
Mirna memasuki rumah dengan terburu buru bukan ia tak mendengarkan perkataan William yang mengatakan belanjaannya ketinggalan, hanya saja dia sangat malu dan bahkan sangat kesal dengan semua yang dikatakan pria yang menurutnya sangat sangat tidak waras itu.
"Mirna di mana William nak tadi dia ibu suruh menyusulmu kepasar"tanya sang ibu
Mirna sekarang tau penyebab tingkah menyebalkan William. "Apa tadi dia melihatku dan kak Irpan"batinya menduga duga.
"Oh William ada di belakang Bu aku akan mandi dulu suruh Yuni membantu ibu memasak"jawabnya berlalu memasuki kamar, dan terlihat William membawa kantung belanjaan yang begitu banyak sambil cengar-cengir.
"William kamu terlihat bahagia sekali di suruh membawa belanjaan sebanyak itu"tanya Yuni heran
"Yuni kamu itu tak sopan sekali dari mbakmu, suamimu Bahakan sekarang William yang jauh lebih tua darimupun kamu hanya panggil nama" tegur ibunya yang di balas cengiran oleh Yuni
"Bu tidak apa apa tidak masalah untukku selagi dia masih memanggilku dengan wajar" ucap William
"Tuhkan Bu dia saja tidak apa apa, oh ya William apa kamu sangat bahagia membawa belanjaan sebanyak itu"tannya Yuni mengulang pertanyaan yang tadi tak di jawab William.
"Akukan baik hati dan tidak sombong jadi aku bahagia bahagia saja"jawabnya tersenyum ibu yang melihat itu tidak heran karna sudah biasa mendengar kenarsisan William.
"Sombong" ucap pandu pelan tapi masih bisa di dengar
"Kamu salah ini bukan sombong tapi kenyataan"jawabnya menekan kata kenyataan.
"Iya kenyataan sombong"ucap Yuni menimpali dan semua yang ada di ruangan itu tertawa.
Mirna keluar dengan rambut di ikat kuda, baju kaos lengan pendek di padukan celana longgar. meski berpenampilan sederhana tapi ia tetap terlihat cantik meskipun natural tanpa makeup.
"Apa bang Suryo dan mbak cahya sudah datang"tanya Mirna kepada Yuni yang sedang menata makanan di meja makan.
"Mereka belum datang, seksi kamu lama sekali mandinya" jawab Yuni skaligus bertanya.
"Aku sekalian sholat tadi udah azan juga, kamu saja yang lama masaknya"jawab Mirna sambil membantu ibu dan adiknya itu menata makanan.
__ADS_1
"Eh mbakeee bukan lama tapi inikan banyak"ucap Yuni
"Sudah sudah kalian ini ribut sekali"sela ibunya, Mirna dan Yuni lasung terdiam mendengar teguran ibunya hingga terdengar suara salam dan di jawab semuanya.
"Eh bapak juga, pantes lama ternyata sama Abang pulangnya" tanya Yuni melihat bapaknya yamg mengendong bintang.
"Iya tadi sekalian biar ada temen ngobrol"jawab bapak
"Bintang sini sayang sama Tante cantik" ucap Yuni mengambil bintang dari gendongan bapaknya, baru saja di gendong Yuni bintang yang melihat William melangkah kearahnya tertawa antusias.
"Papapapp will" ucap bintang berceloteh
"Sini sayang sama papa" senyum William mengambil bintang dari gendongan Yuni dan menciumnya gemas.
"Bu Aldi kok belum nyampe juga"tanya Cahya yang sedang menata piring pada ibu mertuanya.
"Paling sebentar lagi nyampe nak"jawab ibu tersenyum.
"Assalamualaikum" terdengar salam dari luar rumah yang di jawab Waalaikumsallam semuanya. melihat siapa yang datang, mereka tersenyum bahagia melihat Aldi yang sudah satu tahun setengah tak pulang, ia hanya pulang untuk menghadiri pernikahan adiknya Yuni dan paginya berangkat lagi kejakarta .
"Abang aku rindu sekali"ucap Yuni memeluk kakaknya itu "Abang juga rindu"jawabnya memeluk adiknya, mereka bergiliran memeluk Aldi dan terakhir Mirna yang akan memeluknya dengan mata yang berkaca kaca.
"Bang adek rindu sekali"ucap Mirna menangis. Mirna adik yang paling dekat dengan semua kakaknya ,Yuni juga dekat tapi tidak sedekat Mirna itulah yang membuat Yuni kadang iri melihat kedekatan para saudaranya dengan Mirna.
"Abang juga rindu sekali"jawabnya mengecup kepala Mirna lama dan mencium kedua pipi adik perempuannya itu, dia sangat sedih dulu saat Mirna melahirkan dia tidak bisa pulang karna tugas kuliahnya begitu menumpuk dan saat berceraipun ia tak dapat menemani adik kesayangannya karna alasan yang sama, ia hanya menyemangati adiknya itu melalui pesan.
"Aku jadi iri"ucap Yuni yang di sambut gelengan kepala semuanya.
"Kau mau di cium biar sini aku yang cium"ucap pandu mencium pipi istrinya tampa malu dan mereka semuanya tertawa.
"Abang cium aku juga"pintanya pada Aldi
__ADS_1
"Sini Abang cium manja sekali kamu ini apa sudah ada calon keponakan Abang di perutmu"tanya Aldi mencium adiknya lama
"Akukan masih kecil"jawabnya cemberut, ia tak mau terburu buru hamil jika di kasih Alhamdulillah jika belum bersabar saja, apa lagi suaminya tidak mempermasalahkan itu hanya saja yang menjadi masalah ibu mertuanya sering menyinggung masalah cucu tapi itu tak masalah selama masih dalam batas wajar dan tampa melukainya dengan kata kata kasar pikirnya.
"Iya kamu masih kecil baru lulus TK"ucap Aldi yang di sambut gelak tertawa semuanya melihat Yuni semakin memonyongkan bibirnya sedang pandu hanya menunduk sedih.
"Hy keponakan om Aldi, ganteng sekali mirip siapa sih? mirip om Aldi ya"ucap Aldi mengambil bintang yang sudah tertidur dalam gendongan William dan menciumnya gemas.
"Kamu pasti William yang sering di ceritakan Yuni"tebak Aldi pada laki laki yang kira kira beda dua tahun dengannya itu, ya Aldi seumuran dengan pandu.
"Iya apa Yuni menjelek jelekan aku di depanmu"tanya William curiga
"Tentu tidak dia hanya mengatakan kamu tampan dan sering mengoda Mirna"jawab Aldi
"Sayang kau benar benar memujinya?"tanya pandu cemburu mendengar Yuni memuji peria lain.
"Tuan posesif aku hanya bercanda kamulah yang paling tampan sejagat raya"jawab Yuni sebelum keposesifan suaminya kambuh mereka yang melihat Yuni takut melihat suaminyapun tertawa sekerasnya.
"Sudah mari masuk kamu pasti lelah dan lapar"ucap Suryo karna ia tau adiknya itu pasti capek dan kelaparan habis perjalanan jauh.
"Abang memang selalu mengerti aku"senyum Aldi berlalu mengendong bintang masuk kedalam kamar Mirna untuk membaringkan keponakannya setelah itu keluar menuju ruang makan.
"Bang biarku ambilkan makanannya"tawar Mirna
"Sudah ambilkan saja untuk William biar Abang abmbil sendiri saja"goda Aldi
"Ihh Abang juga ikut menyeblkan"Ucap Mirna cemberut yang di jawab gelak tawa semua yang ada di ruang makan itu. siang itu mereka menghabiskan waktunya dengan banyak tertawa.
"Sayang aku tak suka mencium aroma masakan ini sungguh baunya menyengat aku ingin muntah"Ucap pandu, mereka yang mendengar perkataan pandu sama sama terdiam sampai William berbicara.
"Jangan jangan kamu hamil Yuni" tebak William dan mereka semua semakin terdiam berfikir, tak lama kemudian semuanya sama sama tersenyum bahagia menharap apa yang William katakan benar.
__ADS_1