Tak Sampai

Tak Sampai
Tampan terlihat dari sedotan


__ADS_3

Mirna melambaikan tangannya kepada bocah yang sedang di suapi makan kakak iparnya Cahya, ia tersenyum melihat pemandangan yang menyejukan hatinya. sang putra yang terlihat makan dengan lahap sesekali tertawa di bangku taman sedang kakaknya Suryo terlihat menanam bunga di sisi taman yang belum penuh.


"Hay sayang" sapa Mirna melambaikan tangannya, Cahya yang melihat itu tersenyum dari kejauhan melihat adik iparnya yang ia tau akan menjemput anaknya.


Cahya dan Suryo memang belum di karuniai anak di usia pernikahan mereka yang mau memasuki lima tahun, karna itu untuk menghilangkan rasa sedihnya ia setiap selesai melakukan shalat subuh selalu menyempatkan diri menjemput keponakan suaminya untuk ia ajak bermain setelah ibunya Mirna menyerahkan susu yang sudah di perahnya.


"Mir kebetulan kamu datang, ajak Yuni sama suaminya ke belakang rumah ngambil singkong buat di rebus mbakmu nanti"perintah Suryo "Eh Mirna kamu sama siapa itu anakmu belum selesai minum susu udah ada pacar baru saja kamu ini"ledek kakaknya Suryo tertawa melihat pria tampan yang berada di samping Mirna.


"Kak ini sepupunya pandu, kakak apa apain sih"Kata Mirna kesal


"Calon suami kamu juga gak papa dek udah boleh kok"ucap Suryo yang di sambut gelak tawa semuanya, kecuali William yang terlihat tersenyum dan Mirna yang berlalu kesal menuju belakang rumah.


"Hy kampret kamu berdiri saja itu cabut pohon singkongnya dong"ketus Mirna yang melihat William hanya berdiri melihatnya mencabut pohon singkong.


"Aku tidak mengerti caranya"jawab William bingung yang justru di sambut galak oleh Mirna. "Lalu kamu taunya cara apa?"tanya Mirna kesal


"Jangan bilang kamu cuman tau cara mesum saja"tanyanya lagi dengan tatapan sinis, William hanya garuk garuk kepala melihat mata permusuhan dari Mirna iapun meliihat kearah pandu dan mencoba melakukan seperti yang pandu lakukan.


"Mbak esnya dong,haus nih" ucap yuni mengipasi wajahnya dengan tangan karna kecapekan mencabut singkong tadi.

__ADS_1


"Iya bentar"jawab Cahya dan tak lama kemudian terlihat ia keluar membawa jus buah naga yang ia sengaja petik di belakang rumah.


"Wah seger dan muantap mbak"puji pandu yang di setujui semuanya.


"Mir yang kecil tadi anakmu ya"tanya William kepada Mirna.


"Keppoo" jawab Mirna ketus sembari meminum jusnya dan William hanya menngaruk tengkuknya yang tidak gatal mendengar jawaban Mirna


"Mir kamu sama William tolong ambilkan panci besar di dapur dan isi dengan air nanti kita ngerebus singkongnya di luar aja pakek kayu bakar"perintah Cahya karna ia biasa merebus singkong dengan kayu bakar.


"Iya MBK "Jawanya berlalu di ikuti William di belakangnya.


Di dapur sesekali William mencuri curi pandang kepada Mirna. Mirna yang menyadari itu bertanya dengan ketus kepada William "Kenapa,,? aku cantik ya"tanynya ketus dan williampun terkekeh geli mendengar Mirna yg begitu percaya diri.


"Sini bantuin dong dan jangan ngeliatin aku terus nanti mata mesummu itu ku congkel dengan pisau, baru tau rasa kamu"ketus Mirna dan williampun membantu Mirna mengangkat panci dengan senyum indah yang merekah di wajah tampannya.


Setelah setengah jaman mereka berkutat dengan singkong kini singkong rebusnya siap di sajikan, mereka berenam duduk di taman memakan singkongnya, setelah singkong yang mereka sajikan hampir habis terdengar suara adzan Zuhur berkumandang dan merekapun melaksanakan kewajiban bersama sama.


Suryo dan Cahya berlalu masuki kamar untuk beristirahat Yuni dan pandu yang melihat itupun segera memasuki kamar tamu untuk beristirahat, tidak lupa ia menyuruh kakaknya Mirna mengantarkan William ke kamar tamu yang berada di paling ujung rumah, Mirna yang akan menolak lasung ia urungkan melihat adiknya itu sudah berlalu menutup pintu.

__ADS_1


Mira yang kesalpun menunjukan jalan menuju ruang tamu yang paling ujung di rumah itu, sebelum berlalu William tiba tiba menarik pergelangan tangannya.


Mirna reflek menabrak dada bidang William dan mendongak ia terhipnotis dengan ketampanan William. bagaimana tidak hidungnya mancung rahangnya keras,bibir yang merah alami dan tidak terlau tebal terlihat begitu menggoda untuk di cium, matanya yang berwarna agak kecoklatan dipadukan dengan bulu mata lentik sunguh memikat untuk di pandang. belum lagi bentuk pahatan wajahnya yang sempurna di tambah rambut yang ter tata rapi, membuat mata tak akan bosan memandang begitupun dengan Mirna saat ini. ia hanya memandandang wajah William tanpa berkedip sedikitpun. Wiliam yang menyadari itu sedikit mencondongkan wajahnya ke bawah, mirnapun reflek menutup matanya. baru sebentar ia terperangah mendengar kalimat yang keluar dari mulut peria tampan itu.


"Mirna apa aku terlalu tampan sampai kamu tak berkedip sedikitpun"tanya William polos. Mirna yang mendengar itu membuka matanya dan mendorong William mundur seraya menjauhkan tubuhnya dari dekapan pria itu.


Mirna yang melihat tatapan bingung William menjadi kesal entah karna apa, atau mungkin karna william tidak jadi menciumnya, Mirna yang menyadari itu mengelengkan kepalanya seraya berkata. "Ya kamu memang tampan bahkan sangat tampan jika dilihat dari sedotan" ketus berlalu meninggalkan William yang hanya terbengong mendengar jawabannya.


"Dia marahkah padahal aku belum minta maaf"ucap William bingung, tadi ia menghentikan Mirna untuk minta maaf soal insiden yang terjadi tadi pagi di kamar mandi tapi yang ia dapatkan hanya kata ketus dari Mirna.


Mirna yang sudah berada di ruang tv menerutuki kebodohannya, ia merasa sangat malu menutup mata seperti wanita murahan saja pikirnya. karna lelah ia merebahkan diri di kursi panjang ruang tv karna sudah tak ada kamar lagi yang bisa ia tempati dan tak lama iapun tertidur.


***


Di sisi lain terlihat peria yang sedang bekerja dengan seriusnya sambil sesekali menyeruput kopi lalu melihat laptopnya lagi. dia Rudi mantan suami Mirna, sudah empat bulan ia tidak mengunjungi anaknya selama itu ia hanya mengirimi anaknya uang bulanan.


Bukannya tak rindu hanya saja ia tak sanggup terlalu sering melihat mantan istrinya di sana, ia masih merasa sakit hati dan sedih mengingat Mirna yang meminta cerai tanpa tau sebabnya, yang ia lakukan beberapa bulan ini hanya bekerja dan bekerja sesekali menemani Windi makan, kesalon,dan ke mall atas permintaan orang tuanya.


"Lama lama aku jenuh juga menuruti perkataan mama dan papa"Keluhnya frustrasi.

__ADS_1


Bagaimana tidak baru 7 bulan ia dan Mirna bercerai orang tuanya sudah menyuruhnya menikahi Windi, sedangkan hatinya masih saja kalut ia tak bisa melupakan bayang bayang Mirna yang telah menemaninya dari SMA hingga ia lulus kuliah dan menikah.


Ia rindu sifat penurut dan manja istrinya, mengingat itu ia rasanya frustasi memikirkan istri dan anaknya yang sudah tak ada di sisinya. di ambilnya konci mobil di atas meja dan berlalu keluar ruangan setelah menghubungi sekertarisnya.


__ADS_2