Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Maaf


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Uni..." Nirmala menarik jemari wanita yang tengah menyiram bunga lalu mengecup punggung tangannya.


"Wa'alaikumsalam..." jawab uni Ara. "Loh, kenapa kamu udah masuk kerja? Kan, kakimu masih cedera." Ara mengusap-usap lengan Nirmala, menatap dengan hangat. Padahal dia sudah memberikan cuti tiga hari untuk Nirmala beristirahat. Namun, gadis itu tetap saja memaksakan diri.


"Kaki Nirmala udah enakan kok, Uni. Tuh lihat!" Gadis berjilab cokelat menggerak-gerakan kakinya untuk meyakinkan.


Ara tersenyum kecut. "Iya-iya, Uni percaya. Tapi kalau kaki kamu kerasa sakit lagi, bilang ya sama Uni...."


"Iya Uni yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong," sahut Nirmala bergurau.


"Ada-ada aja kamu itu." Ara geleng-geleng kepala dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Nirmala mengambil ceret dari tangan Ara. "Biar Nirmala aja yang nerusin nyiram bunganya. Uni, sarapan dulu, gih...."


Ara mengerutkan dahi. "Kok, bisa tau kalo Uni belum sarapan?"


Nirmala terkekeh, "Yah Uni ... Nirmala ini kan, punya indra keenam. Jadi bisa tau kalau Uni belum makan pagi."


"Eh, seriusan?" sahut Ara serius.


Nirmala tertawa sambil menunjuk ke arah meja. "Bercandalah, Uni. Tuh di atas meja, ada bungkusan nasi belum dibuka. Makanya Nirmala bisa nebak kalo Uni belum makan."


Ara turut tertawa seraya geleng-geleng kepala. "Sejak kapan kamu jadi pelawak, Mala? 'Nggak kewajahan tau. Muka kamu tuh terlalu manis buat ngelawak."


"Ye... Uni ini bisa aja," sahut Nirmala tersipu malu. Gadis itu lanjut menyirami bunga seraya bersenandung. Tidak lupa menggunting daun-daun kering kemudian menyapu area toko bunga agar nampak bersih dan asri.


Sudah satu jam Nirmala berkutat dengan tugas-tugasnya. Satu per satu diselesaikan dengan cekatan. Kini dia beristirahat sembari menunggu pelanggan datang.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian ada sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan toko bunga uni Ara. Nirmala terkesiap dan buru-buru berdiri untuk menyambut pelanggan pertama. Akan tetapi, orang yang keluar dari dalam mobil tersebut adalah laki-laki yang tak asing di matanya.


"Bara?" panggil Nirmala sumringah. Gadis yang sudah beranjak dewasa itu menyadari sikap yang tidak semestinya. Dia kembali menundukkan kepala dan bertanya dengan nada suara rendah. "Mau beli bunga lagi?"


Bara berjalan satu langkah mendekat. "Nggak... aku ke sini mengantarkan Om Rudi buat ketemu sama kamu."


Nirmala mengangkat wajah dan meruncingkan kedua kelopak mata. Mencoba untuk mengenali pria paruh baya yang berdiri di depannya. Ingatan Nirmala meraba-raba wajah asing tersebut. "Maaf, Om siapa? Apa saya pernah bertemu dengan Om sebelumnya?"


Rudi melirik ke arah Bara dan pemuda di sampingnya menganggukkan kepala. "Ini Om Rudi, ayah dari orang yang menyerempet kamu."


Kening Nirmala mengerut lantaran dia belum mengetahui maksud dari kedatangan Rudi menemuinya. "Apa ada yang bisa saya bantu, Om?"


Napas Rudi terasa berat, dia ingin mengutarakan apa yang tersimpan di dalam pikiran. Namun, tidak tahu mengapa begitu sulit. Pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak itu malah menangis sesenggukan. Nirmala semakin tidak mengerti. Dia menoleh ke arah Bara untuk meminta jawaban.


Bara menarik ulur napas dan menjawab pertanyaan Nirmala yang terucapkan dari sorotan mata. "Om Rudi mau meminta maaf atas kesalahan putrinya... beliau ingin, kasus tabrak lari kemarin diselesaikan secara kekeluargaan. Karena orang yang nyerempet kamu, sekarang lagi ada di kantor polisi."


"Aku yang melaporkannya ke pihak berwajib," jawab Bara. Kalau kamu berkenan, ikut kami ke kantor polisi sekarang. Itupun, jika kamu bersedia memaafkan putri Om Rudi. Dan aku pun akan dengan senang hati buat mancabut laporanku."


"Maafkan putri Om, ya Nak. Dia memang sudah salah ... tapi Om gak tega lihat anak bungsu Om kalau harus mendekam di penjara," timpal Rudi. "Dia seusia denganmu, lagi senang dengan dunia barunya. Om janji... Om akan mendidik putri Om lebih baik lagi." Rudi menelungkup kedua tangan, memohon kebaikan hati Nirmala agar sudi memaafkan putrinya.


Nirmala tersenyum ramah. "Saya sudah memaafkan putri Om semenjak kejadian kemarin. Mudah-mudahan semua ini bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk putri Om."


"Terima kasih ya Nak... terima kasih," sahut Rudi bahagia.


"Sebentar ya Om, saya minta izin dulu sama pemilik toko bunga." Nirmala pamit untuk menemui uni Ara. Wanita paruh baya itu mengiyakan permintaan Nirmala. Dan mendoakan kebaikan untuk semua orang.


Nirmala pergi bersama Rudi dan Bara ke kantor polisi. Dia duduk di kursi penumpang dengan Bara di sampingnya. Gadis berkerudung itu memberi jarak, tetapi Bara seakan semakin mendekat. "Maaf... aku gak terbiasa dekat-dekat sama cowok, kamu bisa geser gak?"

__ADS_1


Bara tersenyum tengil. "Maaf... 'nggak bisa."


Nirmala mengerdipkan mata, wajahnya merona karena rasa malu yang tidak bisa dia tutupi. Belum lagi degup jantung semakin tak terkendali, ingin rasanya segera sampai ditujuan dan berjauhan dari pemuda yang selalu membuatnya salah tingkah.


"Pipimu memerah, Nirmala... aku suka." Bara terus saja menggoda Nirmala, membuat gadis itu semakin membenamkan wajahnya. "Ntah mengapa melihat kamu seperti ini, aku semakin tertarik."


Rudi yang mendengar pemuda di belakang kursinya tengah menggoda seorang gadis, dia berdeham dan menahan tawa. "Pepet terus, Nak... Om dukung. Om jadi teringat dulu zaman masih muda, persis kaya kamu kelakuannya."


Bara menggaruk kepala karena tidak menyangka kalau Rudi ternyata memperhatikan gerak-geriknya selama di dalam mobil. Nirmala tertawa kecil dengan telapak tangan menutupi mulut. Bara lagi-lagi terpana, bukan hanya pada pandangan pertama. Namun, pada pandangan kedua, ketiga dan pada setiap pertemuan yang tidak pernah disengaja.


...***...


Kantor Polisi pukul 13.00


"Selamat siang Pak..." Rudi menghadap anggota polisi yang menangani kasus putrinya. Dia menjelaskan kedatangannya untuk kedua kali bersama seorang gadis muda. Pria berseragam tersebut meminta Nirmala untuk duduk berhadap-hadapan dan memberikan kesaksian.


Gadis itu tanpa ragu menandatangani surat yang menyatakan bahwa dia tidak dalam kondisi tertekan atau pun mendapat ancaman. Dia melakukannya dalam keadaan sadar dan dengan tulus ikhlas. Demikian juga dengan Bara, pemuda itu mencabut laporannya karena Nirmala bersedia berdamai dengan si pelaku.


"Terima kasih atas kerja samanya," ucap salah seorang petugas kepada Nirmala dan Bara. "Yang bersangkutan akan kami bebaskan. Namun, dengan masa percobaan selama satu bulan. Kalau satu waktu dia melakukan kesalahan yang sama, dengan terpaksa hukuman penjara akan dilanjutkan."


"Saya akan memastikan kalau kejadian serupa tidak akan terjadi lagi," imbuh Rudi sembari membungkukkan badan.


Seorang petugas kepolisian, mengeluarkan pelaku dari dalam sel tahanan sementara. Dan alangkah terkejutnya Nirmala lantaran dia mengenali sosok perempuan yang berjalan lesu ke arahnya. Sosok itu tak lain adalah teman karib Nala, saudara kembarnya.


"Mo-Mona?"


...******...

__ADS_1


__ADS_2