Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Motor Butut


__ADS_3

...Saat jiwa terasa hilang, hingga jalan yang kulalui tampak penuh fartamorgana. Ujian hidup yang mendera, seolah duri yang terbenam di sela-sela nadi. Tetapi, semua itu merubah rapuh menjadi kuat. Meski jiwa terhamparkan begitu jauh....


...*****...


Siang yang terik terasa semakin panas, saat mobil mengkilap melewati gerbang utama menuju tempat parkir khusus mahasiswa. Orang-orang yang berlalu lalang awalnya tidak mempedulikan kendaraan tersebut karena bukan hal mengherankan kalau mahasiswa membawa kendaraan pribadi ke kampusnya. Namun, suara hantaman benda keras seketika menghentikan langkah-langkah mereka.


"Ada apa itu, ayo lihat!" sahut seorang mahasiswa yang tidak diketahui namanya. Orang-orang yang berada di sekitar, berbondong-bondong berdatangan ke arah sumber suara itu berasal.


"Motorku!" pekik Nirmala saat menyadari kalau suara hantaman itu adalah suara motornya yang terjungkal. Dia langsung berlari dan menghampiri mobil yang membuat kendaraan beroda dua itu terguling.


Gadis berjilbab ungu menepuk-nepuk kaca jendela mobil agar si pengendaranya mau bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. "Keluar!! Hey, ayo keluar jangan diam saja!!"


Mahasiswa lain membantu Nirmala untuk mendesak pemilik kendaraan berwarna merah itu untuk keluar. Mereka menepuki kaca jendela yang nampak gelap dari arah luar.


"Heh, keluar lu!!"


"Woy... apa perlu kita pecahin nih kaca mobil lu?"


Setelah beragam makian meluncur untuk si pemilik mobil dengan nomor polisi D 1234 N, akhirnya terdengar suara kunci otomatis terbuka. Handle pintu ditarik, Nirmala mundur untuk memberikan ruang. Betapa terkejutnya gadis itu, saat seseorang yang dia kenal keluar dari kendaraan di depannya. "Nala?"


"Iya ini gue, kenapa lu. Kaget? Atau iri?" ketus Nala menyebalkan. "Apaan sih pada heboh orang cuman motor butut juga?! Lagian nih ya, motor macam begitu gak level berada di kampus benefit ini!" cibir Nala.


Nirmala menggeram kesal, dia menyorot tajam ke arah kembarannya. "Berdiriin motorku!"


"Ogah!!" sahut Nala.


"Berdiriin!!" ulang Nirmala.


"Sekali ogah, ya ogah!!" Nala mendorong dada Nirmala kencang. Gadis berkerudung itu spontan mencengkeram tangan Nala lanjut memelintirnya.


"Aw..." keluh Nala kesakitan. "Lepasin gue cewek barbar!!" jerit Nala pada adik kembarnya. Tetapi, Nirmala tidak juga melonggarkan cekalan tangannya.


"Aku gak bakalan lepasin kamu, sebelum kamu meminta maaf!!" pekik Nirmala jengah. "Dan kamu harus tanggung jawab sama kerusakan motorku, Nala!!"

__ADS_1


"Iya-iya... gue minta maaf," jawab Nala. "Sekarang lepasin gue. Gimana mau bantu benerin motor lu kalau tangan gue dipegang gini," cicit Nala meringis.


Nirmala melepaskan tangan Nala dari cengkeraman. "Ayo bantu aku ngangkat motornya!!"


Nala mengikuti Nirmala membungkuk untuk sama-sama menarik motor yang menjempalit itu. Tangan keduanya bersiap mengangkat kuda mesin. Namun, teriakan Nala menjeda gerakan tangan mereka. "Bara?"


Nirmala sontak memutar kepala mengikuti arah manik mata Nala. Garis muncul di antara alisnya, dengan bola mata bergerak-gerak mencari keberadaan lelaki yang namanya disebutkan oleh Nala. Gadis seksi itu menyeringai licik. Melihat Nirmala lengah seperti ini, dimanfaatkan untuk melarikan diri. Dia mendorong kasar tubuh Nirmala lalu secepat angin berlari menjauh. "Kasihan deh lu! Rasain tuh bokonglu nyium aspal!!"


Orang-orang hanya menatap Nirmala yang terjengkang tanpa berniat untuk membantunya berdiri. Hingga suara berat seorang lelaki, terdengar di antara kerumunan. "Sini, saya bantu!!"


Nirmala mendongak untuk melihat siapa yang berbicara. Dia tersenyum tipis karena lelaki yang ingin menolongnya, ternyata pemuda yang pernah menjadi imam ketika salat di musala kampus.


"Aku aja yang bantu!" Bara tiba-tiba datang dan turut mengulurkan tangan ke arah Nirmala. "Zain, kamu 'kan paling anti bersentuhan sama yang lain muhrim, kenapa mendadak mau ngebantu Nirmala. Pakai ngulurin tangan lagi!" sinis Bara pada pemuda di sampingnya.


Zain mendesah, "Kali ini darurat karena aku lihat Nirmala terjatuh sangat kencang tadi. Dan nggak ada satu pun yang mau nolongin dia. Aku yakin Nirmala saat ini kesulitan buat berdiri."


"Halah, alibi!" sergah Bara.


"Terserahlah..." tampik Zain.


"Dasar bocah!!" cibir Zain.


"Dasar muna!!" balas Bara.


Nirmala geleng-geleng kepala seraya mendengkus dan berusaha mengangkat tubuhnya meski dia merasakan nyeri di bagian tubuh belakang. Susah payah Nirmala bangkit untuk berdiri lalu menuntun motornya meninggalkan dua pemuda yang tengah bertikai untuk hal tidak jelas. "Kaya anak kecil aja kelakuan mereka!"


"Nirmala mana?" pekik Zain menyadari kalau gadis yang ingin dia tolong sudah menghilang. Dia berikut Bara merotasi kepala mencari keberadaan Nirmala. Nampak gadis itu tengah membawa motornya sembari berjalan tertatih.


"Itu Nirmala!!" tunjuk Bara ke arah pintu gerbang. Dia melirik ke arah Zain sesaat. Keduanya menganggukkan kepala dan sama-sama berlari menyusul Nirmala.


Bara beserta Zain berhasil mendahului Nirmala. Mereka berdiri di depan gadis itu seraya merentangkan tangan untuk menghalangi laju langkahnya.


"Biar motornya kita yang bawa aja," tawar Bara. "Nanti aku dan Zain masukin motor kamu ke bengkel langganan," tambah Bara.

__ADS_1


Nirmala menatap ke arah Bara dan Zain secara bergantian lalu menundukkan kepala. Sebelah kakinya dihentak-hentakkan ke atas tanah, dia tengah menimang-nimang tentang tawaran yang disuguhkan kedua pemuda di depannya.


"Kita ikhlas kok, nolongin kamu..." kata Zain memengaruhi pikiran Nirmala.


"Bener dah, sumpeh!!" Bara menimpali seraya mengacungkan jari telunjuk dan tengah bersamaan.


Nirmala mengangkat wajah dan kembali memandang Bara juga Zain, lalu mendesah pelan. "Baiklah... kalau gak ngerepotin."


"Nggak ngerepotinlah," sahut Bara.


"Kamu pulang naik apa?" tanya Zain.


"Aku naik bis damri aja," jawab Nirmala.


"Oh..." balas Zain. "Aku antar kamu ke depan jalan ya, sampai bis yang ditunggu datang," tawar pemuda itu berjalan mendahului. Nirmala menoleh sesaat ke arah Bara lalu mengikuti Zain dari belakang.


"Kesempatan dalam kesempitan!" gumam Bara kesal. Dia menatap tajam ke arah Zain sembari memegangi motor Nirmala.


...***...


"Sudah berapa kali saya tegaskan, selama perkuliahan berlangsung matikan handphone kalian!!" bentak dosen karena mendengar suara nada dering dari salah satu ponsel mahasiswanya. Dan benda yang berbunyi itu adalah milik gadis sombong, Nala Susanto.


Bukannya mematikan ponsel tersebut, Nala malah menerima panggilan seseorang. "Apa om? Nala lagi kuliah nih!"


"Oh, oke-oke... nanti Nala ke kantor om!"


Belum sempat Nala mematikan sambungan teleponnya, sang dosen sudah lebih dahulu merampas telepon genggam tersebut dari tangan Nala. "Keluar!!!"


Nala tersentak karena suara teriakan dosennya tepat di depan telinga. Dia menggosok-gosok alat pendengarannya itu dengan gurat wajah tidak merasa bersalah sedikit pun. "Apaan sih Pak? Orang lagi nerima telepon juga!"


"Nerima telepon ada waktunya, Nala!!" bentak sang dosen.


"Biasa aja sih Pak, gak perlu pake teriak-teriak segala! Ntar, darah tingginya kumat loh..." sahut Nala menjengkelkan.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2