
Juan dan Nadira memutuskan untuk istirahat setelah makan, dan sekarang mereka berdua terlelap dengan posisi Juan memeluk Nadira.
Cuaca dipuncak dingin saat itu sehingga Juan memeluk Nadira sampai Nadira sulit bernafas.
"Juan ..." Nadira bicara dengan mata tertutup karena mengantuk. "lepasin dulu pelukannya."
"Juan!" Nadira kembali bicara, tapi tidak ada respon dari si pemilik nama. "udah tidur ya?"
Nadira akhirnya membuka matanya, menatap Juan yang sedang terlelap dan memeluknya.
"Kenapa nih anak makin hari makin ganteng?"
Nadira berdehem saat menyadari ucapannya dan langsung membuang wajahnya dari Juan, tidak ingin terlalu lama menatap wajah Juan.
"Gimana gue tidur kalau meluknya kayak gini?"
Nadira berusaha kembali melepaskan dirinya dari pelukan Juan. Sedikit lagi Nadira berhasil, tapi Juan semakin menariknya ke pelukannya.
"Oh, ****. Kenapa makin kenceng meluknya?"
Beruntung sekarang Juan memeluknya dari belakang. Setidaknya jantung Nadira aman.
"Jangan kemana-mana, kak. Aku kedinginan."
Nadira menoleh kebelakang. Nadira kira Juan bangun, tapi ternyata matanya masih tertutup.
"Huft." Nadira tidak memiliki pilihan lain selain pasrah dan berusaha untuk menutup matanya.
Akhirnya, Nadira berhasil tidur. Nadira tertidur dengan Juan yang memeluknya dari belakang.
Selang beberapa detik mata Juan terbuka dan Juan melihat Nadira yang membelakanginya.
"Perasaan tadi kak Dira bangun, tidur lagi ya?"
"Atau cuma perasaan aja?" tidak ambil pusing, Juan menarik selimutnya dan kembali tertidur.
Paginya, mereka kesiangan. Matahari sudah muncul ke permukaan, tapi Nadira maupun Juan masih belum ada yang membuka mata.
Juan baru bangun saat merasakan tangannya kram gara-gara semalaman menyangga tubuh wanita yang saat ini masih tidur di pelukannya.
__ADS_1
"Akhh, tanganku." Juan melihat Nadira yang terlelap. Tangan Juan kram, tapi tidak tega membangunkan Nadira yang masih terlelap.
Nadira mengubah posisinya, menghadapkan tubuhnya pada Juan dan memeluk yang lebih muda darinya seperti sedang memeluk guling.
"Kak..." panggil Juan lembut, berharap Nadira bangun. Karena tangannya benar-benar kram.
Posisi Nadira sekarang membuat tangan Juan lebih leluasa bergerak, tapi masih terasa kram.
"Kakak masih ngantuk ya? yaudah deh kalau masih ngantuk, aku tungguin sampe bangun."
Menit demi menit berlalu, Juan tetap berada diposisi dan tempat yang sama. Juan tidak bergerak karena khawatir Nadira terbangun.
Bahkan hanya untuk bernafas pun Juan harus berhati-hati, takut Nadira akan terusik olehnya.
"Kapan kakak mau bangun?" Juan mengeluh, karena Nadira tidur lebih lama dari perkiraan.
"Aku gak keberatan dipeluk sama kakak. Tapi kalau kelamaan, gak sehat buat jantung aku."
"Jantung aku daritadi berisik, gak denger ya? atau emang tidur kakak terlalu nyenyak huh?"
Tangannya perlahan menyapu helaian rambut Nadira yang menutupi wajah cantik wanita itu.
Kening Nadira berkeringat, entah karena cuaca atau mungkin Nadira bermimpi buruk. Tapi itu sama sekali tidak membuat Nadira terbangun.
"Kak." Juan berusaha membangunkan Nadira.
Demi tuhan, Juan tidak keberatan Nadira terus memeluknya seperti ini. Tapi lama-lama Juan merasa khawatir Nadira tidak kunjung bangun.
"Kak Dira." usaha Juan kali ini berhasil, Nadira mulai merespon dan perlahan membuka mata.
"Kakak baik-baik aja?" kalimat pertama yang Nadira dengar setelah nyawanya terkumpul.
Nadira menyadari dirinya memeluk Juan, dan posisi mereka kurang bagus sehingga Nadira buru - buru melepaskan Juan dari pelukannya.
"Maaf." Nadira mengubah posisinya menjadi duduk. "jam berapa sekarang? udah siang ya?"
Juan melihat jam di kamar mereka dan ikutan duduk disamping Nadira. "udah jam sepuluh."
"Kakak baik-baik aja kan?" Juan memastikan.
Nadira yang sedang mengusap wajahnya kini menatap Juan. "hm, iya. Kakak baik-baik aja."
__ADS_1
"Kamu bangun daritadi?" Juan mengangguk.
"Kenapa gak bangunin kakak?" tanya Nadira.
Juan bukan tidak membangunkan Nadira, tapi Nadira yang tidurnya terlalu nyenyak. Sampai wanita itu tidak saat Juan membangunkannya.
"Kakak mandi duluan." Nadira pergi ke kamar mandi tanpa menunggu Juan menjawabnya.
Juan memperhatikan Nadira yang memasuki kamar mandi dengan tergesa-gesa, entah apa yang membuat wanita itu begitu tergesa-gesa.
Juan meregangkan otot tangannya yang kaku sebelum akhirnya ke dapur untuk mengambil minum, karena tenggorokannya terasa kering.
Nadira benar-benar membuat isi kulkas penuh dengan makanan dan minuman untuk mereka, bahkan minuman soda pun ada dalam kulkas.
"Kak Dira emang cocok banget buat jadi istri."
Juan takjub melihat isi kulkas dan juga lemari di dapur. Semua benar-benar tersedia disana.
Juan melihat ada roti dan juga selai kesukaan Nadira, sepertinya akan cocok untuk sarapan.
Sebelum membuatkan sarapan, Juan mencuci dulu muka di wastafel. Juan tidak bisa masak, tapi mengoleskan selai sepertinya hal mudah.
"Kamu lagi ngapain?" Juan yang sedang fokus membuat sarapan tersentak mendengar suara Nadira. Wanita itu menghampiri Juan di dapur.
"Bikin sarapan eh?" Nadira melihat yang Juan buat. Hanya roti yang diolesi selai strawberry.
"Iya. Kak Dira mau nyobain gak?" tawar Juan. "maaf ya rotinya agak berantakan kayak gini."
Nadira melihat roti yang Juan buat memang berantakan, tapi Juan pasti sudah berusaha.
"Gapapa, kakak cobain ya." Juan mengangguk dan merasa senang Nadira mau mencobanya.
"Aku suapin aja, biar tangan kakak gak kotor."
"Masih bisa dimakan kan?" tanya Juan penuh harap dengan roti buatannya. Nadira terkekeh.
"Menurut kakak enak kok." jawab Nadira jujur.
Tentu saja enak karena rotinya diolesi selai strawberry kesukaan Nadira, tapi karena itu buatan Juan, rasanya berkali-kali lebih enak.
Jangan heran, keduanya sama-sama bucin.
__ADS_1