
Nadira melihat galeri di ponselnya yang entah sejak kapan dipenuhi foto selfie Juan. Bahkan Juan sempat-sempatnya mengambil selfie di dapur saat akan membantu Nadira memasak.
Nadira mengaku Juan tampan, badannya juga lumayan bagus untuk ukuran laki-laki. Sayang semua itu tertutupi oleh sikap super manjanya.
Juan benar-benar tidak bisa tidur sendiri. Juan bahkan sampai terbangun tengah malam saat Nadira tidak di kamar. Padahal saat itu Nadira hanya ingin pergi ke dapur mengambil minum.
Tapi meskipun manja, Juan menjadi salah satu laki-laki yang diijinkan memasuki hidup Nadira. Sebelum bertemu Juan, tidak ada laki-laki lain yang Nadira ijinkan masuk ke dalam hidupnya.
Nadira bukan trauma karena pernah patah hati oleh laki-laki, Nadira hanya tidak suka laki-laki memasuki hidupnya. Karena menurutnya tidak akan ada laki-laki yang tulus mencintai wanita.
Ah, tidak. Mungkin benar kalau Nadira trauma karena laki-laki dan laki-laki itu papahnya. Tapi Nadira tidak ingin mengakui traumanya. Hanya mengakui dirinya belum siap terikat hubungan.
Nadira ramah dan hangat, tapi akan berubah menjadi dingin saat berhadapan dengan pria. Tidak semua pria, hanya pria yang tidak tahu cara menghargai Nadira yang seorang wanita.
Nadira tidak menyukai pria yang merasa diri mereka hebat, merasa paling diinginkan dan merasa paling dibutuhkan. Apalagi pria yang menganggap para wanita lemah dan murah.
Kadang Nadira tidak mengerti bagaimana bisa ada pria yang masih mengatakan kalau wanita matre. Disaat ada banyak pria yang selingkuh padahal uang untuk istrinya saja belum cukup.
Apalagi papah Nadira, kerja serabutan, kadang sampai berhari-hari tidak memberi uang untuk anak dan istrinya makan, sok-sokan selingkuh. Dan memakai uang Nadira untuk selingkuhan.
Pantas kalau sampai sekarang Nadira sangat membenci papahnya, meskipun papah Nadira sudah lama meninggal. Karena Nadira masih belum bisa melupakan perbuatan sang papah.
__ADS_1
Nadira tidak hanya mendapatkan luka fisik dari papahnya, tapi hati dan mentalnya ikut terluka. Masih untung Nadira tidak sampai kehilangan kewarasannya dan hidup dengan baik saat ini.
"Aku ganteng ya disana?" Juan tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Nadira dan memperhatikan ponsel Nadira yang kini menampilkan fotonya.
Mereka sedang berada di ruang makan. Nadira tadinya ingin memasak mie untuk makan, tapi mendadak kehilangan mood untuk masak dan malah memainkan ponselnya di ruang makan.
Nadira menutup layar ponselnya dan menoleh pada Juan. "kok kamu disini? bukannya kamu mau pulang ya? kenapa malah balik lagi, heh?"
Saat pulang dari rumah sakit, Juan menerima banyak panggilan masuk dari kakaknya yang ternyata memintanya untuk pulang ke rumah.
Juan memberitahu Nadira mamahnya sedang membutuhkannya, dan Nadira pikir Juan tidak akan kembali secepat ini ke rumahnya. Nadira bahkan berpikir Juan tidak akan kembali lagi.
"Kakak gak suka aku disini?" Juan memasang wajah sok sedih. "padahal tadi aku buru - buru kesini, khawatir nanti kakak kangen sama aku."
Setiap mengingat masa lalu, Nadira tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. Nadira baik-baik saja sekarang, tapi luka dihati wanita itu masih membekas bahkan sampai detik ini.
Nadira bukan tidak mensyukuri hidupnya yang sudah lebih baik, bahkan jauh lebih baik. Tapi merasakan luka masa lalu bukan perkara tidak bersyukur, tapi karena lukanya belum sembuh.
Pada dasarnya, semua luka tidak akan terasa menyakitkan setelah luka itu sembuh. Begitu juga dengan luka dihati Nadira. Nadira tidak akan merasa sakit kalau lukanya itu sembuh.
"Eh? kenapa kakak nangis? kakak terharu aku balik lagi sampe nangis?" tanya Juan bingung.
Nadira menggelengkan kepalanya. "kakak gak nangis. Kakak gak tahu kenapa tiba-tiba mata kakak ada airnya. Tapi kakak gak nangis kok."
__ADS_1
Tangannya dengan cepat menyapu air mata itu karena tidak mau terlihat lemah di depan Juan.
Juan ikut merasakan sakit saat melihat Nadira menangis. Mata Nadira tidak bisa berbohong. Sekeras apapun Nadira menyembunyikannya, Juan bisa melihat kesedihan dari mata Nadira.
"Kakak gak haluninasi, aku disini buat kakak."
Nadira tidak bisa menahan tawa mendengar Juan yang terlewat percaya diri. "Apaan sih?"
"Ya, siapa tahu aja kakak mikir lagi halusinasi ngeliat aku disini." sahut Juan. Bukannya Juan terlalu percaya diri, tapi Juan mengatakan itu supaya Nadira tidak larut dalam kesedihannya.
"Ngaco!" Nadira kembali bermain ponsel, tapi kali ini Nadira beralih ke akun sosial medianya.
Pergerakan tangan Nadira di layar ponselnya terhenti saat sebuah tangan memeluknya dari belakang. "kakak gak halusinasi, aku beneran Juandra Adhiwijaya dan aku disini buat kakak."
"Iya - iya, Juandra. Mending kamu duduk deh."
"Aku peluk kakak sebentar lagi, kakak kangen sama aku kan?" Nadira tidak mengiyakan, tapi juga tidak mengelak. Nadira tidak merindukan Juan karena mereka baru berpisah beberapa jam, tapi Nadira membutuhkan pelukan Juan.
"Kakak gak perlu cerita apapun sama aku, aku bakal berusaha jadi orang yang paling ngertiin kakak. Jangan lama sedihnya ya kakak cantik."
Juan bingung Nadira tiba-tiba menangis. Tapi setelah melihat mata Nadira, Juan tahu kalau Nadira sedang tidak baik - baik saja. Ada luka yang tidak bisa dijelaskan dari tatapan Nadira.
Juan tidak pintar menenangkan wanita dengan ucapan, Juan hanya bisa memberikan pelukan.
__ADS_1