
Sorenya sepulang dari rumah kakaknya Suryo Mirna lansung memasuki kamar setelah Yuni dan pandu serta William berpamitan, sedang bintang lasung di ajak bermain oleh kakek dan neneknya.
Tak lama terdengar suara mobil memasuki gerbang rumah, sedangkan Mirna baru akan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat, setelah tadi pagi kerann yang rusak di perbaiki bapaknya.
"Assalamualaikum"Terdengar salam dari luar yang di jawab"Waalaikumsallam" oleh ibu yang langsung membuka pintu dan mempersilahkan Rudi duduk.
pandangan mata Rudi berkaca kaca melihat anaknya bintang yang sedang berjalan pelan sambil berceloteh dengan imutnya Rudi yang melihat itu lansung menghampiri anaknya dan menggendongnya.
Bintang tersenyum sambil mencolek colek wajah papanya, sedang Rudi sesekali mencium pipi tembem putranya, ia menitikan air mata melihat anaknya yang sudah semakin pandai berbicara meski masih kurang jelas.
"Mammmammam"celotehnya tersenyum dan menarik rambut papanya di sambut gelak tawa gembira Rudi, Mirna yang menyaksikan itu dari jendela kamarnya menitikan air mata sambil menutup mulutnya. "Tuhan apa aku terlalu egois"batinnya melihat anaknya terlihat begitu bahagia bersama sang papa.
Setelah membasuh mukanya Mirna berjalan keluar menghampiri orang tuanya serta mantan suaminya yang duduk di karpet sedang bermain dengan bintang sang putra.
"Mas Rudi udah lama"Tannya Mirna basa basi, Rudi menoleh ke asal suara matanya tak berkedip melihat Mirna yang begitu cantik tanpa make up ataupun bedak dan lipstik di wajahnya. "Baru mir kamu abis sholat"Tanya Rudi yang tau kebiasaan mantan istrinya yang tidak suka berpoles setelah sholat dan mirnapun mengangguk mengiyakan.
Mirna duduk di sebelah ibunya sambil sesekali memperhatikan Rudi yang bermain robot robotan dengan sang putra, lama Rudi menemani sang putra ia meminta izin kepada mantan mertuanya untuk berbicara sebentar dengan Mirna. setelah bintang di bawa kehalaman rumah oleh orang tua Mirna terdengar keheningan sesaat hingga Mirna yang mulai membuka pembicaraan.
"Mas di minum kopinya"ucap Mirna canggung.
"Iya" jawab Rudi menyeruput kopinya dan kembali memandang Mirna yang terlihat canggung
"Mir apa kamu bahagia"tanya Rudi menatap matan istrinya
"Bagaimana denganmu mas"tannya Mirna balik.
"Aku tak tau rasanya bahagia setelah kepergian kamu di hidupku" jawab Rudi menatap Mirna yang hanya terdiam "Mir kamu tau aku sangat mencintaimu aku tak bisa hidup berjauhan seperti ini" jawab Rudi tanpa ada kebohongan di matanya.
"Mas,,cinta tak akan tega menyakiti, cinta tak akan lalai, bahkan cinta itu berkorban, cinta juga menghargai lalu cinta yang mana yang kamu maksudkan itu mas" tanya mirna dan Rudi hanya terdiam mencerna perkataan Mirna. "Cinta bukan hanya tentang rasa, cinta juga bukan hanya tentang seringnya kita bersama, cinta juga bukan nafsu semata" lanjut Mirna lagi yang melihat Rudi hanya terdiam.
__ADS_1
"Mir aku,,"jawab Rudi terhenti mendengar perkataan Mirna "Sudahlah mas lakukan apa yang kamu anggap benar, hatiku bukan baja yang bisa terus kamu sakiti tanpa sadar" ucap nya menyela "bahagialah walau tanpa aku, jika kamu bisa menyakiti aku dengan diam dan tidak kepekaanmu, itu tandanya kamu juga bisa hidup tanpa aku"lanjutnya dan Rudi hanya terdiam mencerna semua perkataan Mirna.
Dilihatnya mobil mantan suaminya yang telah meninggalkan perkarangan rumah, ia menitikan air matanya sebenarnya ia masih mencintai Rudi tapi dia juga harus tegas cukup sudah semua rasa sakit yang ia alami enam tahunan semasa hidupnya bersama Rudi sekarang ia harus bahagia setidaknya demi Bintang anaknya.
Di gendongnya sang anak yang sudah wangi stelah di mandikan ibunya. di ambilnya mangkok berisi bubur yang telah di siapkan ibunya lalu dengan cekatan ia menyuapi anaknya.
Lain halnya dengan pria tampan yang baru pulang mengunjungi anaknya ia teringat kembali semua perkataan mantan istrinya.
"Apa Mirna marah karna aku mengantar Windi pulang setelah acara pernikahan Vita"pikirnya, memang ia menyadari kesalahannya yang telah tanpa sadar melukai perasaan istrinya. "Jika benar begitu apa pantas hanya karna masalah kecil saja ia sampai meminta cerai"pikirnya lagi karna ia tidak tau apa yang terjadi setelah ia pergi dari pesta itu.
*
*
Pagi pagi sekali setelah melaksanakan sholat subuh Mirna melangkahkan kakinya menuju dapur, ia berniat membantu ibunya memasak. baru akan melangkah masuk ia berhenti mendengar suara tawa ibunya dan seorang peria di dapur. "Apa itu bapakkah?,, suara tawa bapak terdengar berbeda dari biasanya tapi kalo bukan bapak siapa lagi, apa selingkuhannya ibu" batinnya konyol karna tak mungkin kakaknya Aldi ia tau sendiri kakaknya masih di Jakarta melanjutkan S2nya.
"Mir kamu lanjutkan masakan ibu, ibu mau sholat dulu nanti biar kalok bintang bangun ibu yang angkat" perintah ibu "nak William ibu tinggal dulu ya biar masaknya sama Mirna aja dia juga pintar masak lo"pamit ibu lagi dan pergi setelah di angguki kepala oleh William.
"Hy mir,,"sapa William tersenyum manis melihat Mirna begitu cantik dengan pakaian seadanya dan tanpa make up di wajahnya.
"Hyyyy mesummm apa kamu tak punya rumah sehingga pagi pagi buta begini nyumbang tenaga di rumahku biar bisa makan gratis tidak modal sekali hidupmu itu katanya dokter tapi pagi pagi bukannya mandi sikat gigi dan bekerja tapi malah numpang makan di rumah orang atau kamu juga mau numpang mandi sekalian di rumahku apa keran di rumahmu mati atau kamu memang tak ada kamar mandi atau mungkin tak ada rumah dasar gelandangan" hardik Mirna tanpa titik dan koma. William yang mendengarnya ternganga melihat Mirna berbicara begitu cepat dalam sekali tarikan nafas.
Prokk prokk prokk William bertepuk tangan memberikan apresiasi karna keberhasilan Mirna berbicara panjang kali lebar.
"Heyyy,,, kamu mau mati ya" barang Mirna melotot sambil menodong pisau karna kesal dengan William yang bukannya tersinggung malah bertepuk tangan. "Apa maksudnya monyet ini bertepuk tangan menyebalkan sekali" batinnya kesal dan pergi menyelesaikan pekerjaan dapur dari pada melayani William biasa bisa dia mati kelaparan.
Wiliam yang melihat itu hanya tersenyum geli melihat kekesalan Mirna. tidak percuma dia sengaja lari pagi di taman deket pasar tempat ibunya Mirna sering belanja.
#Flashback on
__ADS_1
William sengaja bangun pagi pagi sekali ia lasung berlari mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. setelah itu di lihatnya jam yang menujukan setengah lima, di ambilnya konci mobil dan ia lansung berlari keluar. para pembantu yang melihat itu terheran heran melihat majikannya yang menggunakan pakaian olah raga berlari dengan semangat, jika olahraga pun biasanya tidak segelap ini batinnya.
William celingak clinguk melihat kanan kiri matanya tidak pernah lepas dari gerbang menuju keluar pasar karna teringat perkataan ibu Maheswari yang katanya sebelum subuh ia suka sekali berjalan kaki berbelanja di pasar untuk membeli perlengkapan memasak buat sarapan. biar sayur yang di dapat lebih fresh dan kebetulan pasar juga tidak begitu jauh dari rumahnya.
sekitar sepuluh menit ia menunggu sambil matanya tak lepas dari gerbang pasar, ia tersenyum cerah melihat ibu Maheswari keluar membawa kantung belanjaan yang terlihat lumayan berat.
"Kesempatan" ucapnya semangat. "Tuhan memang menyayangi hambanya yang Soleh sepertiku" batinnya terkekeh. "Tidak percuma aku bangun pagi pagi dan berdoa lansung terkabul" selorohnya tertawa keras seperti orang gila.
Melihat ibu Mirna akan semakin mendekat ia sengaja berlari pelan mengangkat kaki dan tangannya, menengok kiri menengok kanan seperti orang gila. mungkin jika banyak yang melihat orang orang tak akan menyangka dia seorang dokter melihat tingkah lakunya yang begitu konyol. iapun terkekeh geli melihat kelakuannya sendiri.
Saat semakin dekat dengan ibu Maheswari ia sengaja menajamkan pengelihatannya. "Mertuanya pandukan, ibunya Yuni?" Tannyanya sok kenal. ibu Maheswari menajamkan ingatannya dan tersenyum cerah melihat siapa yang menyapannya.
"Eeeh nak William kan yang dokter itu, sepupunya nak pandu"tebak Maheswari tersenyum.
"Tepat sekali ternyata ibu selain cantik dan baik hati juga ingatannya kuat ya"puji William. ibu Maheswari yang mendengar itu terlihat tersenyum malu malu, mungkin kalau ada Yuni ia akan lansung berkata "Inget usia Bu bentar lagi banyak cucu"😂
"Nak pandu ngapain lari lari di sini bukannya tamannya di sana"Tunjuk Maheswari heran ke arah taman. di sana juga terlihat mobil William terpakir rapi. William yang mendengar itu tak kehabisan akal.
"Kalo larinya keliling taman mah udah biasa Bu makannya aku mau lari keliling pasar saja biar keren"ucapnya tersenyum yang di tanggapi anggukan bingung ibu Maheswari.
"Ibu mau pulangkan mari saya anter"tawarnya tanpa persetujuan mengambil kantong belanjaan. "Tapikan nak William mau lari pagi"jawab ibu Maheswari tak enak hati takut merepotkan.
"Udah aku kan gak tega ngliat perempuan secantik ibu berjalan dengan belanjaan berat begini apalagi ibukan mertuanya sepupuku pandu" ucapnya menggandeng ibu Maheswari menuju mobil.
"Wahhh ibu jadi gak enak hati gara gara nganterin ibu kamu gak jadi lari pagi keliling pasar"sesal Maheswari tak enak hati.
"Sudah gak papa Bu" jawab Rudi tersenyum polos agar terlihat natural tanpa ketahuan tujuan sebenarnya ingin bertemu Mirna.
flashback off
__ADS_1