Tak Sampai

Tak Sampai
Isi hati mirna


__ADS_3

Mirna Dan yuni berbaring menatap langit-langit kamar, sehabis makan malam setelah Mirna menidurkan bintang tiba tiba Yuni masuk tanpa mengetuk pintu seperti biasanya.


"Apa Lo ikhlas gitu,, ngelepasin mas Rudi gitu aja"tanya Yuni, setelah mendengar cerita dari kakanya bahwa ia telah meminta izin dan menyelesaikan masalahnya dengan Rudi.


"Memang apa yang harus aku lakukan"jawab Mirna.


"Ya setidaknya lo rebut kembalilah mas Rudi, setelah itu lo buang dia ke laut. Enak aja setelah giniin kluarga kita dia seneng seneng aja idupnya"ucap Yuni mengebu gebu.


"Apa aku harus seperti itu"jawab mirna enteng.


"Wih mulutmu itu loh mir, kayak gak sakit aja tuh hati"ucap Yuni kesel sendiri dengan kakaknya yang mudah sekali memaafkan Rudi.


"Sakit, lalu aku harus apa? Jika aku bertahanpun itu akan semakin sakit dan sulit"jawab Mirna menghela nafas.


"Ya setidaknya balas mereka seperti apa yang mereka lakukan"ucap Yuni makin kesal dengan sikap kakaknya.


"Kamu tau bahkan aku ingin membunuhnya, karna dia dan keluarganya aku bahkan menjadi omongan tetangga tetangga"Mirna menghembuskan nafasnya. "Aku bahkan malu keluar rumah jika harus berjalan kaki seperti biasanya ke rumah bang Suryo"terang Mirna.


"Nah itu tau, bales dong mereka"ucap Yuni memprovokasi.


"Mereka bahkan menyakiti hatiku dan mempermalukan kluarga kita"


"Nah bales dong"Yuni semakin memanasi.


"Aku bahkan malu kluar rumah dan menatap matahari terbit yang seakan menertawakan ketololanku"jawab Mirna


"Nah itu kamu tau, makannya aku udah bilang mir, bales aja mir bales"semangat Yuni memprovokasi.


"Lama lama Lo mirip seseorang deh Yun"ucap Mirna memiringkan badannya menghadap adiknya yang berbaring di sebelahnya.


"Mirip siapa"tanya Yuni merapikan rambut dan mengusap mukanya centil. "Apa mirip Pevita Pearce"Yuni tersenyum manis mengahadap kakaknya.

__ADS_1


"Bukan"jawab Mirna


"Oh,, Selena Gomez"


"Bukan"


"Lisa black pink"


"Bukan"


"Mirip Natasha Wilona"


"Bukan"


"Maudy Ayunda"


"Bukan"


"Terus mirip siapa ini bukan itu bukan"kesal Yuni.


Yuni yang mendengar itu memalingkan badanya sebal. "ih Mirna jahat"


"Habis kamu sih"


"Aku kenapa"


"Suka memprovokasi"jawab Mirna.


"Ihss,, aku tu kayak gini tu karna sakit hati sama perlakuan mereka"ucap Yuni mengubah posisi baringnya menjadi terlentang.


"Iya aku tau"jawab Mirna

__ADS_1


"Nah,,, kalo tau"ucap Yuni.


"Aku hanya tak ingin terus seperti ini, siapa yang tak sakit hati berada di posisiku bahkan bukan sekali mereka menyakitiku. Aku hanya tak ingin terus mendendam"jawab Mirna


"Kamu tau apa alasanku tak pernah bisa membenci mas Rudi"tanya Mirna kemudian.


"Kenapa?"jawab Yuni penasaran.


"Karna aku pernah bersamanya, satu selimut bersama, susah senang bersama, berbagi bersama. Aku pernah menangis di pundaknya, aku pernah tertawa karenanya, aku juga pernah bahagia di sisinya, aku pernah menjadi wanita yang membanggakannya, aku pernah merasa menjadi wanita paling beruntung memiliki dia, meski sekarang aku tak merasakan itu lagi. aku pernah menjadikan dekapannya tempat ternyaman di tubuhku, menjadikan bahunya tempat bersandar, Aku pernah merasa terlindungi olehnya, aku pernah menjadikannya raja di hidupku."Mirna menjeda kalimatnya."kamu tau aku pernah menjadi wanita bersedih saat melihat kesedihan di matanya, aku bahkan menjadi wanita paling rapuh saat melihat keputus asaan di wajahnya, dulu aku pernah begitu saaangat sangat mencintainya. Mereka yang tak pernah di posisi aku mungkin akan sangat menggap bahwa aku ini sangatlah bodoh, tapi mereka tidak tau karna mereka tidak pernah merasakan. kamu tau? Aku mudah memaafkan kesalahan apapun itu, tapi sulit melupakan rasa sakitnya. Tapi bukan berarti itu menjadi alasan untuk aku terus berdendam dan membencinya"lanjut mirna.


Yuni tertegun mendengar perkataan kakaknya itu, dia tak menyangka Mirna yang dulu di kenalnya sangat konyol dan kekanakan akan menjadi sedewasa ini.


"Hemm,, baiklah aku harap semuanya akan baik baik saja"ucap Yuni akhirnya.


"Kau tau yun,, apa yang di pandang orang mudah belum tentu mudah untuk kita, justru apa yang di lihat orang sulit bahkan mudah untuk kita. Aku tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya, aku hanya berharap semua akan baik baik saja"Mirna menghela nafasnya.


"Apa lo bener bener gak mau balikan sama mas Rudi, apa lo bener bener udah ngikhlasin dia"tanya Yuni


"Aku mungkin tidak ikhlas melihat dia bahagia dengan orang lain, setelah apa yang udah dia lakuin, tapi aku akan lebih tidak ikhlas lagi buat kembali bersamanya, sudah cukup rasa sakit tidak untuk menambahnya."jawab Mirna tersenyum.


"Menangislah"ucap Yuni beralih memeluk kakaknya dengan posisi masih berbaring.


"Apa kau bercanda untuk apa aku mengis"jawab Mirna, akan tetapi matanya tak sejalan dengan ucapannya.


"Aku lelah Yun, aku gak bisa kayak gini terus aku telah kehilangan harapan. Seandainya tidak ada bintang aku mungkin tidak akan sekuat ini, apapun untuk bintang, aku melakukan ini semua untuk bintang yun. Meski aku dan mas Rudi berpisah bintang gak boleh kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuannya, sudah cukup keegoisanku selama ini hingga menjadikan putraku korban. Aku tidak mau membah dengan cara memusuhi papannya, di sini bukan hanya kesalahan mas Rudi tapi juga kesalah kami berdua yang tidak sama sama belajar dari kesalah"tutur Mirna sesegukan.


"Aku yang meminta cerai dari mas Rudi, padahal aku yang mengajaknya menikah. Bukankah aku telah egois? aku mencintainya tapi aku menyakitinya, Aku yang memaksanya aku juga yang melepaskannya. Aku yang gagal mempertahankah rumah tanggaku, aku yang gagal mempertahankan mas Rudi. Jika aku menyalahkan Windi dia tak sepenuhnya salah di sini, oke dia memang berusaha mendekati mas Rudi tapi jika aku sebagai perempuan tidak menyerah di tengah jalan semua tak akan terjadi. Aku yang menginginkan perpisahan karna terlalu lelah bertahan, aku terlalu lemah"Isaknya pilu.


"Kamu kuat mir"Yuni ikut menitikan air mata melihat kakaknya begitu rapuh.


"Tapi nyatanya aku tak sekuat itu"

__ADS_1


"Bersabarlah, semua pasti ada jalanya. aku harap suatu saat nanti kamu bisa menemukan pengganti yang lebih baik dari mas Rudi"ucap Yuni mencoba menenangkan kakaknya. Mirna yang mendengar itu teringat akan seseorang yang begitu ia rindukan kehadirannya saat ini.


"Will aku rindu kamu"


__ADS_2