
Mirna mengerjapkan matanya menatap atap atap kamar yang kini ia tempati, di bukanya pelan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Huhhhh" ia menghela nafas lega karna pakaiannya masih utuh di tubuhnya.
"Apa aku di kamar William lagi" batinya, dan alangkah terkejutnya dia melihat William berada di sampingnya dan memeluk erat pinggang rampingnya.
"William apa yang kamu lakukan"ucapnya berteriak dan menendang William keras hingga terjatuh.
"Aaauuww shiittt, Mirna apa yang kamu lakukan ini sakit sekali"ucap William memegang bokongnya.
"Apa apa justru aku yang bertanya apa yang kamu lakukan padaku" Jawab Mirna berkacak pinggang.
"Oh tuhan Mirna aku hanya tidur di sebelahmu gak ngapa ngapain"ucap William mengulurkan tangannya, Mirna yang melihat itu mengulurkan tangannya akan membantu William berdiri tapi justru William menariknya hingga ia jatuh ke pelukan William.
"Aku pasti akan merindukan momen ini, biarkan aku memelukmu sebelum kamu kembali bersamanya"ucap William memeluk Mirna erat, Mirna yang posisinya duduk di pangkuan William membalas pelukan William tak kalah erat.
"Mirna jantunggku terus berdebar saat bersamamu, berjanjilah kamu akan bahagia meski bukan dengan aku, berjanjilah kamu tidak akan menangis lagi " lanjutnya, Mirna hanya diam tak menjawab perkataan William dia hanya memeluk erat William dan menyembunyikan air matanya.
Lama mereka berpelukan dalam posisi duduk Mirna yang sudah merasa lebih tenang melepaskan pelukannya dan bangun dari pangkuan William. hening sejenak hingga terdengar suara.
"Will kamu juga harus berjanji akan bahagia walau bukan denganku"ucap Mirna
"Baiklah aku akan bahagia" jawab William
"Will aku akan pulang ini sudah mau sore aku takut bintang mencariku"ucap Mirna
__ADS_1
"Pulanglah"jawab William
"William apa aku boleh menciummu"ucap Mirna malu malu.
"Apa benar ini kamu, apa itu artinya kamu berat melepaskanku" jawab William tersenyum.
"Terserah apa yang kamu katakan tapi biarkan aku menciummu mungkin untuk perpisahan kita"ucap Mirna pelan menundukan kepalanya malu. William yang melihat Mirna menunduk malu menarik Mirna dan lasung mencium bibirnya, Mirna tak tinggal diam dia membalas ciuman panas William padanya.
"William aku mencintaimu meski aku tak bisa memilikimu bahagialah walau tanpa aku, jujur sangat berat mengambil keputusan ini tapi percayalah ini yang terbaik untuk kita. aku sayang kamu sangat, mungkin rasa ini baruku sadari tapi percayalah jantunggku berdebar saat pertama melihatmu, jantungku terus berdebar saat di dekatmu, bahkan saat ini jantungku berdebar kencang saat kau cium sepanas ini. Apakah ini cinta? ya benar ini cinta aku mencintaimu William tapi maaf aku tak bisa memperjuangkan rasa ini, maaf aku kalah sebelum berperang aku terlalu rapuh menggapai angan yang terlalu tinggi kamu terlalu jauh hanya untukku raih hingga yang tinggal hanya angan angan yang tak sampai. biar rasa ini ku simpan menjadi kenangan bersama rasa rindu yang mungkin akan sering datang untukmu" batin Mirna menitikan air matanya bersama rasa manis dari bibir pria yang baru ia sadari bahwa ia mencintainya.
"Mirna aku tak tau alasan mengapa kamu lebih memilih dia di bandingkan aku, aku harap kamu bahagia. Aku tak tau apa ada rasa di hatimu untukku tapi semakin ku kejar kamu semakin jauh untuk ku gapai, Mirna andai kamu tau aku sangat bahagia saat kamu mengizinkanku memasuki ruang di hatimu. Tapi mengapa kau buang harapan cinta yang ada untukmu dalam sekejap mata. Mirna aku belum menunjukan seberapa besarnya harapannku bersamamu tapi justru kau jatuhkan harapan itu sebelum ku buktikan. Bahagilah sayang, bahagialah dengan pilihanmu saat aku tak bersamamu jangan menitikan air mata jangan menangis karna jika sekali saja aku lihat air mata kesedihan di matamu maka aku akan merebutmu kembali dari dia" batin William. Ia melepaskan ciumannya saat Mirna kehabisan nafas bersama rasa asin air mata dan manisnya bibir Mirna.
"Aku mencintaimu" ucap William mencium puncak kepala Mirna lama, Mirna yang merasakan itu semakin sesegukan menangis.
"Tuhan mengapa kau mempertemukan tapi akhirnya memisahkan, Tuhan mengapa kau menghadirkan rasa tapi kau tak menyatukan, Tuhan mengapa kau buat jantungku berdebar untuknya tapi kau ciptakan takdir lain untukku, Tuhan apa lagi ini aku tak tau harus bagaimana mengapa aku lagi yang harus merasakannya. Baru sembuh luka tapi datang lagi luka baru, mengapa kau ciptakan dia tapi tak bisa ku miliki, mengapa kau ciptakan cinta tapi tak bisa untuk bersama, mengapa takdir serumit ini Tuhan ."batin Mirna mengis. Ia memeluk William untuk yang kesekian kalinya.
"Berhenti mengis mir aku sungguh tak sanggup melihatmu seperti ini, aku juga bingung denganmu entah apa yang kau tangisi, jika kau menangisi aku lalu mengapa melepaskanku " ucap William lagi. Mirna menarik nafas dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan.
"Aku akan mencuci mukaku dulu" ucap Mirna tanpa menjawab pertanyaan William, Ia melepaskan pelukannya dan berlalu ke kamar mandi.
Sedang William yang berusaha menahan air matanya akhirnya tumpah juga "Aku tau kau mencintaiku mir" batinya mengusap air mata dan duduk menunggu Mirna keluar dari kamar mandi.
"Will aku akan lasung pulang, tetaplah di sini jangan mengantarku keluar" ucap Mirna keluar dari kamar mandi.
"Baiklah, hati hati" jawab William pasrah melihat Mirna membuka pintu kamar dan berlalu keluar.
__ADS_1
Mirna yang akan memasuki mobil terhenti mendengar suara laki laki yang tak asing baginya memangil namanya.
"Mbak mirna" panggil laki laki tampan yang berjalan menghampirinya.
"Hy pan kamu mau kemana"tanya Mirna
"Aku mau mencari William sudah aku telpon tapi tak di angkat, trus mbak ngapain di sini" jawab pandu sekaligus bertanya.,
"Oh itu mbak tadi habis ketemu temen, adalah temen lama tinggal di sini tadi ada perlu sebentar" jawab Mirna salah tingkah takut ketahuan bahwa ia baru saja dari apertemen William.
"Mmmm, ya udah mbak aku cari William dulu ya hati hati"ucap pandu tanpa curiga sedikitpun.
"Ohhh, iya pan aku pergi dulu ya"jawab Mirna lansung memasuki mobil sebelum pandu curiga.
"Huhhhh untung saja pandu tak curiga" ucapnya mengemudikan mobilnya meningalkan parkiran.
Sesampainya di rumah Mirna buru buru akan memasuki kamarnya sebelum orang rumah melihat mata sembabnya tapi baru ia akan membuka pintu ia di kagetkan Yuni yang membuka pintu menggunakan daster putih panjang.
"Jin silumannn,,"teriak Mirna mengagetkan seisi rumah, orang tuanya dan Aldi yang mendengar itu berlari terburu buru mendengar teriakan kencang Mirna.
"Mirna ada apa mengagetkan saja"ucap ibu
"Oh maaf Bu aku kaget melihat Yuni tiba tiba membuka pintu kamarku dari dalam"jawab Mirna cengengesan.
"Apa kamu baru pulang mir, mata kamu juga sembab kamu kenapa" tanya Aldi khawatir. Mirna yang mendengar itu bingung mau menjawab apa ia menerutuki kebodohannya berteriak mengagetkan seisi rumah.
__ADS_1