Tak Sampai

Tak Sampai
Siapa aku bagimu


__ADS_3

"Mirna ambilkan nasi sama lauk buat William" perintah ibu


"Bu aku bukan istrinya" jawab Mirna tapi menuruti perkataan ibunya.


"Apa kamu mau menjadi istriku?" tanya William serius


"Kamu benar benar gila"jawab Mirna memelototi William.


"Ayolah aku hanya bercanda"ucapnya tertawa, sedangkan ibu dan bapak hanya geleng geleng kepala.


"Tidak tahu malu" ketus Mirna


Selesai makan William berpamitan kepada Mirna dan orang tuannya karna sebentar lagi ia akan berangkat ke rumah sakit.


"Ibu bapak terima kasih untuk sarapannya, rasanya aku ingin sering kesini untuk menumpang makan" ucapnya tersenyum


"Tentu boleh nak William"jawab bapak tersenyum.


"Apa tidak sekalian kamu menumpang mandi"ketus Mirna


"Wahh terimakasih tawarannya nona tapi tidak untuk pagi ini, tapi lain kali aku akan mencobanya"jawab william mengedipkan mata dan berlalu pergi.


"Tidak tahu malu"Ketus Mirna beranjak memasuki kamar.


Siangnya mirna terlihat cantik dengan rambut terurai panjang seta baju kaos putih berlengan pendek yang di padukan celana jins hitam sepatu putih dan tas selempang kecil berwarna hitam yang ia kenakan.


"Bu aku keluar dulu sebentar nanti bintang kalau rewel susunya udah aku taruh di kulkas"pamit Mirna buru buru keluar sebelum ibunya bertanya ia akan kemana.


Ia melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah, mobil mini hadiah ulang tahunnya yang ke 22 tahun dari Rudi, mobil mini Cooper peluncuran Inggris yang harganya sekirar 765 sampai 800 jutaan.


Rudi memang terbilang memanjakannya memberinya banyak fasilitas mewah tapi dia tak bahagia sebab begitu banyak cemooh dan sakit hati yang ia terima.


Mirna memarkirkan mobilnya saat sampai di kafe yang dulu pernah ia kelola bersama Rudi, matanya berkaca kaca mengingat bagaimana ia dulu jatuh bangun menemani mantan suaminya itu dari nol.


"Kafe ini semakin rame saja" batinnya.

__ADS_1


baru ia akan melangkahkan kakinya masuk terlihat Dimas sekertaris Rudi menghampirinya.


"nyonya tuan sudah menunggumu di ruangannya" ucap Dimas sambil mempersilahkan Mirna untuk mengikutinya.


Mirna melihat sekeling kafe semenjak melahirkan ia jarang mengunjungi kafe ini alapalagi semenjak bercerai ini baru yang pertama setelah tujuh bulan ia tak pernah kesini.


"Silahkan nyonya" ucap Dimas membuka pintu, setelah Mirna masuk kedalam ia menutup pintu dan berlalu pergi meninggalkan ruangan bosnya.


Mata Mirna celingak celinguk melihat ruangan Rudi. "Dimana mas Rudi katanya ada yang ingin di bicarakan" tanyanya pada diri sendiri.


Tadi pagi saat akan mandi Rudi menghubunginya ingin bertemu di kafe miliknya. "mungkin di toilet"batinya.


Baru saja ia berbalik akan melihat pengunjung kafe dari jendela ruangan tiba tiba ia di kejutkan dengan tangan yang melingkar erat di perutnya.


"Biarkan seperti ini sebentar jangan di lepaskan" pinta Rudi yang tau Mirna akan memberontak. "Aku sangat merindukanmu" lanjutnya lagi menghirup wangi rambut yang begitu ia rindukan.


Mirna yang mendengar perkataan Rudi terdiam dan membiarkan Rudi memeluknya dari belakang karna jujur dia juga sangat merindukan dekapan hangat peria ini.


"Apa yang ingin kamu bicarakan mas"tanya Mirna tanpa melihat Rudi.


"Jangan terburu buru aku masih ingin memelukmu sebentar saja"jawab Rudi mengeratkan pelukannya.


Mendengar perkataan mirna Rudi melepaskan pelukannya, ia duduk di sofa ruangannya dengan raut wajah kecewa Mirna yang melihat itupun ikut duduk berhadapan dengannya.


"Mir aku ingin kita bersama lagi demi Bintang"pinta Rudi menatap mata Mirna.


"Aku gak bisa mas, sudah cukup rasa sakit yang aku alami selama ini"jawab Mirna


"Mir aku minta maaf, aku menyadari kesalahanku yang kurang peka dan membiarkan keluargaku mencemoohmu tapi kamu juga harus mengerti posisiku mereka keluargaku"ucap Rudi penuh harap.


"Jika mereka keluargamu lalu siapa aku bagimu" tanya Mirna


"Tentu saja kamu istriku ibu dari putraku" jawab Rudi


"Kau tau aku ibu dari anakmu tapi kau biarkan ibu dari anakmu di cemooh keluargamu, di mana tanggung jawabmu sebagai suamiku?" tanya Mirna. "Apa pantas seorang suami yang tugasnya melindungi istrinya melalaikan tanggung jawabnya, apa pantas seorang suami hanya menjadi penonton melihat istrinya di cela dan di remehkan, apa pantas seorang suami hanya berdiam diri melihat perlakuan tak pantas keluarganya terhadap istrinya?" lanjutnya menatap Rudi yang hanya terdiam.

__ADS_1


"Suami macam apa kau ini,,, aku tak memintamu memarahi mereka, aku juga tak memintamu mencela dan menghina mereka seperti yang mereka lakukan kepadaku. tapi aku hanya ingin kamu mempertahankan kehormatan ku sebagai istri dan ibu dari anakmu"menekan setiap kalimatnya.setelah itu ia berdiri dan lansung pergi tanpa menghiraukan Rudi yang berusaha menahannya.


Di dalam mobil Mirna menitikan air mata, ia lansung melajukan mobilnya setelah melihat Rudi yang keluar ruangan mengejarnya.


"Tuhan apa keputusanku sudah benar"ucapnya menitikan air mata. ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karna sudah merasa frustasi dengan keadaan yang menimpannya.


Dari belakang terdengar suara klakson mobil yang mencoba mengejarnya, ia tak perduli dan terus melajukan mobilnya kencang.


Mobil yang mengejarnnyapun tak tinggal diam ia terus melaju kencang dan mendahului mobil Mirna..


Mirna yang hampir menabrak mobil yang menggahadangnyapun keluar dengan air mata dan amarah yang meluap luap.


"Haeeyy keluar kamu sialannn, apa kamu mau mati"teriaknya menggedor pintu mobil itu keras.


Pemilik mobil keluar dengan jas putih kedokterannya, Mirna yang melihat siapa pemilik mobil itu semakin di buat marah.


"Kamuuu lagiiii" barangnya dengan mata berkilat marah melihat William. "kenapa kamu selalu menngangu hidupku, apa masalahmu sebenarnyaaa" teriaknya mendorong dada peria itu. "kenapa semua laki lakii di dunia ini sangat menyebalkan" teriaknya lagi menutupi wajahnya yang menangis.


"Aku benci kalian, aku benciii sangat sangat benci"lanjutnya terduduk menutupi wajahnya yang penuh dengan air mata.


William yang merasa kasihan mengangkat tubuh Mirna yang terduduk, ia mengendong Mirna memasuki mobilnya apalagi saat melihat orang lalu lalu lalang berbisik memperhatikan mereka berdua.


Di dalam mobil Mirna hanya menangis sekeras kerasnya, William yang melihat itu hanya terdiam membiarkan Mirna menangis tanpa mau menyuruhnya berhenti. mobil di lajukan dengan pelan sesekali ia melihat kearah Mirna yang sesegukan, sesejujurnya ia sangat ingin menenangkan Mirna, memeluknya erat agar wanita itu tenang tapi ia tak punya keberanian melakukan itu.


Satu jam kemudian William sampai di apartemen elit miliknya yang ia sering gunakan saat ingin mencari suasana baru.


Ia menghentikan mobilnya menengok kesamping melihat Mirna yang tertidur pulas menyandar di jendela mobil.


William memperhatikan wajah Mirna yang terlihat sembab dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


Di usapnya pipi Mirna pelan di selipkannya rambut bergelombang yang menutupi setengah wajah cantik itu "Apa yang akan kamu katakan jika sadar aku membawamu ke apertemenku tanpa seizinmu"ucap William pelan.


William membuka mobil dan menngendong Mirna menuju alertemen miliknya.


Sesampainya di sana William lansung menekan password dan mengendong Mirna masuk menuju kamarnya.

__ADS_1


Di baringkannya Mirna di atas ranjangnya di letakkannya tas selempang kecil berwarna hitam itu di atas meja, lalu ia beralih ke Septu putih dan dilepaskannya, di tariknya selimut sampai menutupi setengah tubuh wanita itu.


Sebelum keluar di kecupnya kening Mirna lama. "Tidurlah sayangg,, izinkan aku masuk mengantikan dia dan membahagiakanmu" bisiknya pelan.


__ADS_2