
Kini umur bintang sudah memasuki satu tahun dan itu artinya sudah tujuh bulan Mirna menjada, kini bintang sudah mulai bisa berjalan dan makin aktif.
pagi sekali rumah Mirna sudah kedatangan tamu siapa lagi kalau bukan Yuni dan suaminya Pandu yang biasa di panggil bang caaem sama Yuni karna memang suaminya itu ganteng, umurnya juga masih muda baru 24 tahun beda dua tahun dengan Mirna selain tampan dia juga sopan berbanding terbalik dengan Yuni yang sikapnya nauzubillah.
Selain mereka berdua juga terlihat pemuda tampan yang sedang menyeruput kopi buatan ibu Maheswari, dia adalah William Wijaya dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sepupu pandu yang baru 8 bulan di tugaskan sang ayah menjadi dokter di rumah sakit milik keluarganya sendiri.
"Kopi buatan ibu enak sekali"puji wiliem yang duduk bersebelahan dengan pandu seraya tersenyum melihat ibu mertua sepupunya itu.
"Eh nak pandu bisa aja" jawab ibu tersenyum yang lasung di sahuti sang bapak "nak William benar sekali selain cantik dan pintar memasak istri saya memang pintar menyeduh kopi" puji bapak yang di tanggapi tawa semuanya dan senyum malu malu ibu.
Setengah jam mereka bergurau dan tertawa william izin buang air kecil pandupun mengantar sepupunya itu menuju kamar mandi di dekat kamar mertuanya.
Di rumah itu hanya kamar mirna,Aldi dan Yuni saja yang mempunyai kamar mandi di dalam kamar.
Meski tidak kaya raya kluarga mirna juga cukup berada terbukti dengan kebun teh dan kebun singkongnya yang lumayan luas mereka cukup berpenghasilan dari kebun yang mereka miliki tapi mereka tetap sederhana dan rendah diri tidak sombong dengan apa yang mereka miliki.
Sebelum membuka pintu ia menunduk mengambil konci mobilnya yang terjatuh saat ia akan memasukannya ke dalam kantong. bersamaan dengan itu kamar mandi terbuka dari dalam menandakan ada orang yang telah menggunakan kamar mandi, William mendongakan kepalanya dengan badan yang masih membungkuk menghadap kedepan.
"Wahh mulusnya" ucap William ternganga dan tanpa mengedipkan matanya. Mirna yang mendengarkan ada orang berbicara reflek menunduk kebawah dan alangkah terkejutnya ia melihat Wiliam sedang mendongakan kepalanya keatas tepat di pahanya yang mulus tanpa tertutup handuk yang ia kenakan.
Karna kesal Mirna menendang dagu William dengan lututtnya hingga terdengar suara mengaduh dari William yang lansung memegang dagunya yang terasa cenat cenut dan sangat sakit.
__ADS_1
"Siapa kamu " tanya Mirna dengan suara keras, memegang erat handuk di bagian dadanya takut akan terlepas William yang mendengar itu lansung terbangun sambil memegang dagunnya.
"Tolong kecilkan suaramu nona" pinta William dengan suara memohon.
"Nona nona matamu, aku akan berteriak biar seisi rumah ini tau bahwa ada kamprettt mesummm menyelinap masuk dirumahku" suara Mirna keras menatap William tajam.
"Entah siapa namamu aku mohon kecilkan suaramu aku takut nanti di kira ngapain ngapain kamu"mohon William lagi sambil menatap tubuh seksi Mirna "Kesempatan lihat yang mulus"batinnya.
Mirna yang menyadari bahwa William sedang memperhatikan tubuhnya lasung saja tanpa babibubebo ia menedang pusaka William dan berlari seraya mengumpat kasar. "Setannn alassss beraninya dia memandang tubuhku dengan mata mesummnya itu"umpat Mirna yang masih bisa di dengar oleh William.
Sedang William menyandar di dinding kamar mandi memegang pusakanya yang sakit luar biasa, matanya terlihat merem melek menahan kenikmatan yang luar biasa hadiah pertemuan yang tak akan terlupakan dari Mirna.
"Ohh shittt, pusakaku sakit sekali tuhan"ucapnya ingin menangis menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Sungguh memalukan"ucapnya seraya mengikat rambutnya yang telah sisir, tak lupa memakai bedak tipis dan memoles bibirnya dengan lipstik yang semakin mempercantik bibir seksinya dan iapun berlalu keluar kamar.
"Hy seksiii" sapa Yuni yang melihat kakaknya keluar dari kamar akan tetapi tak tanggapi Mirna yang buru buru ingin kluar menjemput anaknya di rumah kakaknya Suryo.
"Mirna duduk dulu sini"pagil ibunya mau tak mau Mirna ikut duduk di ruang tamu.
"kenapa buk aku mau jemput bintang di rumahnya bang suryo" ucap Mirna menatap ibunya tapi tidak di tanggapi.
__ADS_1
"Nak William kenalin anak ibu Mirna kakaknya Yuni, Mirna kenalin itu William sepunya pandu iparmu"ucap ibu tersenyum, Mirna yang melihat kearah Willian terkejut melihat siapa yang duduk di samping adik iparnya itu karna tadi ia tak terlalu memperhatikan tamu yang ada di rumahnya.
"Mirna"ucap Mirna pura pura tersenyum padahal rasanya ia ingin mencekik mati laki laki itu sekarang juga, tapi ia tak melakukannya karna ia tak ingin orangtuanya tau apa yang terjadi tadi di depan kamar mandi williampun mennyambut tangan Mirna dengan senang hati"William" ucapnya mencolek telapak tangan Mirna dengan telunjuknya dan tersenyum genit, Mirna yang menyadari itu serasa keluar tanduk dari kepalanya.
"Beraninya monyettt ini melecehkanku" pikirnya kesal iapun segera melepaskan tangannya tapi William sengaja semakin mempererat pegangannya ia sangat suka melihat wajah merah Mirna yang kesal.
Orang tua Mirna yang melihat itu merasa heran ada apa dengan anak dan sepupu menyatunya pikirnya, sedangkan Yuni dan pandu hanya tersenyum geli melihat kilat amarah dari Mirna dan senyum jahil William.
"Bu, yah aku jemput bintang dulu ya"pamit Mirna berdiri
"gue ikut"sahur Yuni berdiri "Sayang ayo Kamu juga ikut sekalian kita ngambil singkong di kebun bang suryo" ucap Yuni menarik suaminya mau tak mau pandu bangun daripada mendengar istrinya yang super duper cerewet itu berbicara panjang lebar.
"Will ayo ikut"Ajaknya merekapun pamit kepada bapak dan ibu.
Diperjalanan Mirna hanya diam mendengarkan Yuni yang berceloteh sesukanya sedang pandu dan William tertawa dan sesekali meladeni ocehan konyol sang Yuni.
"Mir diam Bae takut gincumu pudar ya kalo ngomong" selorohnya tertawa mendorong bahu Mirna keras, Mirna yang tak seimbang hampir terjatuh tapi William lansung menangkapnya sesaat mata mereka beradu pandang "jantungku "batin keduanya sampai Mirna mengalihkan pandangannya dan williampun membantu Mirna berdiri
"Yuni Lo itu ngeselin banget sih" kesal Mirna berjalan cepat, ya mereka berjalan kaki karna rumah kakaknya hanya berjarak berberapa meter dari rumahnya mereka hanya perlu melewati lima rumah tetangga dan sampai.
"Ya elah mbak gitu aja kok marah" ucapnya kesal dan berjalan cepat mendahului Mirna William dan pandu hanya geleng kepala melihat kelakuan kakak beradik itu.
__ADS_1
Setelah melewati gang kecil sampailah mereka di rumah sang kakak yang sederhana tapi terlihat sangat indah, rumah yang tidak terlalu besar tapi sangat rapi dan cantik dengan di kelilingi bunga mawar di sisi kiri gerbang dan bunga melati di sisi kanan gerbang. selain itu pemandangan kebun teh yang dapat mereka lihat dari halaman rumah juga kebun singkong yang tumbuh subur di tambah angin sepoy sepoy yang menyejukan hati.
Mereka membuka gerbang kecil yang tak terkuci itu, lagi lagi mata di buat takjub dengan pemandangan yang ada di halaman rumah. bunga berbagai jenis yang tumbuh cantik dan terawat di sisi kiri terlihat pohon jambu air yang buahnya sudah matang dan di sebelahnya pohon mangga yang berbuah lebat dan di sisi kanan terlihat ayunanan beserta kursi kayu yang lengkap dengan mejanya dan di depannya terdapat taman kecil dengan bunga cantik berbagai warna. pemandangan yang menyejukan jelas terlihat di rumah kakaknya Suryo.