang mencintainya.


Nadira hampir tidak pernah memuji orang lain selain Bryan sebelumnya. Semua yang dekat dengan Nadira tahu, mendapat pujian darinya adalah hal sulit karena Nadira itu sangat kaku.


"Aku kalah sama orang yang belum lama hadir di hidup kamu." Jefri menatap Nadira dengan mata sendunya. Dan membuat Nadira merasa bersalah sudah memuji pria lain di depan Jefri.


"Maaf..."


Jefri menggeleng. "kamu gak salah, Ra. Kamu berhak cinta sama siapapun, termasuk Juan."


"Aku gak bilang cinta sama Juan." elak Nadira.


"Kamu gak bilang tapi mata kamu nunjukin itu, Ra. Kamu gak bisa bohongin perasaan kamu."


"Jef-"


"Sebelum kesini aku ketemu Naren, dia bilang mungkin Juan bisa nyembuhin trauma kamu."


"Kamu ngomong apaan sih?" Nadira berusaha untuk tidak menangis saat Jefri menyinggung traumanya. Nadira tidak merasa trauma atau apapun. Jefri sudah salah paham tentangnya.


"Awalnya aku pikir mereka semua bodoh, tapi sekarang aku sadar orang yang memendam perasaan mereka itu orang yang paling tulus."


"Sumpah, aku gak ngerti kamu ngomong apa."


"Dan Naren salah satu orang tulus itu, Naren tulus sayang sama kamu." Jefri melanjutkan kalimatnya dalam hati. "aku gak nyesel udah ngungkapin perasaan aku, aku nyesel karena aku gak bisa setulus Naren dan malah egois."


"Dira butuh seseorang yang bisa nyembuhin traumanya." Jefri meneteskan air mata saat mengingat apa yang Naren katakan padanya.


"Kalau kamu gak bisa ngelepas Dira, Dira juga gak bakal bisa sepenuhnya suka sama orang karena Dira bakal mikirin perasaan kamu Jef."


Selama ini, Jefri selalu berpikir Nadira bukan tidak bisa membalas perasaannya tapi takut mengakui perasaannya karena traumanya itu.


Jefri memberitahu Nadira tentang perjodohan dengan harapan Nadira akan mulai menyadari perasaannya. Tapi ternyata dugaan Jefri salah.


"Boleh aku minta sesuatu sama kamu?" Jefri menatap mata Nadira yang juga sudah berair. "aku mau kamu meluk aku buat yang terakhir kalinya, sebelum aku tunangan sama Mawar."

__ADS_1


Nadira tidak menjawab. Tapi Nadira beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Jefri. Air mata tumpah ketika Nadira memeluk Jefri dari belakang. Nadira menyayangi Jefri, tapi perasaan itu tidak lebih dari sekedar sahabat.


"Dira, kamu kenapa? kenapa bisa kayak gini?"


"Papah aku, Jef. Dia yang bikin aku kayak gini."


"Sakit, tapi disini lebih sakit. Hati ku sakit, Jef."


Jefri memejamkan matanya, mengingat saat Nadira menangis dengan wajah dipenuhi luka. Hatinya sakit melihat Nadira terluka, dan lebih sakit lagi mendengar Nadira mengatakan itu.


"Dulu aku selalu membanggakan papahku di depan teman sekolahku, karena aku berpikir hanya papah yang menyayangiku sementara mamah hanya menyayangi Raihan. Tapi aku salah, gak ada satupun yang menyayangiku."


"Aku sama Naren sayang sama kamu kok Ra."


"Bunda yang sayang sama kamu. Aku biasa aja. Tapi kalau kamu mau, aku bisa sayang juga sama kamu. Tapi sebagai sahabat aja."


Jefri menghapus air matanya. Naren memang gengsian dari dulu, padahal sebenarnya Naren sangat peduli dan menyayangi Nadira. Bahkan, Naren bisa menjadi dokter juga karena Nadira.


Sebenarnya, membuat Nadira merasa dicintai sudah cukup. Jefri tidak seharusnya berharap mendapatkan balasan. Karena wanita seperti Nadira akan susah untuk mencintai orang lain.


Jangankan mencintai orang lain, mencintai diri sendiri saja sulit bagi Nadira. Nadira mungkin terlihat normal, makan dengan baik, memakai pakaian bagus, tapi orang lain tidak tahu kalau Nadira sering berusaha untuk melukai dirinya.


"Aku habis nolong orang di jalan, aku pikir aku bakal mati setelah itu, tapi ternyata aku hidup."


Jefri terisak. Mengingat betapa putus asanya Nadira sampai mengharapkan dirinya sendiri mati. Dan itu membuat hati Jefri merasa sakit.


"Maaf, kalau perasaan aku membebani kamu."


"Maaf, aku belum bisa bales perasaan kamu."


Setelahnya, tidak ada percakapan lagi antara mereka. Jefri hanya diam menikmati pelukan terakhir Nadira. "aku akan melepaskan kamu, tapi kamu harus janji jangan sampai terluka."


"Semoga kamu bahagia sama wanita pilihan mamah kamu. Aku sayang sama kamu, Jefri."


Tidak semua orang yang saling menyayangi ditakdirkan untuk hidup bersama, begitupun Jefri dan Nadira. Karena sang pencipta lebih mengetahui yang terbaik yang harus terjadi.

__ADS_1


__ADS_2