
Mirna yang mendengar itu sungguh sedih hatinya, mengapa mengaitkan sikapnya dengan orang tuanya. Mirna didik dengan benar oleh orang tuanya di besarkan penuh kasih, mereka saja yang keterlaluan pikir Mirna. apalagi mengingat perkataan suaminya yang menurutnya tak patut untuk di benarkan mengingat itu ia menyesali kebodohannya yang meminta Rudi menikahinya.
Apa yang dia harpakan dari Rudi dan keluarganya, di terima di kluarga ini dengan tangan terbuka, jangan mimpi jelas jelas dari dulu mertuanya itu tak pernah setuju tentang hubungannya. tapi Mirna saja yang tidak tahu malu bermimpi terlalu tinggi dan sekarang pas jatuh dia juga yang sakit.
Bahkan bukan sekali keluarganya di hina, bukan sekali keluarganya di cemooh kluarga suaminya tapi ia tetap saja diam dan bertahan hanya karna alasan cinta. Mirna memang bodoh tapi ia harus apa semua telah terlanjur pikirnya.
Ia berlari mengusap air matanya "Ini sungguh keterlaluan bukan sekali mereka mempermalukanku bahkan berkali kali tapi aku hanya diam saja, masa bodoh dengan cinta, Rudi aku membenci kamu sedalam dalamnya" batin mirna sambil menghapus air matanya
Ia lasung menuju kamar mbok arsi dan mengambil bintang dari gendongan mbok arsi.
"Mbok makasi ya udah jagain bintang dia gak rewel kan ?" tanyanya mengelus pipi anaknya.
"Enggak kok bu saya malah seneng ngenjagain den bintang udah ganteng anteng lagi"ucap mbok arsi tersenyum, ia yang melihat mata sembab majikannya hanya diam tak berani bertanya.
Sesampainya di kamar mirna menyusui anaknya hingga tertidur, di taruhnya bintang di dalam bok bayi lalu di gantinya bajunya dengan baju tidur, kemudian ia melangkah menuju kulkas kecil yang ada di kamarnya. di ambilnya air dingin di kulkas lalu ia berjalan kluar menuju balkon, itu yang sering ia lakukan ketika sedang sedih.
__ADS_1
Ia menatap langit yang tidak begitu banyak bintang malam ini, di lihatnya pula bulan yang menampakan separuh cahayanya. dalam hati iya bergumam "Tuhan mengapa nasibku ini malang sekali, bukan ini yang ku inginkan kebahagiaan yang ku harapkan tapi kepahitan yang ku dapatkan" batinnya.
Setelah bosan ia masuk ke dalam kamarnya, di bukannya laci yang terdapat buku diary di dalamnya. di ambilnya dan di bawanya keluar menuju balkon, lalu ia duduk di kursi menaruh air yang ia bawa tadi ke samping sambil tangannya menulis sesuatu.
Dear kamu
Suamiku selama ini aku terlalu lelah berperang dengan batinku, bukan sekali kamu menyakitiku, bukan sekali kamu menusuk belati tajam di hati ini kamu tau aku hanya diam saja dan memaafkanmu dan kamu terus mengulangi itu. Kamu memang tidak menyakitiku secara sadar tapi kamu menyakitiku berulang dengan diammu, kau tau betapa tersiksanya aku menjadi menatu tak di harapkan di keluargamu, bahkan sekarang aku berfikir bukan hanya menatu tak di harapkan tapi istri yang tak di inginkan. Sakit sekali rasanya, sesak sekali sayang, kau tau selama ini aku berjuang seorang diri tanpa kau perlihatkan sedikit cahaya pengharapan. yang ku dapat hanya diammu, yang ku peroleh hanya maafmu, apa kamu fikir aku begitu pemaaf hingga kau terlalu percaya diri sayang . Tidakkk, kamu salah aku juga bisa jenuh, aku juga bisa lelah,aku bahkan juga bisa bosan seperti saat ini aku bosan, lelah dan ingin menyerah. Aku selalu berjuang untukmu untuk kita tapi kamu tak menyambut perjuanganku kamu menyakitiku lagi sayang. Sangat sakit rasanya sama seperti hari hari sebelumnya sama sakitnya kau tau ini sangat sakit, aku kadang berfikir kamu kekasih tak sampai dalam genggamanku. Sekuat apapun aku berusaha, sekuat apapun aku menngapai dan mengejarmu ujungnya aku memang tak dapat meraihmu. Kamu terlalu jauh dalam genggamanku, sikapmu terlalu jauh dalam mental ku. Sekuat apapun sepercaya diri apapun aku kamu terlalu tinggi untuk wanita rendah sepertiku. kamu terlalu sempurna untuk wanita hina sepertiku, ya benar kamu terlalu tinggi untuk ku gapai hingga tetap saja ingin tak sampai aku lelah sayang. Rasanya ingin menyerah saja,berulang kali aku kejar tetap saja kamu terlalu jauh aku lemah, aku lelah berperang melawan keadaan aku ingin berhenti. Suatu hari nanti jika aku benar benar lelah izinkan aku pergi, izinkan aku berhenti, izinkan aku mengakhiri kisah yang tak sampai ini.
Iya menulis sambil sesegukan buku yang kering itu kini basah oleh air matanya, di pegangnya dadanya di tepuknya pelan, kemudian di elusnya dadanya lagi "Kamu kuat Mirna ya kamu kuat"batinnya menyemangati diri, ia bahkan kini susah bernafas dadanya sesak hidungnya tersumbat matanya perih dan sembab.
Selama ini derita yang ia dapatkan,, salah apa dirinya ini hingga di perlakukan seperti ini salahkah dia mencintai atau memang cintanya berlabuh pada orang yang salah.
"Tuhan mengapa begini, sakit sekali"Isaknya pilu, ia teringat pertama kali mengajak suaminya untuk menikah setelah dua tahun lebih ia balikan karna sempat putus di karnakan Rudi selingkuh dengan Windi.
Saat itu Mirna sedang mengambil surat kelulusannya di skolah bersamaan juga Rudi telah menyelesaikan S1nya, Rudi menjemputnya dengan mobil untuk di antarkan pulang.
__ADS_1
"Rud kamu serius sama aku?"tanya Mirna tiba tiba, Rudi yang baru akan meninggalkan sekolah tidak jadi menjalankan mobilnya di karnakan kalimat yang ia dengar dari Mirna.
"Maksudnya?"jawab Rudi memastikan.
"Bagaimana kalo kita nikah aja rud, aku gak mau sekolah kita nikah aja ya toh sekolah juga ngabisin biaya aja" ucap Mirna "Kamu kan tau aku tidak pintar dan tidak dapat Biya siswa daripada nyusahin ibu sama bapak mending kita nikah aja"Lanjutnya.
Rudi yang saat itu mencintai Mirna dan juga tak enak hati karna Mirna selalu menerima kelakuannya yang sering bermain perempuan pun menyetujui permintaan Mirna meski saat itu iya tau orang tuanya tidak akan setuju, tapi ia berusaha meyakinkan orang tuanya hingga setuju dan merekapun terikat dengan janji sakral pernikahan.
Ia mengangkat kepalanya, menghembuskan nafasnya dia harus kuat ya dia harus kuat setidaknya demi Bintang anaknya, dia harus bertahan entah sampai kapan dia akan tahan tapi ia akan terus menjalani semuanya semampunya meski ia sedikit ragu akan mampu bertahan mengingat kelakuan kluarga dari suaminya.
Ia melangkah masuk ke dalam kamar ternyata suaminya belum juga masuk, iapun merebahkan badannya yang terasa sedikit pegal karna terlalu lama membungkuk di atas meja, baru ia akan memejamkan mata terdengar suara pintu terbuka ia tau itu suaminya ia buru buru memejamkan matanya.
Terdengar langkah kaki semakin medekati lemari, rupanya Rudi akan mengganti pakaiannya sebelum tidur, selesai itu ia menaiki ranjang yang di sana telah berbaring sang istri di tariknya selimut sampai menutupi dada istrinya, di belainya rambut istrinya di kecupnya pelan kening istrinya.
"Maaf"
__ADS_1