
Rudi membuka diary yang saat ini berada di tangannya, di lihatnya tulisan tangan yang begitu indah dan rapi, meski kertas diary ada sebagian yang mengeras karna pernah kejatuhan air mata.
Dear diary
Semakin ku paksa bertahan semakin dalam luka yang kurasakan, semakin ku coba pasrah semakin sakit derita yang ku dapatkan. semakin aku bertahan semakin banyak rintang yang menghadang, jujur aku sangat lelah.
Tulisan pertama Mirna yang ia baca dan kemudian di baliknya lagi diary itu.
Dear diary
Mengapa kau janjikan kebahagiaan, tapi luka yang kau berikan. mengapa kau janjikan sesuatu yang manis untukku jika hanya kau jadikan janji tanpa kau tepati. saat aku memilih bertahan bukan berarti suatu saat nanti aku tak akan memilih pergi.
Di baliknya buku selanjutnya.
Dear diary
Suatu saat nanti jika aku pergi, bahagilah dengan caramu sendiri. carilah kebahagiaanmu agar aku tak merasa terlalu berdosa karna meninggalkanmu. mungkin tak akan mudah untukku melupakan kenangan antara kita, tapi bukankah di setiap pertemuan ada perpisahan, mungkin saat aku memilih pergi saat itu aku merasa terlalu jenuh karna terabaikan. aku tak memintamu menjadi yang sempurna, karna aku juga ingin kamu tak mencari kesempurnaan dalam diriku. aku hanya minta kesetiaan dan perlindungan, tapi jika salah satu di antara keinginanku tak bisa kau kabulkan mungkin saat itu aku akan pergi. percayalah saat aku pergi nanti bukan karna aku berhenti mencintaimu tapi karna aku merasa kau terlalu mengabaikan ku, kau terlalu acuh dengan semua yang berkaitan denganku. Sayang jangan anggap hatiku hanya mainanmu, jangan anggap cintaku leluconmu aku bisa jenuh dan lelah dan saat rasa itu datang mungkin rasa benciku bisa mengalahkan rasa cinta di hatiku untukmu.
Rudi terus membuka dan membaca semua tulisan tulisan di dalam buku diary yang Mirna tulis, ia menangis menerutuki kebodohannya yang tak menyadari telah menyakiti istrinya terlalu dalam dengan sikap diam dan abainya.
"Tuhan apa yang telah kulakukan" Isaknya pilu. ia teringat kenangan saat ia telah resmi menikahi Mirna kala itu.
Flashback on
__ADS_1
"Mas Rudi mulai sekarang aku milikmu, sayangi dan cintai aku setulus hatimu, jangan mengabaikanku"pinta Mirna kala itu
"Apa kau bahagia"tanyanya
"Tentu saja aku bahagia bukankah tak ada yang palig membahagiakan selain bersatu dengan orang yang sangat kita cintai"jawab mirna polos
"Apa kamu sangat mencintai aku"tanyanya lagi
"Jangan tanyakan rasa cinta kepadaku mas, bukankah selama ini aku selalu berjuang untukmu"jawabnya bangga
"Berarti kau tak akan meninggalkanku" tanyanya lagi dan lagi.
"Tentu saja tidak, tapi itu berlaku jika kau memperlakukanku dengan baik maka aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. tapi aku mohon jangan mengabaikanku" pinta Mirna untuk yang kesekian kalinya.
"Maka saat itu aku mungkin akan pergi karna rasanya percuma bertahan tapi tak di hargai, bukankah aku juga butuh hidup lebih lama lagi dan tidak berakhir tragis karna bunuh diri di sebabkan sakit hati"jawab Mirna balas mengoda Rudi dan mereka tertawa bersama sama.
Flashback off
"Bodoh seharunya aku tak menganggap perkataannya saat itu hanya lelucon"ucapnya memaki diri sendiri.
****
Paginya Mirna terbangun dengan penampilan yang sangat berantakan, dilihatnya sekeliling kamarnya yang terlihat seperti kapal pecah.
__ADS_1
"Ya Tuhan bintang"ucapnya menghawatirkan keadaan putranya, karna seingatnya ia tak menyediakan air susunya di kulkas tadi malam.
Ia terburu buru membuka pintu dan berlari kluar kamar mencari putranya karna ia merasa sangat khawatir dengan putranya sekarang.
"Ya Tuhan, bintang maafin mama sayang"batinya, tak lama ia sampai di kamar Suryo kakanya karna ia sudah menebak kakanya itu pasti menginap tadi malam karna tak tega meninggalkannya dalam keadaan terpuruk.
Tok to tok "Bang Suryo buka pintunya" pangilnya mengetuk pintu dan tak lama Cahya membukakan pintu untuk adik iparnya itu.
"Mbak bintang mana"tanyanya
"Di dalem masih tidur mir kamu masuk aja"jawab Cahya tersenyum, ia bersyukur meski iparnya itu dalam keadaan terpuruk ia masih menghawatirkan anaknya.
Mirna megangkat bintang dari atas ranjang dan menggendongnya, tak lama Suryo terbangun karna mendengar suara langkah kaki Mirna.
"Mir kamu tidak apa apa"tanya Suryo panik apalagi melihat penampilan adiknya yang sangat berantakan.
"Gak papa bang aku mau pindahin bintang ke kamar dulu bang"jawab Mirna tersenyum
"Mir maafin Abang"pinta Suryo
"Gak ada yang perlu di maafin bang, Abang gak salah emang nasib aku aja yang sial"jawab Mirna tersenyum agar Abangnya tak merasa bersalah.
"Kamu jangan ngomong gitu, biar bagaimanapun Abang salah karena memberikan kamu nasihat yang justru menyakiti kamu lagi"ucap Suryo
__ADS_1
"Abang gak salah Abang hanya menasehati Mirna bukan memaksa Mirna, jadi jangan merasa bersalah"jawab Mirna tersenyum dan berlalu keluar kamar. Suryo yang melihat itu sangat sedih dan kasian melihat adiknya terpuruk untuk yang kesekian kalinya oleh orang yang sama, dan itu juga karna arahan darinya.