
Mirna memarkirkan mobilnya di toko baju bertingkat yang lumayan besar, bahkan masih pagi saja tokonya sudah rame. "Pantas aja Abang banyak uang selain buka cabang di mana mana tokonya juga rame"batin Mirna memasuki toko baju kakaknya sambil mengeratkan gendongan anaknya.
Baru masuk Mirna sudah di sambut ramah para karyawan toko sebagian ada yang ia kenali sebagian lagi terlihat asing di karnakan selain penambahan pekerja ada juga sebagian yang berhenti bekerja karna alasan tertentu.
"Mbak Mirna"sapa Riri kariawan kakanya yang sudah lama bekerja bersama kakanya.
"Mbak Riri"balas Mirna menyapa dengan sopan meskipun kariawan dia tetap menyapa dengan sopan.
"Mbak Mirna udah lama sekali gak kesini, itu anaknya ya"tanya Riri.
"Iya mbak"jawab Mirna tersenyum.
"Ganteng namanya siapa"sapa Riri mencubit pipi bintang gemas.
"Intang ante"jawab bocah 18 bulan itu tersenyum memamerkan giginya yang belum tumbuh semua.
"Pinter sekali"puji Riri
__ADS_1
"Ya udah mbak aku masuk dulu tadi Abang persen suruh aku gantiin dia soalnya dia ada kuliah pagi"ucap Mirna pamit.
"Iya mbak"jawab Riri, Mirna berjalan menuju ruangan kakanya. para kariawan Aldi menyapanya dengan ramah karna sebelumnya Aldi sudah memberi tau bahwa pagi ini adiknya yang akan menggantikannya di toko.
*
*
"Win pindahin barang barang kamu ke kamar"Ucap Rudi setelah selesai makan, Windi yang mendengar itu terdiam takut salah mendengar. Rudi hari ini sengaja tidak berangkat bekerja dan berdiam diri di rumah karna ia ingin membantu istrinya memindahkan barang barangnya ke kamarnya.
"Win, kamu denger saya?"tanya Rudi melihat Windi hanya diam saja.
"Pokus dong win"tegur Rudi pelan yang membuat Windi tertegun karna tidak seperti biasanya Rudi berbicara lembut kepadanya, biasanya Rudi akan memarahinya jika dia tidak mendengar atau salah sedikit saja.
"Maaf mas"jawab Windi menundukan kepalanya.
"Nanti saya akan bantuin kamu pindahin barang barang kamu kalok udah selesai makan"ucap Rudi.
__ADS_1
"iya mas"jawab Windi gugup dan buru buru menghabiskan makanannya.
Seperti perkataannya Rudi membantu Windi membereskan barang barangnya untuk di pindahkan kekamarnya, karna mulai hari ini Rudi akan coba menerima Windi kembali seperti perkataan Mirna kepadanya, ia akan berusaha menerima Windi sebelum ia menyesal kemudian hari sama seperti penyesalannya karna di tinggal Mirna dan bintang anaknya.
"Mas biar yang itu biar aku saja"ucap Windi buru buru mengambil pakaian dalam miliknya yang belum di sentuh Rudi, meski ia pernah tidur dua kali dengan Rudi tapi ia tetap merasa malu terlebih dari pertama menikah hingga usia pernikahan mereka memasuki bulan ke empat Rudi selalu kasar kepadanya dan itu membuatnya tak ingin terlalu percaya diri bahwa Rudi benar benar mau menerimanya kembali.
"Baiklah baiklah celannaa dalam sobek"goda Rudi tersenyum geli, sedang Windi menundukan kepalanya malu dengan muka dan telinga yang merah merona. bisa bisanya suaminya itu mengungkit celannna dalamnya yang sobek di saat seperti ini, terlebih Rudi baru baru ini memperlakukannya dengan baik.
"Mas Rudi jangan di ingetin lagi"protes Windi pelan sedang Rudi hanya tertawa cekikikan, ia ingin mengalihkan rasa rindunya kepada Mirna dan bintang sejenak. karna Setip malam ia tak bisa berhenti memikirkan mantan istri dan anaknya itu.
itu juga alasannya mencoba berdamai dengan keadaan ia tak ingin terus terpuruk dan ujung ujungnya memaksa Mirna menerimanya kembali, ia terlalu malu melakukan itu setelah semua kesalahan yang ia lakukan terlebih lagi ia tak ingin merusak kebahagiaan mantan istrinya itu, mungkin dengan mencoba mengikhlaskan mereka berdua akan sama sama bahagia meskipun mungkin akan sangat sulit karna semua butuh proses.
"Ya sudah bereskan semua dalamanmu aku tunggu di sini"ucap Rudi merebahkan badannya di ranjang yang hampir sebulan sering di gunakan Windi karna semenjak tinggal di apartemen mereka tidur terpisah.
Windi segera membereskan semua dalamnya ke dalam kotak kecil agar nanti tinggal di pindahkan ke dalam lemari, setelah itu ia beralih ke meja riasnya dan memasukan semua peralatan makeupnya juga memasukan apa saja yang akan ia bawa ke kamar suaminya itu.
"Mas aku udah selesai tinggal di bawa kekamar kamu aj.."ucapannya terpotong melihat suaminya itu sudah tidur terlelap dengan tenangnya di atas ranjang.
__ADS_1
Windi melangkahkan kakinya mendekati ranjang, mengambil selimut dan menruhnya di atas tubuh Rudi yang tertidur dengan damainya. Setelah selesai menyelimuti tubuh suaminya Windi memandangi wajah tampan nan damai itu, mengusap pelan alis tebalnya lalu turun ke kedua mata indah milik suaminya makin ke bawah di usapnya pipi kemudian tangannya semakin berani mengusap lembut bibir tebal merah Nan seksi itu. Baru akan mencuri kecupan di bibir suaminya ia tertegun mendengar suara Rudi. "Mir jangan tinggalin aku"
deg..