
"Huhhhh"
Mirna menghela nafas, berusaha tenang dan mencoba menahan air matanya. dia juga bingung, mengapa selalu merasa lemah saat berhadapan dengan peria yang satu ini.
"Maaf"ucap Rudi pelan.
"Berhentilah memintaa maaf aku bosan mendengarnya"jawab Mirna
"Masalah ijab qobul,, kamu tau? aku menerimamu kembali karna begitu merasa bersalah padamu dan bintang, aku merasa menjadi manusia paling jahat di dunia. aku merasa terlalu membesar besarkan masalah, hanya karna masalah sepele aku meminta cerai padamu. setiap hari, bahkan setiap malam aku di hantui rasa bersalah, merasa menjadi manusia yang begitu kejam. aku hanya ingin memberikan bintang orang tua yang lengkap, aku takut kelak dia menanyakan mengapa orang tuanya terpisah sedang teman temannya mempunyai orang tua yang lengkap. tapi aku salah, aku salah mengira kamu berfikir sama sepertiku. ternyata di sini hanya aku yang merasa bersalah, sedang kamu bersenang senang dengan istri barumu"ucap Mirna pada akhirnya meluapkan isi hatinya.
"Mir kamu salah jika mengira aku bahagia, aku tak pernah merasa bahagia saat kehilanganmu. aku sangat mencintaimu"jawab Rudi tak terima dengan perkataan Mirna.
"Apa berbohong juga cara kamu mencintaiku"ucap Mirna
"Aku melakukan itu karna aku tak mau kamu sakit hati dan kehilangan kamu untuk yang kesekian kalinya"jawab Rudi frustasi.
"Tapi kamu justru kehilangan aku, menyakitiku"ucap Mirna "Aku kecewa padamu"lanjutnya.
"Mir bisakah kamu melupakan masalah itu, aku akan melepaskan Windi tapi aku mohon kembalilah padaku"pinta Rudi
"Apa pernikahan hanya lelucon bagimu mas"tanya Mirna tak habis pikir.
"Mir aku tak tau harus bagaimana lagi, aku hanya ingin kamu dan bintang kembali padaku. aku takut kehilangan kalian"jawab Rudi.
"Tapi kamu telah kehilangan aku dan bintang mas. semua terjadi karena kamu yang tak pernah berusaha menjaga apa yang menjadi milikmu dengan baik"ucap Mirna
"Aku tau aku salah mir, apa tak ada lagi kesempatan untukku"harap Rudi
"Kesempatan keberapa yang kamu inginkan mas, tidak cukupkah kesempatan kesempatan yang pernah aku berikan padamu"jawab Mirna.
"Mir aku menyesal"ucap Rudi memelas.
"Penyesalan memang selalu datang terlambat"jawab Mirna.
"Aku akan menceraikan Windi dan kembalilah padaku aku mohon"ucap Rudi untuk yang kesekian kalinya. "Aku menikahi Windi karna paksaan orang tuaku".
__ADS_1
Mirna berdecak "Kau memang tak akan berubah"ejeknya.
"Tapi aku janji setelah kamu kembali, aku akan lebih tegas. aku janji"ucap Rudi
"Sudahlah mas kita sudahi saja hubungan kita sampai di sini, mari kita besarkan bintang bersama sama"jawab mirna pada akhirnya.
"Apa kamu benar benar tak mau kembali padaku"tanya Rudi
"Biarkan begini saja, ikatan yang di awali dengan kebohongan memang tak akan berakhir baik mas. sekali berbohong maka akan tertutupi dengan kebohongan yang lainya lagi, maka biarkan saja seperti ini"jawab Mirna, bahkan saking tegangnya percakapan mereka hingga mereka melupakan makanan dan minuman yang tersaji di atas meja.
"Mir berikan aku kesempatan sekali saja"pinta Rudi
"Berhentilah meminta kesempatan mas, karna setiap kesempatan yang aku berikan kamu balas penghianatan"tegas Mirna
"Tapi aku janji akan berubah"jawab Rudi
"Berhenti mengobral janji mas"ucap Mirna
"dan satu lagi berusahalah menerima Windi, hargai dia sebelum kamu kehilangan semua orang yang menyayangi kamu"
"Kamu mencintainya melebihi aku, tanyakan pada hatimu. jika kamu tak mencintainya kamu tak mungkin menyakiti aku hanya demi dia yang tidak kamu cintai"ucap Mirna meyakinkan Rudi.
"Lelucon apa yang kamu katakan, aku hanya mencintaimu mir, hanya kamu tak ada nama orang lain selain kamu di hatiku"sergah Rudi tak terima mendengar perkataan Mirna yang mengatakan dirinya mencintai Windi.
"Tanyakan pada hatimu mas, yang ada di hatimu saat ini hanya rasa bersalah dan obsesi. kamu begitu mencintai Windi karna aku bisa melihat semua itu dari matamu"ucap Mirna
"Kamu jangan menyimpulkan sesuatu sendiri seperti ini mir"jawab Rudi
"Dan kamu tidak harus mengelak dengan rasa yang ada di hatimu"ucap Mirna
"Aku tak ada rasa lagi dengan Windi"jawab Rudi
"Pernah ada rasa dan rasa itu tak pernah hilang bukan"ucap Mirna lagi memojokan Rudi, karna ia tau laki laki di depannya ini tak akan mau mengakui perasaannya yang sebenarnya.
"Aku membenci Windi, karna dia aku kehilangan kamu"jawab Rudi masih mengelak.
__ADS_1
"Berhenti menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri mas"geram Mirna dengan manusia yang satu ini. terus menyalahkan orang lain tanpa mau mengintrospeksi dirinya.
"Terimalah dia kembali, kejar dia seperti kamu mengejarnya waktu kalian pertama kali bertemu"ucap Mirna
"Aku hanya mencintaimu"jawab Rudi masih menyangkal.
"Rasa bersalah bukan cinta, berhentilah merasa bersalah padaku mas. mari kita besarkan bintang bersama sama. kejarlah Windi seperti dulu kamu selalu mengejarnya saat kalian SMP hingga SMA bukankah kamu dulu lebih memilih dia di banding aku"Mirna mencoba mengingatkan Rudi.
"Dari mana kamu tau"tanya Rudi
"Darimananya itu kamu tak perlu tau, yang kamu harus tau bahwa hati kamu masih mencintai Windi. percaya padaku"jawab Mirna meyakinkan. sedang Rudi hanya terdiam mematung mencerna semua perkataan Mirna.
Memang benar meski dia berusaha membenci Windi, tapi tetap saja di lubuk hatinya yang paling dalam dia tak bisa benar benar membenci perempuan itu. cinta pertama di masa sekolah menengah pertama hingga menengah atas. dulu dia sangat mencintai Windi, jatuh cinta pada pandangan pertama. bahkan ia menerima tawaran menikahi Mirna karna masih terlalu kecewa dengan Windi yang tiba tiba memutuskan hubungan dengannya.
"Mas, dengarkan aku. Apapun kesalan windi di masa lalu cobalah menerima dia yang sekarang, aku lihat dia juga menyesali perbuatannya"ucap Mirna menggenggam tangan Rudi. jujur saat ini hatinya sedikit kecewa, tapi biarlah semua berakhir pikirnya, dari pada nantinya mereka akan semakin saling menyakiti.
"Jaga dia, mulai sekarang belajarlah menghargai apa yang telah kamu miliki, jangan menyia nyiakanya seperti yang kamu lakukan dulu kepadaku. cukup aku saja yang merasakan sakit karenamu, jangan tambah lagi korban keegoisanmu. belajarlah dari masalalu, apa yang kita inginkan tak selamanya akan kita dapatkan. cukup syukuri saja apa yang ada di dekatmu sekarang. bahagialah mas"ucap Mirna berkaca kaca, menggenggam tangan Rudi semakin erat.
"Apa aku boleh memelukmu"pinta Rudi
"Tentu saja,,kemarilah"jawab Mirna merentangkan tangannya.
Rudi yang mendapat persetujuan dari Mirna beranjak bangun dan memeluk perempuan yang pernah menemani hari harinya ini dengan perasaan haru pilu. ia tak menyangka gadis konyol yang pernah menjadi istrinya itu telah tumbuh menjadi wanita dewasa. masih teringat di benaknya bagaimana Mirna mengajaknya menikah, memaksa adiknya Yuni untuk menggantikan dirinya sebagai perempuan yang akan di jodohkan dengan pandu. dengan cara mengancam keluarganya akan membunuh dirinya sendiri jika di paksa menerima perjodohan dengan kelurga wijaya. bahkan wanita yang satu ini rela mengorbankan keluarganya hanya demi dirinya.
Bohong jika ia tak menyesal kehilangan Mirna, bahkan ia sangat menyesal melepaskan bongkahan permata di pelukannya ini. wanita baik dan penyabar rela berkorban demi dirinya, hanya saja sungguh tak tau malu jika dia terus memaksa Mirna bertahan dengannya. dia sadar telah berbuat kesalahan yang begitu besar pada perempuan yang ada di pelukannya ini. dan sekarang saatnya untuk mereka saling mengikhlaskan.
"Maafkan aku, aku memang akan melepaskanmu. tapi izinkan namamu terus tersimpan dan menempati tempat khusus di hatiku"ucap William mencium kening Mirna lama.
"Aku juga minta maaf mas, jika selama menjadi istrimu pernah berbuat salah secara sengaja atau tak sengaja kepadamu"jawab Mirna yang akhirnya mengeluarkan air mata yang dari tadi ia tahan.
"Jangan menangis,, Mirna Wulandari berjanji lah kamu akan bahagia"bisiknya pelan berusaha menahan tangisnya.
"Aku akan bahagia mas,, aku janji"jawab Mirna menangis dan semakin mengencangkan pelukannya.
Tiba tiba pintu terbuka dari luar. "Apa yang kalian lakukan" Mirna dan Rudi yang mendengar itu melihat kearah sumber suara dan..
__ADS_1
deg...