Sugar Mommy

Sugar Mommy
35. Membuat resah


__ADS_3

"KAK DIRA LUPA PAKE CELANA?!" suara Juan menghebohkan kediaman Adhiwijaya pagi itu.


Adrian yang sedang makan sampai tersedak karena Juan berteriak. Bahkan Javier hampir menyemburkan minuman di dalam mulutnya.


Semua pandangan tertuju pada Nadira yang menuruni tangga bersama Rosa. Pantas saja Juan berteriak, Nadira memang terlihat tidak memakai celana. Wajar saja Juan ketar-ketir.


"Kakak pake celana kok." Nadira membela diri. Karena memang Nadira memakai celana. Dan tanpa basa basi mengangkat kemejanya yang menutupi celana pendeknya. "kamu lihat kan?"


Juan gelagapan melihat Nadira mengangkat kemeja. "turunin kemejanya, kak Dira! astaga."


"Kamu kenapa sih teriak-teriak? berisik tahu!"


"Ya, kakak kenapa ngangkat kemeja kakak?!"


"Kakak kan cuma nunjukin kakak pake celana!"


Asisten rumah tangga keluarga itu tidak kuasa menahan senyuman melihat kelakuan mereka.


"Lagian kamu kenapa, Juan? takut aset kamu dilihat laki-laki lain eh?" tanya Rosa menimpali. "mamah juga gak mungkin kali ngebiarin calon menantu mamah keluar gak pake celana dulu."


Nadira biasa disebut calon menantu oleh para ibu yang ingin menjadi mertuanya. Karena itu Nadira biasa saja disebut calon menantu oleh mamah Juan -yang menjadi salah satu ibu-ibu yang ingin Nadira menjadi istri untuk anaknya.


Bahkan Nadira pernah membuat acara heboh karena ibu-ibunya berebutan menyebut Nadira sebagai calon menantu mereka. Padahal saat itu Nadira datang bersama mamah Jefri -Airin. Tapi banyak ibu-ibu yang memperebutkannya.


"Tapi celana kak Dira kependekan tahu, mah?"


"Celana mamah yang muat cuma ini, yang lain kegedean." jawab Rosa seadanya. Rosa sudah mencoba memberi celana lain, tapi kebesaran.


"Tapi kita mau jalan-jalan, celana kakak terlalu pendek itu." Juan terus melihat celana Nadira yang tertutup oleh kemeja kebesaran miliknya.


"Nanti kita beli celana di jalan, gampang kan?"


__ADS_1


Juan angkat tangan. Nadira tidak bisa didebat kalau sudah seperti ini. Semua gampang bagi Nadira, apalagi hanya perkara membeli celana.


"Nanti aku yang beli, kakak tungguin di mobil."


"Iya." Nadira menurut, daripada mereka gagal pergi hanya karena celana Nadira kependekan.


"Tapi badan kamu jatuhnya bagus pake celana pendek gini." Juan melotot mendengar ucapan mamahnya. Juan ingin protes, tapi mamahnya lebih dulu bicara. "biasa aja, gak usah melotot."


"Mamah jangan ngajarin kak Dira pake celana pendek. Jelek juga itu celananya." ucap Juan tidak suka mamahnya mempengaruhi Nadira.


"Bagus kok ini." ucap Nadira membela Rosa.


"Gak usah diangkat gitu kemejanya, kak Dira."


Nadira mengangkat bahu acuh. "ayo, sarapan."


Juan berdiri di hadapan Nadira, menghalangi Nadira dari pandangan papah dan kakaknya. "kita sarapan diluar aja, sekalian jalan - jalan."


Nadira menatap yang lebih tinggi darinya itu. "mamah kamu udah bikin sarapan buat kita."


Juan menarik tangan Nadira, bahkan sebelum mamahnya menjawab. Juan tidak ingin papah maupun kakaknya melihat paha mulus Nadira.


"Apa-apaan anak itu?" cibir Javier melihat Juan melewati ruang makan begitu saja. Javier juga kesal tadi malam harus tidur di kamar Jericho.


"Calon adik ipar kamu unik ya?" celetuk Adrian.


"Apa dia gak ketuaan buat jadi adik ipar aku?"


"Adik kamu baru suka sama perempuan, kamu jangan kayak gitu. Lagipula Dira tidak tua kok."


"Iya, deh. Calon menantu kesayangan mamah."


"Tapi papah lihat di internet Dira hebat loh, dari usaha cafe, jadi pemilik saham di perusahaan."

__ADS_1


"Dan hebatnya lagi, Dira udah nolong mamah."


"Iya - iya, puji aja terus calon menantu kalian."


"Kamu cepetan cari pacar sana, move on dari Citra. Masa keduluan nikah sama adik kamu?"


"Mamah serius ngijinin Juan nikah sama Dira?"


"Iya, semoga aja Juan dan Dira bisa bersama."


Ya, semoga saja. Rosa belum yakin Nadira dan Juan bisa berakhir di pelaminan. Rosa merasa akan sulit bagi Juan mendapatkan hati Nadira.


Nadira gadis yang baik, dia penuh kehangatan dan kelembutan. Tapi Rosa tidak yakin Nadira melihat Juan sebagai seorang pria. Ini alasan Rosa menasehati Juan sampai anaknya kesal.


Bukan hanya karena takut Juan seperti Javier dan Jericho. Tapi Rosa juga takut Juan terluka ketika perasaannya tidak terbalas oleh Nadira.


Semakin Juan dekat dengan Nadira, semakin mereka memiliki momen bersama, pasti akan semakin sulit untuk Juan melepaskan Nadira.


Sebagai ibu, Rosa menginginkan yang terbaik untuk Juan. Meskipun Rosa belum tahu yang terbaik, setidaknya Rosa mencegah hal buruk.


Rosa khawatir Juan tekat memiliki Nadira saat perasaannya tidak terbalas. Apalagi Rosa tahu Juan dan Nadira tidur satu ranjang selama ini, kemungkinan Juan akan nekat semakin besar.


Sementara itu di depan kediaman Adhiwijaya,


"Kamu kenapa, Juandra?" tanya Nadira kesal karena Juan menariknya keluar rumah begitu saja. "kakak gak enak sama orang tua kamu."


"Lagian, kakak kenapa buka kemeja di depan papah sama kak Javier?" Juan membalikkan pertanyaan. Nadira malah tertawa karenanya.


"Kakak gak buka kemeja, cuma ngangkat dikit kemejanya buat ngeliatin celana." koreksinya.


"Kita nyari sarapan dulu, baru beli celana buat kakak dan jalan - jalan." ucap Juan tidak ingin membahasnya. "dan biarin aku aja yang nyetir."


Nadira hanya mengiyakan, daripada berdebat dengan Juan. "iya, terserah kamu. Tapi muka kamu jangan gitu, jadi keliatan jelek tahu gak?"

__ADS_1


"Kamu mau ngapain, Juan?" Nadira menahan tubuh Juan karena wajah pemuda itu semakin mendekat padanya. "ayo, kita pergi sekarang."


Juan menahan tangan Nadira yang berada di dadanya dan memberikan kecupan pada bibir wanita itu. Juan ketagihan karena tadi malam merasakan manisnya mengecup bibir Nadira.


__ADS_2