Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Syarat


__ADS_3

"Hai guys, berhubung gue lagi happy ... gue traktir loe semua hari ini." Nala tiba-tiba masuk ke dalam kantin, membuat kehebohan di siang bolong. Semua orang bersitatap dan saling melempar tanya karena meragukan perkataan gadis yang mengenakan rok mini tersebut.


Nala yang seakan mengerti keadaan, dia kembali berteriak lantang. "Gue gak bercanda, nih lihat duit gue buanyak. Loe pada gak usah malu-malu, gue bayarin semuanya...."


Semua orang memekik riang dan berbondong-bondong beringsut untuk memesan makanan yang diinginkan. Nala menghampiri Mona yang tengah melamun dipojokkan lantas duduk di hadapan sahabatnya itu. "Loe kenapa Mon, kayanya dari tadi kaya ngehindarin gue terus. Loe ada masalah? Atau loe marah sama gue? Tapi emangnya gue punya salah apa sama loe?"


Mona lekas berdiri dari tempat duduknya. Dia tidak ingin bersinggungan dengan Nala, mengingat hal yang terjadi pada dirinya disebabkan oleh keegoisan teman karibnya itu. Nala mengernyit, bingung dengan sikap Mona yang berubah seketika.


"Heh Mon, loe mau ke mana?" tegur Nala turut berdiri. Dia mengikuti langkah Mona kemudian mencekal tangan sahabatnya. "Loe ngehindarin gue gara-gara mobil bokap loe baret-baret, 'kan? Baperan loe Mon jadi cewek!" Nala menoyor kepala gadis di depannya, berbicara dengan nada sinis.


Mona yang tidak terima dengan perlakuan Nala, tiba-tiba menyerang gadis itu dengan kasar. Dia menjambak rambut Nala lantas mencakar pipinya sehingga meninggalkan bekas luka.


"Apa-apaan loe, Mon?" Nala membalas tak kalah beringas. Dia turut menarik rambut Mona tiada ampun kemudian menendang perut sahabatnya itu sekuat tenaga. "Cewek sialan! Nggak tau diri banget sih loe. Lihat, apa ada yang mau berteman sama cewek freak macam loe, selain gue?"


Semua orang menyaksikan pertikaian kedua sahabat itu dengan suka cita. Tidak ada satu pun yang berusaha melerai karena bagi mereka pertengkaran ini adalah tontonan yang sangat menghibur di tengah kepenatan urusan kuliah.


"Loe yang gak tau diri, Nal! Gara-gara loe, gue hampir aja ditahan di penjara!" geram Mona meluapkan apa yang bersarang di dalam hati. "Untung aja adik loe itu baik, dia mau maafin gue yang udah nyerempet dia. Harusnya loe bersyukur punya kembaran macam Nirmala, bukannya malah bikin anak itu celaka!!" bentak Mona dengan jari telunjuk mengacung di depan wajah Nala.


Nala kembali menarik rambut Mona. Begitu pun juga dengan Mona. Mereka kini saling tarik menarik rambut, saling mencakar yang disaksikan berpasang-pasang mata. Semua orang bersorak memberi semangat, agar kedua perempuan tersebut tidak menghentikan aksinya.


"Hajar Mon!!!"


"Jangan mau kalah, Nal! Hajar juga si Mona!"

__ADS_1


Seseorang datang kemudian menyiram kedua perempuan tersebut menggunakan air dari dalam ember. "Kalian kalau mau duel, di ring tinju aja sekalian! Jangan di kantin! Norak!!!"


Nala memekik kesal sembari menghentak-hentakkan kedua kakinya ke lantai. "Bara... baju gue basah kuyup! Gimana ini?"


Bara menarik bibirnya ke salah satu sudut. "Kalau anjing sama kucing saling hajar, udah paling bener disiram. Masih untung kalian gue siram pake air bersih, bukan pake air comberan!"


Nala dengan perasaan murka, beranjak dari kantin dan menubruk kencang bahu Bara. Dia diam sesaat lanjut menoleh ke arah pemuda yang membuatnya naik pitam. "Awas aja loe, Bar! Gue bakal bales kelakuan loe hari ini. Ingat baik-baik omongan gue, cowok gila!"


Bara memutar bola matanya malas lalu membalas tatapan Nala. "Oke... gue tunggu. Jangan cuman cuap-cuap doang, tapi realisasikan!!"


Nala mengeratkan kepalan tangan, sinar mata menyala mengisyaratkan amarah di dalam dada. Napasnya pun terdengar kasar. "Oke... jangan salahkan gue kalau suatu saat bikin hidup loe ancur. Karena apa? Karena loe sendiri yang nantangin gue. Nggak ada satu orang pun yang bisa menggertak seorang Nala, termasuk loe!!"


Bara menganggap angin lalu ancaman dari Nala barusan. Dia sangat yakin kalau perempuan manja itu tidak akan berani bertingkah macam-macam. Tapi kita tidak pernah tahu isi hati dan pikiran seseorang, bukan?


Seorang gadis duduk bersidekap dengan bibir dilipat ke depan. Wajah yang ditekuk menyiratkan kalau amarah tengah merasuki diri.


"Kamu kenapa sayang?" Seorang pria bertanya seraya menggenggam erat tangan wanitanya.


Gadis itu menoleh sepersekian detik lantas mendelik sebal. "Apa Om nggak lihat, bajuku basah begini? Pake nanya lagi!"


Pria tersebut menilik pakaian yang dikenakan oleh sang gadis. "Bajumu basah sayang, kenapa bisa? Padahal nggak hujan loh di luar sana. Tapi menurut Om, kamu malah keliatan lebih seksi."


Bibir yang semua dilipat sekarang mengerucut manja. "Seksi gimana sih, Om? Yang ada aku tuh kedinginan, tau!"

__ADS_1


Pria tersebut tergelak karena celotehan gadis di sampingnya. "Mau Om angetin gak, biar kamu gak kedinginan lagi?"


Perempuan muda itu melirik lantas mencubit pinggang pria yang ia sebut dengan om. "Om suka gitu deh! Suka cari-cari kesempatan dalam kesempitan!"


"Namanya juga laki-laki normal, lihat dadamu ngejiplak kaya begitu. Mana tahan...? Jiwa muda Om kembali meronta-ronta!" sahut pria itu tanpa ada rasa malu sedikit pun. Padahal usianya sudah lebih dari setengah abad. Tapi tingkah lakunya tak ubah bak anak remaja yang tengah berpacaran.


"Iya-iya... tapi Nala bener-bener kedinginan nih, Om. 'Ntar kalo Nala sakit, gimana?" rajuk Nala karena dia menyimpan satu keinginan.


Sakti menyunggingkan senyuman. "Kita ke mall deh, beli baju buat kamu. Tapi dengan satu syarat...."


"Ah... malesin ah...! Om itu dari awal dikit-dikit syarat, apa-apa pake syarat! Bener-bener malesin!" protes Nala yang sudah bisa menebak arah perkataan Sakti.


Sakti lagi-lagi tertawa melihat tingkah Nala yang menurutnya begitu menggemaskan. "Kali ini Om nggak akan minta yang aneh-aneh, kok. Suer."


Kedua alis Nala tertarik ke atas, menerka-nerka apa yang Sakti inginkan darinya. "Terus... apa yang Om mau dariku kalo bukan sesuatu yang sering diperdebatkan selama ini?"


Sakti membungkuk dan memiringkan wajahnya ke arah Nala. Menatap dalam manik mata lantas memandangi bibir ranum berwarna merah jambu. Dia membelai bibir yang sudah berkali-kali dicicipi lanjut memberikan kecupan tipis. "Om cuman ingin, sesekali lihat kamu pakai jilbab kaya kembaranmu. Pasti bakalan lebih cantik."


Nala tanpa berpikir panjang, langsung mengiyakan permintaan Sakti tersebut. Karena di dalam otak Nala pun terbesit rencana licik pada saudara kembarnya itu. "Oke Om, Nala setuju. Asal Om beliin apa pun yang aku mau...."


"Tenang saja, sayang. Kamu mau apa, tinggal tunjuk. Om yang bayar semua!" Sakti menyalakan mesin mobil mewah kemudian melesat kilat menuju pusat perbelanjaan terbesar di kotanya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2