Tak Sampai

Tak Sampai
Sebelum perceraian 2


__ADS_3

Semenjak percakapan mereka di kamar itu Rudi masih mendiamkan Mirna, ia bingung dengan istrinya mengapa istrinya tak mengerti juga dan terus ingin pindah rumah. iya Rudi emang gitu selau ingin di mengeti dan tak mau mengerti, ia memang cuek tapi tidak sepatutnya ia pun cuek masalah istrinya .


Seisi rumah terlihat sedang menyantap makanan dengan tenang hingga terdengar suara sang papa berbicara.


"Rud tadi papa ketemu Windi" Ucap lelaki paruh baya berumur 55 tahun itu tanpa memikirkan prasaan menantunya.


"oh ya, bukanya ia masih di luar negri ya pa?"sahut Rudi tanpa memikirkan perasaan Mirna.


Mirna hanya diam saja mendengarkan, menahan hatinya yang sakit mendengar suaminya menanggapi pernyataan sang papa perihal sang mantan. Windi dan Rudi putus karna Windi memilih kuliah di luar negri mengikuti papanya yang bekerja di sana entah kerja apa Mirna tidak tau dan tidak mau tau.


"Katanya sih udah pulang tiga hari lalu, dia makin cantik saja"ucap Edo papanya rudi terkekeh, sedang Mimi mamanya Rudi hanya diam mendengarkan. dia memang terlalu cuek dengan berbagai urusan selain kerja dan kerja.


"Dia emang udah cantik dari dulu pa"jawab Rudi terlihat antusias menyambut perkataan sang papa sekali lagi tanpa memikirkan prasaan mirna yang mengumpatnya dalam hati"Dasar mata buaya"umpat Mirna dalam hati karna ia tak berani berkata terus terang.


"Uhukk" Mirna pura pura batuk,, tapi ketiga manusia itu hanya diam saja jangankan Rudi berinisiatif mengambilkan minum menengok saja tidak, mungkin ia masih marah perihal permintaan Mirna di kamar. memang malang nasibmu Mirna.


Selesai acara makan mereka melanjutkan dengan menonton tv, sedang Mirna membantu bibik membersihkan piring kotor dan meja makan. sesekali ia mencuri pandang ke arah suaminya siapa tau diperhatikan pikirnya, tapi memang nasibnya saja yang malang dilirikpun tidak.


Oh tuhan suaminya itu kalo tidak sayang mungkin sudah di tendang dari dulu entah apa kesalahannya di masalalu hingga ia menanggung semua di masa sekarang mirnapun tidak tau.

__ADS_1


Selesai membersihkan sisa makanan Mirna ijin masuk duluan kepada suami dan mertuanya" Mas ma pa aku duluan ke kamar" jangankan ada yang menyahut melirik saja tidak ada. "Dasar keluarga busuk" batin Mirna kesal ya Mirna hanya berani membatin.


Dilangkahkan kakinya menaiki kamarnya di lantai atas, ia memaki dalam hatinya. bercalan cepat menghapus air matanya yang keluar tanpa di minta sambil mengumpat ngumpat dengan suara pelan.


"Apa apaan mereka selalu saja begitu tidak pernah memperdulikan ku di kiranya aku jin apa"omel Mirna dengan suara pelan, sedangkan mbok arsi yang melihat majikannya di abaikan merasa sangat kasihan. dia tadi melihat bagaimana acuhnya kluarga Rahardian kepada menantunya itu.


"Kasihan ibu, padahal dia baik, cantik, pinter masak dan sopan tapi kok di gituin" pikir mbok arsi belum tau sifat asli dan kejahilan Mirna. dan mbok arsi pun berlalu setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Sedang Rudi dan papanya terlihat mengobrol seputaran Windi, siapa lagi kalok bukan Windi menantu idaman sang papa.


"Ma kira kira Windi masih mau gak ya sama Rudi". tanya Edo kepada istrinya yang terlihat sedang memangku laptopnya.


Sedangkan di balkon kamar terlihat seorang wanita dengan baju tidur berlengan pendek sedang melamun memikirkan nasib pernikahannya, bukan sekali dua kali ia di banding bandingkan dengan si windi itu tapi ia hanya diam saja lalu di mana sang suami tentu saja ia juga ikut serta menyahuti dengan antusias.


Kadang ia berfikir apa salahnya terlahir kurang berada masih banyak orang yang lebih tidak mampu darinya tapi hidup bahagia, kadang ia sedikit menyesali meminta Rudi cepat cepat menikahinya hingga ia dikira tak tahan hidup sederhana oleh kluarga suaminya.


"Huhhh nasib nasib"ucapnya memasukan roti kedalam mulutnya, ia mendongak melihat bulan dan bintang. "Kalo tau gini mending dulu aku tolak saja pacaran sama mas Rudi" pikirnya tapi nasi sudah menjadi bubur.


"Kalok tidak ingat bintang aku tinggal juga tu suami" selorohnya pelan sambil cekikikan karna perkataannya sendiri, alias mencoba menghibur diri.

__ADS_1


"Aku juga tidak jelek jelek amat meski gak cantik banget tapi lumayanlah gak ngembosenin di pandang mata" selorohnya lagi cekikikan.


"Kira kira kalok janda dapet perjaka gak ya" tanyanya tertawa pada diri sendiri


Bukan tanpa alasan ia memikirkan itu dulu pas sudah dua tahun lebih menikah ia tak kunjung hamil ia menjadi cibiran kluarga suaminya, sekarang pas sudah punya anak masih saja menjadi cibiran pikirnya kenapa dulu nggak di kasih nama Biran aja biar cocok sama nasibnya pikirnya lagi.


Setelah bosan ia masuk kedalam kamar mendapati sang suami yang tidur tengkurap. "Kapan masuknya" pikirnya karna ia tak mendengar langkah atau pintu di buka dari luar. Tama mau banyak berfikir ia merebahkan diri di samping suaminya, baru akan memejamkan mata ia mendapati tangan suaminya melingkar di perut rampingnya.


"Maafkan aku"ucap Rudi mempererat pelukannya.


"Aku gak suka kamu terus ngmbahas pindah rumah kamu kan tau aku gak mau ninggalin mama sama papa"ucapnya lagi menindih sang istri dan mengecup keningnya lama. "Aku sayang kamu" lanjutnya. "sangat sangat sayang tapi aku gak bisa milih antara kalian maafkan aku" sesalnya menciumi kedua kelompok mata sang istri yang hanya terdiam mendengarkan.


Mirnapun memeluk pinggang suaminya erat ini yang membuatnya terus bertahan menerima hinaan dan cacian kluarga suaminya, pelukan Nayaman ini, dekapan ini, wangi tubuh ini, kehangatan ini, ini yang membuatnya bertahan. Mirna gampang luluh dengan rayuan sederhana suaminya cukup memeluknya saja ia akan luluh, ya ya ya wanita memang tempatnya haus, haus akan belain juga pujian cukup peluk saja ia akan bahagia.


"Aku cinta kamu mas" ucap Mirna mencium bibir suaminya.


"Aku juga cinta"jawab Rudi menyambut ciuman istrinya merasakan manis dan lembut bibir istrinya, ia melepaskan pangutannya saat ia melihat istrinya kesusahan bernafas. mereka terkekeh bersama, setelah itu ia menyamping dan mendekap istrinya erat sambil sesekali mencium puncak kepalanya.


"Tidurlah sayang"ucap Rudi lagi, ia tak bisa membayangkan hidupnya tanpa Mirna di sisinya wanita yang selalu sabar menghadapinya dan keluarganya. dia bukannya tidak tau kelakuan kluargnya tapi ia juga tak tau harus bagaimana, ia terlalu takut melukai prasaan keluarganya termasuk mama papa yang sedari dulu selalu memanjakannya.

__ADS_1


Dia tak ingin berpisah dari keluarganya, ia tak bisa meninggalkan mama dan papanya karna dulu ia pernah berjanji kepada dirinya sendiri, apapun yang terjadi ia tak akan meninggalkan kediaman orang tuanya yang telah membesarkannya. tapi ia tak tau jika keputusannya itu berakibat ia kehilangan kluarga kecilnya.


__ADS_2