
"Tuhan mengapa masih saja sakit meski aku ingin berhenti merasakannya"batin Mirna merasakan tubuhnya lunglai jatuh kelantai. tangis yang berusaha ia tahan akhirnya pecah juga meski ia sudah berusaha menahannya tapi tetap saja ia tak sanggup. "tetap saja aku yang lemah"batinnya makin pilu.
"Mir aku mohon maafkan aku, kamu boleh memukulku bahkan memakiku sepuasmu tapi jangan membenciku aku melakukan itu karna ada alasannya"ucap Rudi berusaha menopang tubuh Mirna. Yuni yang melihat tubuh kakaknya merosot kelantai dengan Rudi yang berusaha menenangkan dan menopangnya menjadi semakin marah.
"Sudahlah mas minggir"dorong Yuni keras tapi tetap saja Rudi tak mau beranjak sedikitpun.
"Mas Rudi minggir setidaknya biarkan Mirna tenang dulu"mendengar itu Rudi dengan rasa tak rela melepaskan dekapannya di tubuh Mirna dan Yuni berusaha membantu kakaknya berdiri.
"Mir bangun ayok kita pulang orang orang memperhatikan kita"ucap Yuni mencoba membantu kakaknya berdiri. Mimi dan sari yang melihat Mirna berusaha berdiri dengan keadaan berantakan dan muka sembab tersenyum menang. sedang Irpan dan Windi benar benar merasa kasihan melihat keadaan Mirna yang terlihat mengenaskan.
Mirna berjalan dengan tatapan kosong dan air mata yang tak hentinya menetes di bantu Yuni yang berusaha menjaga keseimbangan kakanya yang terlihat begitu rapuh. Rudi terlihat berjalan tergesa ingin menyusul Mirna tapi langsung di tahan Irpan.
"Biar aku yang antar mereka, sekalian nyuruh orangku untuk membawa mobil mirna ke rumahnya"ucap Irpan menahan pundak Rudi.
"Tapi pang ak,,,"
"Rud percaya sama aku, saat ini Mirna cuman butuh menengankan diri. lo di sini aja urus nyokap lo"ucap Irpan memotong pembicaraan Rudi.
"Ok pang makasi"jawab Rudi dan irpanpun berlalu mengejar Mirna dan Yuni.
"Ma hari ini mama benar benar kerlaluan"ucap Rudi berusaha menahan diri agar tidak meneriaki mamanya.
"Apanya yang keterlaluan dia memang pantas mendapatkan itu semua, enak saja setelah minta pisah denganmu dia ingin kembali lagi setelah kamu punya istri, pelakor murahan"sergah Mimi tak mau di salahkan.
"Ma,,"ucap Irpan terhenti karna melihat orang orang masih saja mengerumuninya meski Mirna sudah pergi.
"Ayok kita pulang, apa mama tidak malu melihat orang orang terus berkerumunan melihat kita"lanjut rudi mengalah dan berlalu meninggalkan mamanya yang masih berdiri tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Windi bantu sari berjalan"perintah Mimi melihat anaknya itu yang terus saja memegang pantatnya dan bahkan jalannyapun tertatih tatih.
"Kak hati hati"ucap Windi berusaha menopang tubuh sari.
"Sialan,, Mirna mendorongku terlalu kencang rasanya pantat ku memar bahkan kakiku keseleo. awas saja nanti aku pasti akan membalasnya"batin sari dendam. sedang Mimi hanya geleng geleng kepala melihat cara berjalan anaknya yang sudah seperti kangguru itu. "Apa anak sialan itu mendorongnya terlalu kencang"batin Mimi mengikuti dari belakang. sedang orang yang berkerumunan tadi bubar setelah melihat tontonan gratisnya pergi.
__ADS_1
"Apa mereka tak punya malu"ucap salah satu pengunjung setelah melihat kepergian mereka.
"Mungkin cari sensasi"ucap yang lainnya dan masih banyak lagi makian orang orang melihat drama kluarga yang tak tau tempat itu.
***
"Mir hati hati"ucap Irpan membantu Mirna berdiri setelah membukakan pintu mobil.
Irpan membantu Mirna masuk kedalam rumah sedang Yuni dari belakang membawa tasnya dan tas Mirna.
"Mir kamu kenapa"ucap ibu panik setelah membuka pintu melihat putrinya sempoyongan di bantu Irpan memasuki rumah.
"Yuni mbak mu kenapa"tanya ibu makin panik kepada putri bungsunya karna tak mendapat jawaban dari putri pertamanya.
"Nanti aku ceritain Bu"jawab Yuni berlalu kekamar Mirna, ibu yang melihat itu mengikuti dari belakang.
"Mir kamu istirahat ya, aku keluar dulu"ucap Irpan menarik selimut hingga menutupi setengah badan Mirna. sedang Mirna hanya menganggukkan kepala tanda mengiyakan. setelah mendapat anggukan dari Mirna Irpan keluar di ikuti ibu dan Yuni dari belakang.
"Loh kok cepet nak nak siapa ibu lupa"
"Irpan Bu"Yuni yang menjawab, sedang Irpan menyunggingkan senyuman manisnya melihat ibu Mirna yang melupakan namanya. maklum dia hanya pernah berkunjung empat kali kerumah Mirna itupun sudah lama.
"Ah iya, ibu lupa maafin ya"sesal ibu tak enak hati.
"Gak apa apa Bu"jawab Irpan tersenyum. "Kalok begitu saya permisi Bu"pamit Irpan lagi.
"Nak Irpan jangan terburu buru ngopi dulu di sini"ucap ibu
"Makasi Bu tapi Lain kali saja, soalnya saya masih ada yang mau di kerjakan di kantor"jawab Irpan
"Yaudah hati hati di jalan nak Irpan"ucap ibu akhirnya.
"Yun saya pamit"ucap Irpan
__ADS_1
"Iya makasi udah nganterin kak, hati hati di jalan"jawab Yuni. baru ia akan berlalu ke kamar Mirna tapi ia urungkan melihat tatapan mengintimidasi ibunya.
"Baiklah baiklah Bu aku akan menjelaskan"ucapnya pasrah dan mendudukan dirinya di sofa ruang tamu diikuti sang ibu.
"Bu tadi di mall kami bertemu dengan sari dan windi istrinya mas Rudi,,,"Yuni terus menjelaskan pada ibunya apa yang terjadi di mall tanpa ada yang ia tutup tutupi, sesekali ia menjeda kalimat melihat ekspresi wajah ibunya yang berubah ubah. "Begitulah ceritanya Bu" Yuni menghela nafas.
"Keterlaluan" ucap ibu marah. "lagian kalian kenapa menangapi sudah tau sifat mereka seperti itu"omel ibu. tuhkan dia juga yang kena omel sudah tau ibunya pasti akan menyalahkannya karna meladeni kelakuan mereka.
"Mimi itu benar benar sudah tua tapi tetap saja seperti itu tak ingat umur"caci ibu marah. "ibu benar tua tua gak tau malu dia Bu"jawab Yuni memprovokasi. "Kamu juga, sudah tau dia tua tua gak tau malu masih juga di ladeni. seharusnya kalian itu pergi saja tidak usah menanggapi mereka"omel ibu. "tuhkan salah lagi nyesel tadi gue nyahut"batin Yuni pasrah karna ibunya akan terus menyalahkannya.
"Lain kali kalau bertemu mereka sebaiknya kalian pergi jangan meladeni orang seperti itu tak ada gunanya yang ada kalian akan sakit hati saja"lanjut ibu masih mengomel.
"iya Bu"
"iya iya, jangan iya iya aja kamu"omel ibu semakin menjadi.
"Tidak Bu"sahut Yuni pelan takut ibunya mendengarkan bisa semakin panjang urusannya.
"Apa"tanya ibu menajamkan pendengarannya.
"gak ada apa apa Bu"jawab Yuni.
"Nah kamu nanti dengerin ibu jangan me,"
"Meladeni mereka Bu"potong Yuni karna terlalu bosan mendengar ocehan ibunya yang muter muter tapi tetap saja membicarakan hal yang sama.
"Kamu tu jangan motong pembicaraan orang tua gak baik, kebiasaan sekali"kesal ibu
"Iya Bu"
"Nyahut lagi di bilangin gak sopan"marah ibunya lagi.
"Oh tuhan ibuku ini"batin Yuni jengah. "Bu bunuh saja aku Bu"ucap Yuni frustasi bukannya membahas kelakuan keluarga Rudi tapi malah dia yang kena omel.
__ADS_1