
Rudi berjalan cepat setelah memarkirkan mobilnya, Edo papanya sampai terheran heran melihat putranya yang terlihat menahan emosi sampai tak menghiraukan panggilan darinya.
"Kenapa dia"ucap papanya heran melihat anaknya buru buru menaiki tangga.
Tak lama terdengar langkah kaki memasuki rumah. terlihat istrinya Mimi, sari dan Windi yang sedang membantu sari berjalan.
"Sari kamu kenapa?"tanya papanya heran melihat anaknya berjalan tertatih tatih di bantu menantunya Windi.
"Nanti aja nanyanya pa kaki aku sakit banget ini"ucapnya duduk di sofa di bantu Windi. "Hati hati kak"
"Itu habis bertengkar dengan Mirna dan adiknya di mall"istrinya yang menjawab.
"Keterlaluan, kita laporkan saja dia kepolisi, wanita tak tau malu" marah Edo tak terima melihat anaknya di permalukan.
"Gak usah pa semuanya udah mama atasi, papa tenang saja. mama sudah membalas mereka dengan balasan yang lebih dari apa yang di rasakan sari"jawab Mimi tersenyum jahat.
"Ma tapi ini sakit"rengek sari memprovokasi.
"Cengeng"sari yang mendengar itu lasung terdiam. tak lam terlihat Rudi menuruni tangga membawa dua koper besar di tangannya.
"Rudi kamu mau kemana"heran papanya.
"Aku mau tinggal di apartemen saja"jawabnya berjalan menuruni tangga. mamanya yang mendengar itu lasung berdiri dari sofa.
__ADS_1
"Rudi bawa masuk barang barangmu"perintah mimi tegas.
"Maaf ma tapi kali ini mama benar benar keterlaluan"jawab Rudi tak kalah tegas.
"Memang apa yang mama lakukan?. mama berbicara sesuai fakta"jawab Mimi tak mau di salahkan.
"Ya mama benar semuanya sesuai fakta dan mama selalu benar, karna itu aku ingin pindah dari rumah ini"jawab Rudi jengah dengan sikap mamanya.
"Jika kamu melakukan itu mama akan melaporkan Mirna kepolisi atas tuduhan penganiayaan"ancam Mimi.
"Terserah mama, lakukanlah apa yang mama anggap benar dan jangan harap keluarga Wijaya akan diam saja"talak Rudi tersenyum menang melihat mamanya yang tak dapat berkata apa apa. karna dia tau mamanya tak akan mungkin melakukan itu karna tau papanya pandu adalah pengacara handal dan tak akan tinggal diam melihat keluarga besannya dalam masalah.
"Rudi jika kamu keluar selangkah saja dari rumah ini papa akan,,"
"Windi bawa kopermu"perintah Rudi menyerahkan koper.
"Tapi mas,,"ragu Windi.
"Bawa kopermu atau tinggallah di sini, semua tergantung padamu"jawab Rudi santai. "Aku hitung sampai tiga. satu, dua,,"Windi yang mendengar itu panik dan lasung melihat kearah mertuanya, melihat Mimi mengangukan kepalanya ia buru buru mengambil kopernya sebelum Rudi benar benar pergi meninggalkannya.
"Tuhan sebenarnya aku takut"batin Windi, masih teringat bagaimana Rudi mengamuk padanya setelah kejadian batalnya ijab qobul malam itu.
"Bagus bawa kopermu itu sendiri"ucap Rudi
__ADS_1
"Ma, pa, kak sari saya pamit"ucap Windi sopan. Mimi dan Edo mengangguk pasrah.
"Pergilah,, kalian terlalu sibuk hingga membiarkanku terus merasakan kesakitan sendiri"usir sari karna dari tadi tak ada yang memperhatikannya, jangankan memangil dokter atau tukang urut mereka malah sibuk berdebat. tak lama terlihat Jayadi beserta istri dan anaknya memasuki rumah.
"Rud kamu mau kemana?"heran Jayadi melihat adik dan iparnya membawa koper.
"Mau tinggal di apertemen aja kak nyari suasana baru"jawab Rudi mencium keponakannya fifian anak perempuan Jayadi yang baru berumur 5 tahun.
"Om ini oleh oleh buat bintang, fifian rindu bintang tapi papa gak bolehin ketemu bintang"ucap fifian sendu, karna dulu sebelum pindah fifian dan Dika anaknya sari sangat senang bermain dengan bintang yang waktu itu masih berumur 5 bulan dan sekarang bintang sudah berumur 1 tahun 5 bulan.
"Nanti om kasih ya sayang"jawab Rudi sendu sambil mengambil dan mengusap kepala fifian lembut. inilah yang terjadi setelah Rudi dan Mirna bercerai, setiap ada saudaranya atau keponakannya memberi hadiah untuk bintang pasti melalui Rudi karna Edo dan Mimi melarang keras anak anaknya memberikan perhatian untuk bintang di depan Mirna. dengan alasan takut Mirna besar kepala dan merasa di terima dengan tangan terbuka di keluarganya, keterlaluan memang tapi itu kenyataannya.
"Kak aku pamit"ucap Rudi kepada kakanya.
"Hati hati" jawab Jayadi memandang adiknya sendu. ia tau tak mungkin adiknya itu pergi dari rumah jika tak ada alasannya, tapi ia tak bisa berbuat apa apa karna orang tuanya terlalu keras kepala. ia dan Lidya adiknya pernah mencoba menasehati orang tuannya tapi tak mendapatkan hasil apa apa jadi percuma menurtnya. memang ia akui ia dan istrinya tak begitu menyukai Mirna di karnakan tak sederajat dengan keluarganya, tapi bukan berarti dia ikut campur urusan rumah tangga adiknya berbeda dengan sari yang terlalu ikut ikutan memusuhi Mirna dengan terang terangan.
***
perbedaan waktu yang lumayan jauh antara Amerika dan Indonesia membuat dokter tampan yang baru pulang dari rumah sakit itu uring uringan di kamarnya. di lihatnya jam yang menunjukan pukul 12 malam, selain badan yang lelah karna baru sesai melakukan oprasi kepada pasiennya. pikirannya juga begitu lelah karna sudah tiga hari ini dia selalu kepikiran dengan Mirna, di tambah lagi angle yang tak henti hentinya menggangu hidupnya.
"Mir kamu sedang apa"ucapnya mengusap benda persegi yang di layarnya terpampang wanita cantik dengan senyum indah merekah di bibirnya. "Andai move on bisa sehari mungkin saat ini aku sedang hepi hepi hore menikmati hidup" tanggannya beralih mengusap foto mirna tepat di area bibirnya. "Kamu dan Angel membuatku kurang yakin dengan ketampanan wajahku, tapi jika aku tidak tampan lalu mengapa banyak wanita rela mengantre untuk menjadi kekasihku"ocehnya lagi terkekeh geli dengan perkataannya sendiri.
"Mir mir, entahlah apa kurangnya aku"ucapnya sendu. "Aku juga bingung begitu banyak wanita cantik bahkan lebih cantik tapi entah kenapa jantungku berdetak kencang saat pertama kali melihatmu di rumah sakit. bahkan hatiku sangat sakit melihatmu di perlakukan dengan keji oleh mertuamu di pernikahannya Vita malam itu"ucapnya lagi teringat kejadian malam di mana dengan teganya orang tua Rudi meninggalkan Mirna dan Bintang di tempat acara pernikahan vita berlangsung.
__ADS_1
"Aku bahkan tak habis pikir ada manusia setega itu di dunia ini, tak suka dengan menantunya malah ikut mengacuhkan cucunya"ia menghela nafas panjang, mengecup foto mirna lama. "Aku mencintaimu mir entahlah sampai kapan rasa ini akan tetap ada. andai aku dapat memutar waktu, aku akan menemukanmu lebih cepat, mencintaimu lebih awal dan tak akan menyia-nyiakan mu"ucapnya menarik selimut ingin mengistirahatkan tubuhnya dalam lelap agar tak ada lagi beban yang ia rasakan untuk sesaat sebelum malam berganti pagi.