Tak Sampai

Tak Sampai
Separuhnya benar


__ADS_3

💌My


Mas ini aku Mirna, apa kamu ada waktu?


Mirna mengirim pesan kepada Rudi menggunakan no baru yang ia beli kemarin di mall bersama Yuni, karna saat ia membanting hpnya kartunya juga hilang entah kemana.


💌Mas Rudi


Mir apa ini nomor barumu?


💌My


Iya mas, apa kita bisa bertemu ada yang mau aku omongin?


💌Mas Rudi


Tentu, mau ketemu di mana?


💌My


di kafe kamu saja


💌Mas Rudi


Baiklah, aku tunggu.


Mirna menghela nafasnya membaca pesan terakhir dari mantan suaminya itu, ia berharap Rudi mempermudah rencananya yang ingin tinggal di Jakarta bersama kakanya Aldi.


"Aku harus bisa"ucapnya menyemangati dirinya. ia mengalihkan pandangannya kesamping tempat tidur, di pandangannya bocah berumur 17 bulan yang sedang tertidur dengan lelapnya.

__ADS_1


"Maafkan mama sayang"ucapnya pelan sambil mencium dahi anaknya lama. setelah itu ia berlalu keluar kamar, sebelum berangkat menemui Rudi ia tak lupa menitipkan bintang kepada ibunya.


"Bu aku mau menemui mas Rudi dulu membicarakan tentang kepergian ku ke Jakarta" ucap Mirna kepada ibunya yang sedang membuat kue di dapur, sedang bapak dan Aldi sudah berangkat ke kebun.


"iya mir kamu hati hati"jawab ibu seraya mengangkat mangkok besar berisi adonan.


Setelah percakapan dengan ibunya, Mirna berlalu keluar rumah dan lasung berangkat ke kafe Rudi mantan suaminya.


"Semua akan baik baik saja"batinya, mengendarai mobil dengan pelan. merancang kata kata yang akan ia ucapkan nanti agar Rudi mau mengizinkannya membawa bintang ikut bersamanya ke Jakarta.


Sebenarnya bisa saja ia membawa bintang pergi tanpa sepengetahuan Rudi, terlebih Rudi dan keluarganya sudah sangat keterlaluan memperlakukannya. tapi ia tak mau melakukan itu selama semua masalah masih bisa di bicarakan baik baik kenapa tidak pikirnya. apalagi dia tidak boleh egois Rudi adalah ayah kandung dari bintang putranya, dia mengerti meski Rudi tak mengambil hak asuh bintang tapi peria itu sangat mencintai dan menyayangi putranya. terbukti meski mereka sudah tak bersama, setiap ada waktu luang Rudi selalu menyempatkan diri menemui putranya dan selalu tepat waktu mengirimi uang bulanan yang lumayan banyak. meski di awal awal perceraian Rudi jarang datang menemui bintang, tapi ia cukup memaklumi mungkin peria itu sedang dalam keadaan tidak baik baik saja, sama sepertinya yang di awal awal perceraian begitu terpukul dengan keputusannya sendiri yang meminta cerai kepada Rudi.


Sesampainya di kafe Mirna langsung memarkirkan mobilnya dan bergegas menuju ruangan mantan suaminya.


"Silahkan masuk nyonya"ucap Dimas kepada mantan istri bosnya itu. Dimas masih saja memangilnya dengan panggilan nyonya sama seperti dulu sebelum ia bercerai dengan Rudi.


"Apa mas Rudi ada di dalam"tannyanya


Rudi sedikit mendongakan kepalanya, ia terpesona melihat Mirna yang makin hari makin bertambah cantik. penampilannya juga berubah, mungkin orang orang yang tak mengenalnya tak akan ada yang percaya bahwa wanita di depannya ini sudah pernah menikah dan mempunyai anak.


"Mir aku senang kau datang duduklah"ucap Rudi mempersilahkan Mirna duduk di sofa ruangan itu agar mereka bisa duduk berhadapan.


Mirna yang mendengar itu mendudukan tubuhnya, di lihatnya begitu banyak makanan dan minuman yang tersaji di atas meja. "Ternyata dia sudah menyiapkan ini semua"batinya.


"Mir masalah ijab qobul, aku benar-benar minta maaf"ucap Rudi memandang mata Mirna lekat. "dan juga cerita mama di mall tak semuanya benar"lanjutnya memperdalam tatapan matanya menatap wajah cantik mantan istrinya itu.


Mirna yang mendengar Rudi mengungkit masalah ijab dan mall menjadi barang, niat hati ingin berpamitan tapi karna Rudi mengungkitnya hatinya menjadi sakit.


"Tak semuanya benar, berarti separuhnya benar. apa begitu maksudmu mas"jawab Mirna mengintimidasi.

__ADS_1


Rudi yang mendengar itu gelagapan. "Maksudku bukan begitu, biar aku jelaskan". Mirna yang mendengar itu mencoba bersabar, karna dia juga ingin tau alasan apa yang akan di katakan laki laki di depannya ini.


"Dulu saat kita baru baru melangsungkan pernikahan, orang tua Windi mengajak aku, mama dan papa bertemu tanpa sepengetahuan kamu. mereka menceritakan tentang penyakit Windi oleh karna itu mama dan papa menyuruhku setiap empat bulan sekali memeriksa keadaan Windi"ucap Rudi coba menjelaskan secara ringkas.


"Wah ternyata kamu sangat baik ya Mas aku tersanjung"ejek Mirna


"Mir aku benar benar minta maaf, padahal mama sudah berjanji tak akan memberitahumu tentang kejadian itu"ucap Rudi


"Atas dasar apa kamu menyembunyikan itu semua dariku mas"tanya Mirna.


"Aku hanya tak ingin kamu sakit hati"jawab Rudi menunduk.


"Lalu,,, apa kamu pikir aku tak sakit hati. setiap aku tanya kenapa kita begitu sering bolak balik luar negri, waktu itu kamu jawab urusan bisnis. dan kamu pikir aku tak sakit hati, setiap sampai di sana kamu membiarkanku di hotel sendirian. pergi pagi pulang malam, setiap aku tanya habis bertemu klien. di sana bahkan kamu tak ada waktu untukku, sekedar untuk mengajakku jalan-jalan saja kamu tak pernah. kadang aku sempat berpikir kamu anggap apa aku ini kau bawa kemanapun kau pergi, tapi bukan menyenangkanku malah justru menelantarkan ku di negri orang. aku bahkan selalu setia menunggumu tapi saat selai dengan urusanmu kau tetap saja mengabaikanku. di mana hatimu? kau sibuk menyenangkan orang lain, tapi kau lupa menyenangkan istrimu".


nyesss,, ucapan Mirna bagai belati tajam menusuk dadanya.


"kamu tau,, aku bahkan tau kamu sering bertukar kabar dengan Windi saat kita sudah menikah"


deg..


"Terkejuttt,, tentu saja kamu harus terkejut"Mirna terkekeh melihat raut terkejut di wajah Rudi.


"tapi aku selalu diam berharap kamu suatu hari nanti akan berubah, tapi penantianku tinggal penantian saja. kamu justru terus mempermainkan hatiku, mengabaikanku, bahkan membiarkan ku di tindas orang tuamu. bahkan sampai aku hamil bintang mereka masih saja tak menyukai ku, bahkan lebih parah lagi mereka bahkan tak mau menyapa bintang di depanku. kau tau betapa sakit dan merasa hinanya aku di depan keluargamu waktu itu?. di sini sangat sakit"ucap Mirna tersenyum kecut, seraya menekan dadanya mengunakan tangan. sedang Rudi semakin menundukan kepalanya merasa bersalah.


"Aku minta maaf mir, waktu itu aku hanya menanyai kabar Windi karna aku merasa khawatir kepadanya"jawab Rudi mengangkat kepalanya berharap Mirna mengerti.


"Khawatir pada orang lain, tapi tidak khawatir dengan perasaan istrimu sendiri. apa orang lain lebih penting dari pada istrimu"ucap Mirna berusaha menahan air matanya. "seharusnya aku sadar aku memang tak pernah menjadi orang penting dalam hidupmu".


"Bukan begitu mir"

__ADS_1


"lalu bagaimana"


"Waktu itu aku hanya kasihan melihat Windi yang keadaanya sangat memprihatinkan, terlebih mama dan papa selalu menanyai kabar Windi kepada ku. maafkan aku"jawab Rudi menunduk.


__ADS_2