
Mirna menangis sejadi jadinya menumpahkan rasa sakit bercampur rasa malu yang ia terima untuk kesekian kalinya dari orang yang sama yaitu Rudi dan keluarganya.
"Kamu menyakitiku lagi mas"Isaknya pilu memukul dadanya yang kini terasa sesak.
Siapa yang tak sakit hati, saat ia bertekad memperbaiki hubungannya bersama mantan suaminya justru penghinaan dan rasa malu yang teramat sangat yang ia dan keluarganya dapatkan.
"Kenapa mas, kenapa?"ucapnya menggengam ujung kain kebayanya. "Mengapa untuk yang kesekian kalinya kamu melakukan ini padaku? hatiku sakit dan hancur, aku bahkan sangat malu dengan hari esok dan seterusnya. aku memang bodoh tak seharusnya berharap pada orang yang sama untuk kesekian kalinya. aku memang bodoh seharusnya aku tau diri di mana tempat dan posisiku, dari dulu hingga sekarang aku tetap sama tak dapat menggapaimu. aku memang sangat bodoh menaruh harapan yang besar padamu, aku bodoh bahkan ini untuk kesekian kalinya aku sakit karnamu, seharusnya aku tau posisiku" ucapnya meraung semakin kuat menggengam ujung kebayanya menagis pilu dengan hati yang hancur.
hingga tak lama terdengar dering hp berbunyi ia coba meraih benda persegi panjang itu dan melihat siapa yang menghubunginya ternyata rudi. dengan amarah yang meluap luap Mirna melempar benda itu ke lantai kamarnya dengan sangat keras hingga pecah.
"Aaaaaaaaaaaaa,,sakit sekali tuhan " teriaknya menangis mengacak rambutnya frustasi bahkan riasannya sudah tak berbentuk lagi.
__ADS_1
Mendengar terikan Mirna, orang tuanya dan semua yang ada di ruang tamu semakin terisak pilu tak tau harus melakukan apa, ingin masuk dan menengkan tapi mereka tau Mirna sedang ingin sendiri. "Maafin Abang Mirna"batin Suryo semakin merasa bersalah.
**
Di tempat lain, Rudi semakin frustasi karna panggilannya tak di jawab oleh Mirna. Sesampainya di rumah tanpa perduli dengan keluarganya yang terus menceramahinya ia berusaha menhubungi mantan istrinya. baru ia akan melakukan panggilan lagi mamanya lansung merebut hpnya.
"Rudi kamu menghubungi wanita murahan itu lagi"Erang mamanya marah.
"Pa ma apa salah Mirna kepada kalian? apa salah bintang putraku kepada kalian?, hingga kalian tega melakukan ini semua kepada keluarga kecil kami"tanyanya menangis.
"Kurang baik apa dia kepada kalian, saat kalian mencela bahkan mencacinya ia hanya terdiam menunduk. salah apa dia kepada kalian sehingga kalian begitu membencinya?. dia bahkan dengan sabar mengurus kalian, memasak untuk kita, mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. bahkan dia hanya diam saja saat dengan teganya kalian memecat semua pembantu di rumah ini karna alasan ingin melihat tanggung jawab Mirna pada kluarga ini. kalian bahkan dengan sengaja menumpahkan kopi yang ia buatkan untuk kalian di hari pertama ia menunjukan baktinya sebagai menantu, di mana hati nurani kalian. selama ini aku hanya diam melihat bukan berarti aku tak sakit hati melihat kalian memperlakukan istriku seperti sampah"
__ADS_1
"Dimana hati kalian saat dengan teganya kalian selalu mempermalukannya di setiap acara kluarga, bahkan di setiap acara yang kita datangi. mengapa kalian sangat jahat kepanya? apa salahnya ? .ia hanya ingin menunjukan baktinya, tapi kalian malah mencela dan mencacinya. aku bahkan tak percaya kalian manusia, bagaimana perasaan kalian jika kalian berada di posisinya bagaimana perasaan mama dan papa jika kak sari atau kak Lidya yang menjadi Mirna"Isaknya pilu dengan air mata yang memenuhi pipinya, mereka hanya terdiam tak dapat berkata apa apa. sedang Windi dan Lidya menangis mendengar keluh kesah Rudi.
"Aku bahkan hanya diam saat kalian mengatakan ia tak berguna, mandul, bahkan banyak lagi cacian yang kalian lontarkan kepadanya. bahkan bukan hanya Mirna, kepada bintang yang jelas jelas cucu kalian darah dagingkupun kalian tak Sudi menyentuh atau menggendongnya, untuk menyapa putrakupun kalian tak sudi, menanyai kabarnya saja kalian tak pernah, apa kalian punya hati?. selama ini aku hanya diam bukan berarti tak sakit hati tapi karna rasa bakti dan hormatku pada kalian aku diam dan selalu menyakitinya, hingga aku kehilangan wanita yang sangat aku cintai karena ulah kalian . karna kebodohanku yang selalu membiarkan ia menangis terisak seorang diri"lanjutnya pilu. ia melihat kearah kluargnya yang hanya terdiam tanpa ada yang berbicara dan menyahut perkataanya.
"Kalian tau Mirna tak pernah meminta harta dariku ia hanya ingin aku melindunginya, tapi aku gagal aku gagal menjadi imam, menjadi pundak tempatnya bersandar kala ia menangis pilu, saat kalian menyakitinya dengan lapang ia tersenyum dan melayani kalian tapi justru saat itu kalian juga dengan lapang membentak dan mencaci makinya"
"Ma pa apa kalian pikir aku bahagia dengan semua ini, apa kalian pikir aku bahagia dengan kemewahan dan kesuksesan yang aku terima?. kalian salah aku tak pernah bahagia, untuk apa semua yang aku miliki jika tak bisa melindungi orang yang aku sayang, untuk apa semua yang aku miliki jika tak bisa membuat istri bahkan anakku bahagia ini semua percuma, kekayaan yang aku miliki tak bisa membuatku bahagia"lanjutnya menangis.
Semua yang ada di ruangan itu hanya terdiam merenungkan perkataan Rudi, ada sedikit rasa bersalah dan sesal di hati mereka. karna ini untuk yang pertama kalinya Rudi menangis pilu seperti ini. Rudi yang melihat mereka hanya terdiam berjalan menghapus air matanya yang terus saja mengalir, ia melangkah menaiki tangga kamarnya dengan hati yang teramat sakit.
Sesampainya di kamar ia lansung mengunci pintu, baru ia membuka laci mencari foto pernikahannya dengan Mirna yang ia simpan di dalam laci kecil lemari rias mantan istrinya itu, tapi justru bukan hanya foto yang ia temukan melainkan diary yang ia duga pasti milik Mirna mantan istrinya.
__ADS_1