
Setelah menebus obat Mirna lansung bergegas kluar takut bertemu lagi dengan dokter muda yang tadi tak sengaja mencium pipinya, sesampainya di parkiran ia terburu buru menyuruh Yuni mengemudikan mobilnya menuju jalan pulang .Yuni yang merasa aneh menanyai Mirna apa yang sebenarnya terjadi.
"Lo kenapa sih mir"tannya
"Gak papa gue lupa mas Rudi nanti katanya mau makan siang di rumah"jawabnya berbohong.
"Kok makan di rumah emang kafenya kenapa kok gak makan di sana"tanya Yuni
"Katanya selain cantik aku juga ngangenin makannya dia lebih suka makan dirumah kamu kan tau rindu itu berat" jawab Mirna penuh percaya diri, Yuni yang mendengarnya hanya berdecih melihat kakaknya begitu pdnya menceritakan perkataan suaminya yang belum tentu benar
Sesampainya di rumah Yuni lansung pamit pulang karna suaminya memintanya menemaninya makan siang bersama kliennya . suami Yuni seorang pengusaha di bidang Event organizer yang menurut mirna itu tidaklah penting yang terpenting dia sudah sampai rumah.
"Bay,,"ucapnya melambaikan tangan kepada Yuni, baru akan berbalik ia mendengar suara iparnya.
"Gak ada suami bukannya di rumah malah kluyuran" sembur iparnya siapa lagi kalo bukan sari.
"Eh,, kak apa yang ketinggalan"tanya Mirna tapi di jawab ketus oleh sari.
"Emang kenapa, ini rumah orang tuaku jadi aku bebas kesini tanpa ada yang harus ketinggalan" jawabnya ketus dan berlalu tanpa menyapa keponakannya sedikitpun, bukan ia tak sayang tapi saat di depan Mirna ia malas menyapa karna ia terlalu enggan terlihat baik di depan Mirna yang menurutnya tidak selevel dengannya.
"Dasar Mak lampir" umpat Mirna dalam hati dan mengajak mbok arsi yang dari tadi diam mendengar ucapan pedas sang ipar terhadap majikannya.
Malamnya setelah shalat magrib seperti biasa suaminya akan pulang dan meningalkan urusan kafe kepada sekertarinya "Assalamualaikum"salamnya
"Waalaikumsallam"Jawab Mirna menencium tangan suaminya dengan cemberut.
"Suami pulang kok cemberut sih" goda Rudi mengacak rambut istrinya yang di balas tatapan sebal Mirna.
"Tadi habis darimana sama Windi"tannyanya ketus
"Oh habis di suruh mama nganterin Windi pulang"jawabnya tanpa merasa bersalah
"Emang sik Windi itu mobilnya dimana sampe kamu yang harus nganterin pulang?"Tannyanya ketus yang justru di sambut gelak tawa Rudi yang merasa gemas melihat Mirna cemburu.
"Haaaahaa sayang kamu cemburu ya" tanyanya mendahului Mirna masuk kamar.
"Iya lah kan aku sayang kamu mas"jawabannya jujur dan Rudi mencium bibirnya gemas.
"Ih kok cium sih aku lagi marah nih" ucapnya ketus, Rudi yang duduk di sofa menarik Mirna agar terduduk di pangkuannya dan Mirna dengan senang hati menuruti kemauan suaminya.
__ADS_1
"Dengarkan aku, tadi Windi katanya pergi ke toko mama mengunakan taksi jadi mama nyuruh aku buat nganterin dia pulang karna jarak kafe sama toko mama Deket ya aku anterin, kamu kan tau sendiri gimana mama kalo udah nyuruh" jelas Rudi panjang lebar.
"Dan kamu, darimana kamu tau aku sama Windi" Tanyanya mempererat pelukannya.
"Aku lihat pas di lampu merah menuju rumah sakit, tadi aku ngubungin kamu tapi gak di anggkat jadi aku terpaksa suruh Yuni yang nganter"jelas Mirna, Rudi yang mendengar istrinya kerumah sakit menjadi panik dan khawatir.
Ia memeriksa badan istrinya"Kamu sakit sayang"tanyanya cemas
"Bukan aku tapi bintang tadi pagi tiba tiba badannya panas" jawab Mirna dan mebuat Rudi panik dan lansung beralih melihat bintang yang tertidur pulas.
"Maafkan aku sayang, tadi pagi hpku ketinggalan dan kebetulan kafe lagi rame aku gak sempat melihat pangilanmu" sesalnya
"Iya aku mengerti sayang"jawab Mirna memeluk suaminya dari belakang.
Selesai mandi Mirna duduk menemani suaminya yang sedang memangku laptopnya dan Mirna hanya duduk melihat tanpa mengerti apa yang dilakukan suaminya.
"Sayang ayok turun ke bawah kita makan malam" ajak mirna
"Iya sebentar aku lagi ngecek pemasukan bulanan kafe yang ada di Bali" jawabnya tanpa menoleh dan setelah menutup laptopnya mereka kebawah untuk makan.
Di meja makan semua makan dengan damai, hingga selesai terlihat Rudi dan sang papa juga mamanya berkumpul di ruang tv sedang menonton tv, sedang Mirna membantu mbok arsi membersihkan meja makan sebelum ikut bergabung di ruang tv.
"Iya pa"jawab Rudi karna besok acara nikahan sepupunya Vita itu artinya ia akan libur bekerja karna seharian akan berada di acara nikahan sang sepupu.
Jam sudah menunjukan pukul 9 Rudi dan Mirna pamit masuk kamar dan di anguki mertuanya "Mir aku udah siepin baju yang akan kamu pakek buat besok, Dimas yang akan mengantarnya pagi pagi"ucap Rudi membuka pintu.
"Iya mas"Jawab Mirna senang, sesampainya di kamar mereka lansung tertidur.
Paginya setelah selesai sarapan, terdengar suara bel berbunyi ternyata yang datang Dimas sekertaris Rudi mengantarkan baju yang telah dimas siapkan untuk Mirna.
"Berdandanlah yang cantik jangan mempermalukan kluarga"ucap mertua perempuannya "Memang kapan aku mempermalukan mereka yang ada mereka yang sering mempermalukanku" batin Mirna kesal dengan perkataan mertua perempuannya.
"Iya ma" jawbnya dan berlalu mengikuti Rudi menaiki tangga untuk bersiap siap ke acara pernikahan sepupu suaminya Vita.
**
Setengah jam Rudi dan orang tuanya menunggu Mirna bersiap siap tak lama terdengar langkah kaki perempuan yang mengendong bayi gembul menuruni tangga mengenakan sepatu high heels yang tidak terlalu tinggi dengan gaun putih selutut berlengan pendek yang melekat cantik di tubuhnya, rambut panjang bergelombanngya di ikat kebelakang dan di sisihkan sedikit di samping depan telinga untuk mempercantik penampilannya ditambah kalung brlian melekat sempurna di leher jenjangnya ia terlihat sangat cantik
Rudi terbengong melihat betapa cantiknya sang istri dengan dandanan natural dan sederhana tapi begitu mempesona, Ia juga tak kalah tampan dengan setelan jas berwarna hitam yang ia kenakan dan terlihat sungguh menawan bagi setiap kaum hawa yang memandang, dan jangan lupakan bocah kecil imut yang menggunakan jas senada dengan kemeja putih yang membuatnya semakin tampan dan menggemaskan.
__ADS_1
"Dandan seperti itu saja lama sekali" gerutu mertuanya karna kesal menunggu Mirna.
"Maaf ma,,"ucap Mirna menunduk malu karna mengira dandananya kampungan. tak lama merekapun berangkat dengan mobil masing masing.
Sesampainya di acara Rudi dan keluarganya di sambut dengan ramah oleh pemilik acara, hingga acara baru akan di mulai terlihat Windi akan menghampiri mereka ia menggunakan gaun putih sepanjang mata kaki dan mempunyai belahan di sisi kiri sampai sepaha dengan gaun tampa lengan juga kalung mutiara yang menambah kesan glamournya dan jangan lupakan sepatu hak tingginya ia terlihat begitu sempurna dan cantik dengan dandanan dan riasan sedikit tebal dan juga rambut lurus sebahu yang terurai indah.
"Eh sayang kamu juga datang"sapa Mimi mama Rudi antusias menyambut kedatangan Windi.
"Iya Tante, Vitakan juga teman sekolah Windi Tan" jawab Windi tersenyum cantik tapi matanya tak lepas dari Rudi yang sedang mengendong seorang bayi tampan.
"Rudi kamu tampan sekali dan anakmu itu tak kalah tampan mirip sekali denganmu"ucap Mirna tersenyum cantiknya.
"Terimakasih kamu juga cantik" puji Rudi tidak merasa bersalah telah memuji wanita lain di depan istrinya, bagi Rudi iya memuji orang bukan hal biasa dan dia mengira Mirna tidak akan marah tapi ia tak tau Mirna sedang menyumpah serapah dirinya.
Sekita pukul 10 malam acarapun telah selesai Rudi dan keluarganya berpamitan pulang setelah menyalami sang pengantin, mama Rudi yang melihat Windi menunggu taksi meminta Rudi mengantar Windi dan Rudi yang tak dapat menolak permintaan mamanyapun mengantar Windi tapi sebelum itu ia berpamitan pada Mirna.
"Sayang aku antar Windi dulu ya, kasian dia gak bawa mobil" ucap Rudi
"Tapikan mas,,"belum sempat Mirna menyelesaikan ucapannya mertuanya sudah lebih dulu memotong "sudahlah Mirna kamu jangan manja biarkan Rudi mengntar Windi kamu pulang bareng mama dan papa"ucap mama, Rudi yang mendengar perkataan mamanya berlalu tanpa mendengar pendapat Mirna.
Setelah Rudi pergi mama mertuanya menatap tajam Mirna "Kamu itu udah miskin tak tau di untung"ketusnya berlalu masuk kedalam mobil, di ikuti sang suami. baru Mirna akan membuka pintu, mobil mertuanya tiba tiba berjalan pergi meninggalkan Mirna tanpa memperdulikan Mirna bahkan juga bintang yang ada di gendongan sang menantu.
Mirna yang melihat itu menitikan air matanya ia tak menyangka mertuanya akan Setega itu meninggalkannya dan bintang tanpa merasa kasihan sedikitpun dengan cucunya sendiri.
Mirna sungguh tak menyangka, ia mengusap air matanya ia bersumpah dalam hati akan meningalkan Rudi dan memintanya menceraikannya seperti Rudi yang tega meninggalkannya malam ini iapun akan lebih tega dari Rudi.
Dari kejauhan seseorang mengepalkan tangannya melihat Mirna di perlakukan seperti itu oleh mertuanya sendiri, baru ia akan menawari tumpangan tapi Mirna sudah lebih dulu pergi mengunakan taksi.
Mirna menanangis sesegukan supir taksi yang melihatnya tak berani bertanya dan hanya menatapnya kasihan. sesampainya di rumah Mirna lansung membayar taksi dan iapun berlari masuk, mbok arsi yang melihat itu hanya terheran heran melihat majikannya berlari menangis sambil mengendong anaknya.
Mbok arsi bingung dengan siapa majikannya itu pulang sedangkan mertuannya tidak terlihat sama sekali alias belum pulang.
Sesampainya Mirna di kamar ia menidurkan putranya di atas rannjang dan lansung mengemasi baju bajunya dan sang putra tampa tersisa sedikitpun.
Baru selesai Mirna mengemasi baju bajunya tedengar pintu kamarnya terbuka dari luar.
"Sayang kamu udah pulang mana mama dan papa"tanya Rudi karna ia tak mendapati mobil orangtuanya di garasi, Mirna yang mendengar itu lasung berbalik dan berkata "Ceraikan aku jika kau selalu menuruti perkataan mereka tanpa mengerti perasaanku" ucap Mirna menangis tanpa menjawab perkataan Rudi.
Mirna menitikan air mata mengingat kejadian kejadian sebelum perceraiannya dengan Rudi.
__ADS_1