
Mirna mendongak melihat jam dinding yang menunjukan sudah jam setengah sembilan, ia baru menidurkan bintang, sekarang bintang sudah semakin aktif bermain di umurnya yang ke delapan bulan, ia sudah belajar berdiri berpegangan dinding, merangkak kesana kemari.
Di belainya rambut sang anak, ia menitikan air mata mengingat hal yang dia alami sebelum perceraian terjadi.
"Mirna kamu beli kalung baru ya, bagus kayaknya itu bukan dari toko mama deh" tanya iparnya sari kakak perempuan dari Rudi. Rudi empat bersaudara dua laki laki dan dua perempuan ia anak keempat , yang pertama Jayadi Rahardian, Sari Widia Saputri satu lagi tinggal di Bali dengan sang suami namanya Lidya Saputri ia cantik wajah juga hati.
Iparnya itu memang terkenal angkuh dan selalu iri melihat apa yang dimiliki orang lain. termasuk terhadap para iparnya yang lain bahkan kepada istri kknyapun dia bisa iri apalagi hanya seorang Mirna yg ia anggap dari kluarga rendah.
"Eh iya kak, oleh oleh dari mas Rudi pas kemarin pulang dari Bali pas peresmian kafe di sana"jawab Mirna karna memang kemarin pas peresmian di Bali ia tak ikut karna bintang masih terlalu kecil untuk di tinggal.
"Oh Rudi royal ya padahal ia harus lebih banyak menabung baru juga kafenya berkembang buka cabang juga gak seberapa tapi udah manjaanin istri aja"katanya nyinyir yang di sambut senyum oleh Mirna padahal dalam hati"Setan alas yg satu ini"batin Mirna geleng geleng kepala
Sepulang iparnya dari rumahnya tepatnya rumah sang mertua, terdengar suara mobil Rudi memasuki gerbang yang di bukakan sang satpam. di rumah itu punya satu pembantu yang di tugaskan membantu Mirna memasak dan bersih bersih dan satu satpam.
Waktu Rudi memutuskan mengambil pembantu saja berbagai cemooh di terima Mirna dari sang kluarga suami ada yg bilang Mirna terlalu pemalas, terlalu manja dan lain sebagainya kecuali Lidya yg membelanya sedang sang suami yang jelas membawa pembantu diam saja tanpa mau membela istrinya.
"Assalamualaikum"ucap Rudi
"Waalaikumsallam, eh sayang udah pulang tumben pulang cepat" tanya Mirna yg melihat jam masih menunjukan jam 3 siang.
"iya sengaja tadi cuman meting sama klayen ngajuin kerja sama pembangunan kafe baru lagi masih di sekitar sini"jelas Rudi yang di jawab angukan kepala tanda mengerti oleh Mirna karna dia tidak suka terlalu banyak bertanya.
__ADS_1
Diambilnya tangan sang suami untuk di Salami juga tas kerjanya, lalu ia membantu suaminya membuka pakaian.
"Sayang bintang mana?"Tanya Rudi
"lagi sama mbok arsi, tadi pas sehabis mandi aku titip soalnya aku mau mandi juga tadi"jawab Mirna
Dicubitnya pipi sang istri lalu di kecup bibir dan pipinya"Pantesan cantik banget ternyata baru selesai mandi"goda Rudi terkekeh yang lasung di cemberuti Mirna.
"Emang klok gak mandi gak cantik apa"tanya Mirna pura pura cemberut, yang di balas cubitan di hidung mancungnya.
"Cantik kok istriku kan selalu cantik dan mempesona" gombal Rudi sambil mengecup lagi bibir sang istri yang membuat wajah cantik Mirna memerah sekeika.
Selesai melepas semua pakaiannya Rudi lasung kekamar mandi, sedang Mirna bergegas menyiapkan baju untuk suaminya. setelah selesai ia berlalu keluar mencari bintang.
"Iya Bu"Jawab mbok arsi dan mirna pun berlalu kekamarnya membawa bintang yang sudah tertidur pulas. bintang memang cepat sekali tertidur mungkin karna ia terlalu kekenyangan setelah di berikan susu yang telah di perah ibunya.
"Mas udah selesai mandinya?" Tanya Mirna melihat suaminya yang terlihat sudah rapi dan tampan mengenakan kaos putih lengan pendek yang di padukan celana pendek hitam membuatnya terlihat sangat tampan di umurnya yang ke 24 tahun. Mirna dan Rudi beda tiga tahun, Mirna dan Rudi menikah muda di umur Mirna yang belum genap 19 tahun setelah Mirna lulus SMA mereka melangsungkan pernikahan karna keiinginan Mirna sendiri.
"Udah dong yang" jawab Rudi sambil mengambil putranya yang telah tertidur dari gendongan istrinya, di kecupnya wajah sang anak sebelum ia baringkan.
"Kenapa?" tanyanya melihat Mirna seperti memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Mirna terdiam, lalu duduk di sofa panjang di ikuti Rudi yang berbaring di pangkuannya menghadap perut sang istri. di kecupnya perut yang terhalang pakaian itu, sedang Mirna mengusap pelan rambut sang suami karna Rudi sangat menyukai usapan lembut tangan istrinya.
Mirna terlihat sedikit ragu menyampaikan keinginannya, takut berakhir pertengkaran seperti yang terjadi sebelumnya. setiap ia mengutarakan keinginannya pindah rumah, ia dan Rudi selalu saja bertengkar. akan tetapi dengan ragu ragu ia mengutarakan keinginannya.
"Masss"ucap Mirna ragu, Rudi yang mendengar itu pun mendongak melihat wajah cantik istinya yang terlihat sedikit gelisah.
"Katakan sayang"jawab Rudi melihat kegelisahan istrinya ia sudah bisa menebak keinginan sang istri.
"Bagaimana kalo kita pindah rumah" ucapnya, Rudi yang mendengar itu terbangun.
"Sayang akukan udah bilang bukannya gak mau tapi kasian mana sama papa kalok kita pindah, lagian rumah ini siapa yang bakalan nempatin kalo aku mama sama papa kerja" terang rudi.
"Tapikan mas tau sendiri aku gak begitu cocok sama mama papa?"jawab Mirna menunduk takut Rudi tersinggung dan benar saja suaminya itu lasung kluar tanpa sepatah katapun.
Mirna yang melihat itu terdiam menitikan airmata, melihat sikap suaminya yang tak pernah mau mendengar keluh kesahnya. itu yang membuat Mirna sakit hati dengan sikap Rudi, meski dia tau Mirna hanya di jadikan cibiran oleh keluarganya tapi dia hanya diam meski sering kaili melihat istrinya menangis karna ulah keluarganya.
Jika ia tak mencintai Rudi mungkin ia lebih memilih pergi dari Rudi. untuk apa harta berkecukupan yang selalu Rudi berikan tapi ia tak dapat melindungi istrinya dari lidah tajam keluarganya.
Selalu "Sabar sayang mungkin karna kita masih muda, mereka hanya menegur itu sifat mereka maka diamkan saja"selalu itu jawaban Rudi selain diam dan pertengkaran. itu yang membuat Mirna kadang jenuh, bukan sakit fisik yang ia terima tapi hatinya sering kali terluka karna dihina.
Rudi mungkin bisa berkata begitu karna kluarga Mirna selalu menyambutnya dengan hangat. bahkan keluarganya sekalipun tak pernah menyinggung atau ikut campur rumah tangga anaknya meski ia tau Mirna hanya pura pura bahagia.
__ADS_1
Bagaimanapun, orang tua termasuk orang yang sangat peka anaknya diam saja ia sudah sangat khawatir takut terjadi sesuatu. aplagi melihat Mirna yang semakin hari badannya semakin kecil dan kurus saja, padahal suaminya orang yang sangat berada. akan tetapi tubuh Mirna bagai orang yang kekenyangan makan alias makan ati.