
"Apa yang kalian lakukan"
Mirna dan Rudi yang mendengar itu melihat ke arah sumber suara. "Windi, kamu di sini"ucap Rudi tergagap sedang Mirna semakin memeluk Rudi erat.
"Ma,,maaf, maaf aku akan keluar"ucap Windi tergagap, dengan mata berkaca kaca. baru akan berbalik Mirna menghentikan langkahnya.
"Tunggu"
mendengar ucapan Mirna, Windi tak jadi melangkahkan kakinya.
"Apa kita bisa bicara berdua"tanya Mirna.
"Ta,,, tapi"
"Jangan terlalu banyak berfikir"potong Mirna
"Baiklah"jawab Windi pada akhirnya. karna ia juga ingin minta maaf, jika Mirna dan Rudi memang akan bersatu dia akan mencoba mengikhlaskan pikirnya.
"Mir apa yang kamu lakukan"bisik Rudi di telinga Mirna. Windi yang melihat itu terasa terbakar hatinya, tapi dia mencoba bersikap baik baik saja, meski matanya tak dapat berbohong bahwa saat ini ia ingin sekali menangis.
"Sudahlah mas, kamu tenang saja aku tak akan berbuat jahat kepada istrimu"bisik Mirna semakin mengeratkan tangannya di pinggang Rudi, sengaja memanas manasi Windi.
"Tapi Windi"
"Tuhkan apa aku bilang, ini yang namanya tak ada rasa. cih"sindir Mirna masih berbisik.
"Baiklah baiklah, aku akan keluar jangan memperebutkanku ya"goda Rudi akhirnya mengalah.
"Cuih, pedenya kamu mas"jawab Mirna. Rudi yang akan melangkah keluar, berhenti sejenak di hadapan Windi yang terlihat tak mau memandang ke arahnya. dia menghela nafas dan benar benar berlalu keluar dari ruangannya.
"Duduklah"printah Mirna seperti tuan rumah yang mempersilahkan tamunya duduk, Windi yang mendengar itu ikut saja dengan apa yang di perintahkan Mirna.
__ADS_1
Lama mereka terdiam dan akhirnya Mirna membuka suara."Eheeem,, Windi bagaimana kabarmu"ucap Mirna pada akhirnya menatap ke arah Windi yang terus menundukan kepalanya.
"Baik"jawab Windi canggung.
"Windi kenapa kamu terus menundukan kepalamu, bukankah dulu saat menjadi pelakor di rumah tanggaku dan mas Rudi kamu terlihat begitu percaya diri"sindir Mirna akhirnya. merasa heran dengan wanita di depannya ini, dulu saat berbuat jahat perasaan dia angkuh sekali pikirnya.
Windi yang mendengar itu semakin di buat malu dengan tingkat kepercayaan dirinya dulu, dan pada akhirnya hanya sikap acuh yang dia dapatkan dari laki laki yang begitu dia cintai yang dengan tega berusaha dia rebut dari wanita di depannya ini.
"Maafkan aku"ucapnya pelan
"Apa aku tidak mendengarnya"jawab mirna sengaja.
"Mirna aku minta maaf"ucap Windi pada akhirnya mengangkat kepalanya.
"Nah gitu dong angkat kepalamu, kau tau saat menundukan kepalamu aku merasa seperti majikan kejam"jawab Mirna
"Mirna, aku minta maaf karna dulu berniat merebut mas Rudi darimu"ucap Windi menatap dalam mata Mirna.
"Kenapa kamu melakukan itu"tanya Mirna, jujur rasanya ia ingin memakai wanita menyedihkan di depannya ini. tapi ia sadar mereka sama sama di posisi menyedihkan hanya levelnya saja yang berbeda.
"Cihhh,,, tak bisa hidup tanpa dia, tapi kamu meninggalkannya di saat dia jelas jelas lebih memilih kamu di bandingkan aku"ketus Mirna.
"Aku melakukan itu karna aku ingin dia bahagia, tidak terbebani dengan penyakitku"jawab Windi
"Tapi ujung ujungnya kamu membebaninya juga kan"Windi yang mendengar itu terdiam karna membenarkan perkataan Mirna.
"Entahlah alasan apapun yang kau katakan, aku tetap tak membenarkan perbuatanmu. bagaimana jika kamu yang ada di posisiku, kita sama sama perempuan tapi aku tak akan setega kamu merayu laki laki yang sudah beristri dan mempunyai buah hati. di mana otakmu saat kamu melakukan itu, entahlah hatimu juga terbuat dari apa hingga kamu setega itu"ucap Mirna tak habis pikir dengan wanita di depannya ini. sedang Windi hanya terdiam mendengar setiap kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Mirna.
"Aku sebenarnya sangat ingin memakai bahkan memukulmu saat ini, tapi sudahlah percuma juga aku melakukan itu"Mirna menghela nafasnya lalu memegang tangan Windi. "Jagalah mas Rudi baik baik agar tak ada manusia model dirimu yang mengodanya" mendengar itu bukanya tersingung Windi justru bingung.
"bukankah kamu dan mas Rudi akan kembali bersama lagi"jawab Windi heran.
__ADS_1
"Kau pikir aku akan kembali, menerima dia untuk yang ketiga kalinya setelah kalah dua kali darimu?, ambilah saja bekasku itu seperti dulu kau mengambilnya dariku. mungkin ini saatnya aku berhenti mengharapkan mas Rudi dan menata hidup lebih baik lagi, aku lelah berjuang tanpa di perjuangkan"jawab Mirna.
"Tapi mas Rudi tidak mengharapkanku lagi"jawab Windi
"Bukan tidak mengharapkan hanya saja dia masih bingung dengan perasaannya sendiri"ucap Mirna
"Tapi dia seringkali kasar padaku"jawab Windi
"Memang apa yang kau harapkan, mas Rudi baik padamu setelah apa yang telah kau lakukan. tentu saja rasa sayangnya padamu kalah dengan rasa benci atas perbuatanmu itu"ketus Mirna
"Aku tidak apa apa jika kalian ingin kembali bersama lagi"jawab Windi
"kamu memang tidak apa apa, tapi aku yang apa apa. mudah sekali mulut pelakormu itu mengatakan tidak apa apa setelah aku benar benar berniat melepaskan mas Rudi untukmu"ucap Mirna ngegas.
"Maaf untuk semua yang telah aku lakukan"jawab Windi dengan mata berkaca kaca. tidak menyangka wanita yang telah ia sakiti akan sebaik ini, rasanya Windi semakin menyesali perbuatannya.
"Aku bukan mengalah ya, tapi aku hanya tak mau memungut sampah yang sama untuk kesekian kalinya"ucap Mirna ingin menangis juga melihat mata Windi yang berkaca kaca.
"Apa aku boleh memelukmu"tanya Windi menangis haru.
"Apa pelakor sepertimu tidak malu memeluk wanita yang telah kau rebut suaminya"ketus Mirna di sela tangisnya.
Tanpa perduli dengan perkataan Mirna Windi memeluk wanita itu erat. "Terimakasih, kamu sangat baik"jawab Windi menangis.
"Tentu saja aku sangat baik, memangnya aku kamu, sangat jahat"ucap Mirna membalas pelukan Windi tak kalah erat.
"Aku bersalah padamu"
"kamu baru sadar bahwa kesalahanmu sangat banyak padaku"ucap Mirna. "Tapi ya sudahlah, karna aku sangat baik aku akan belajar memaafkanmu meski mungkin sulit tapi aku tak ingin menyimpan dendam terlalu lama. mungkin ini petunjuk Tuhan bahwa mas Rudi memang bukan laki laki yang tepat untuk ku perjuangkan"ucap Mirna tulus sedang Windi semakin menangis tersedu sedu.
"Sekali lagi terimakasi"jawab Windi
__ADS_1
"Pesanku,, jagalah mas Rudi baik baik jangan sampai dia melirik perempuan lain lagi. kau tau bukan dia sangat suka lirik sana lirik sini, kebiasaan buruknya itu membuatku selalu naik darah. bila perlu potong saja itunya biar jika tak ada itunya dia tak mencari anu yang lain lagi"pesan Mirna tertawa di sambut tawa juga oleh Windi.
"Tuhan aku bersalah pada wanita ini, berilah ia kebahagiaan"batin Windi.