Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Bahagia


__ADS_3

...Jangan terlalu mengutuk hitam. Karena tanpa hitam, putih itu tak akan lebih istimewa....


...*****...


Pukul setengah lima pagi di saat orang-orang masih terlelap. Gadis yang bernama Nirmala, tengah mencurahkan isi hati kepada Sang Pemilik alam semesta. Mengadukan segenap kepedihan dan ujian hidup yang mendera. Rasa sakit yang bertubi-tubi belum jua terlepas dari hidupnya. Seakan menjadi teman setia yang selalu menemani dan enggan beranjak pergi.


Tetes demi tetes, air mata menitik. Membasahi sajadah yang terhampar, menjadi saksi bisu setiap kepingan lara hati dan doa yang terucap. Mengetuk langit, mengharap limpahan kasih sayang dari Sang Maha Pemurah. Pemilik hati setiap manusia dan Maha membolak-balikkannya.


Untaian doa serta lantunan kalam Illahi, membasahi jiwa yang haus akan Rahmat Tuhan. Setiap huruf dan setiap ayat menjadi pelipur segala keresahan yang bersumber dari dalam hati.


"Sompret!! Kenapa gue jadi ketagihan dengerin si anak pembawa sial baca Qur'an?!" gumam Arman dari balik dinding. Setiap pagi dia mengendap-endap ke musala untuk mendengarkan anak perempuannya mengaji. "Ah... persetan!! Gue mending balik lagi ke kamar, molor!!"


Baru berjalan beberapa langkah, suara merdu Nirmala kembali terdengar. Arman terdiam kaku, seolah ada sesuatu yang menarik kakinya untuk kembali mendengarkan Nirmala membaca al-Qur'an. "Ah... ada apa dengan gue, kaya kena sihir gini?!"


Arman berjalan mundur dan memasang telinga untuk menangkap suara yang telah menjadi candu baginya. Ada ketenangan yang dia dapatkan selama bait-bait cinta yang menjadi mukjizat Rasul Allah tersebut dilantunkan oleh anak yang amat dia benci.


Nirmala terus membaca al-Qur'an karena dia tahu bahwa Arman tengah menguping sedari tadi. Di balik nestapa, ada sejumput kebahagiaan yang Allah berikan untuk sang gadis piatu. Maha Adil Allah pada setiap makhluk-Nya.


Kini jarum jam menunjukkan pukul lima lebih. Nirmala menyudahi mengaji karena pagi ini dia akan mengikuti hari pertama orientasi mahasiswa baru di kampusnya.


"Shadaqallahul 'Adziim..." Nirmala mencium kitab umat Islam tersebut lalu disimpan di atas nakas. Arman yang menyadari kalau Nirmala telah selesai dengan aktifitasnya, buru-buru kembali ke kamar karena tidak ingin Nirmala memergoki dirinya.


"Ah... untung gue cepat-cepat balik ke kamar. Kalau kagak, mau ditaruh di mana muka gue?!" Arman mengusap-usap dadanya bersandar ke daun pintu. "Nanti itu anak besar kepala lagi, tau papanya menyelinap cuman buat dengerin dia ngaji. Bisa-bisa harga diri gue runtuh!" Arman terus saja berbicara dengan diri sendiri, menampik segala kebaikan putrinya dengan alasan yang tidak masuk akal.


Nirmala menghela napas, senyuman manis tersungging dari kedua sudut bibir. Ntah mengapa mengetahui Arman setiap subuh memperhatikannya, ada kebahagiaan tersendiri di dalam hati Nirmala. "Alhamdulillah ya Allah... sedikit demi sedikit Engkau memberikan hidayah untuk papa hamba...."

__ADS_1


Gadis berusia dua puluh tahun itu melipat mukena yang telah dipakainya. Mukena peninggalan Azizah yang dia jahit dan disambungkan kembali menggunakan tangan. Meski bentuknya tak beraturan, tapi bagi Nirmala memiliki keistimewaan tersendiri.


Setelah merapikan musala, Nirmala lekas-lekas ke dapur untuk menanak nasi dan menyiapkan sarapan untuk ayah dan saudara kembarnya. Dia memasak hidangan sederhana yang dipelajari dari buku resep makanan.


"Em... garamnya pas," gumam Nirmala mencicipi masakannya sendiri. "Semoga papa dan Nala suka dengan sarapan hari ini." Nirmala mengulum senyum dan mengangkat semua santapan tersebut lalu menatanya di atas meja makan.


Meski terasa lelah, mau tidak mau Nirmala harus membersihkan rumah tanpa ada satu ruangan pun yang terlewati. Tidak tahu mengapa, Arman tidak ingin menyewa seorang asisten rumah tangga, padahal kediamannya itu tergolong besar dan luas.


"Ya Allah sudah jam enam!" Nirmala bersegera untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena dia tidak ingin terlambat dan mendapat hukuman dari para senior di kampus.


Lima belas menit berlalu, Nirmala telah siap dengan jilbab warna putih di kepala. Dia mengecek barang-barang yang dibutuhkan, khawatir ada yang tertinggal. Terakhir dia memasukkan lunch box dan tumbler untuk bekal makan siang. Tas hitam dia kaitkan di antara dua pundaknya. Kini, dia bersiap untuk menyongsong hari baru yang dinanti-nantikan.


"Mau ke mana loe pagi buta begini bawa-bawa tas. Mau minggat?" tegur Arman yang melihat Nirmala dengan tas ranselnya.


"Bukan Pa... hari ini, hari pertama ospek. Doain Nirmala ya Pa." Nirmala membungkuk, seperti biasa mengecup punggung tangan Arman. "Nirmala berangkat, assalamu'alaikum...."


Meski terdengar kasar, tetapi Nirmala merasa senang. Karena itu artinya sang ayah memperhatikan dirinya. "Nggak keburu Pa, tapi Nirmala bawa bekal kok." Nirmala lanjut berjalan karena waktu terus bergulir dengan cepat.


"Biarinlah Pa, kali aja si anak sok suci itu bisa cepet mampus. 'Kan, damai nanti hidup kita!!" sambung Nala dengan mulut penuh makanan. Tidak lama berselang setelah Nala menimpali ucapan Arman, wajahnya nampak memerah kesakitan dengan tangan memukul dada berulang kali. Itu lantaran dia terselak oleh makanan di dalam mulutnya.


"Kamu kenapa, Nak?" Arman langsung berdiri dan menepuk-nepuk tengkuk Nala. "Ya ampun... kamu kesedak." Arman menarik turunkan badan Nala hingga makanan yang membuatnya tercekat keluar dari kerongkongan.


"Syukurlah...," Arman memberikan air minum kepada putrinya. "Lain kali kalau lagi makan, jangan banyak ngomong," lontar Arman.


Nala mendelik. "Apaan sih Pa? Aku ngomong juga 'kan nambahin omongan Papa!"

__ADS_1


"Iya-iya sayang...," Arman mengusap-usap punggung putrinya dengan lembut. "Ya sudah, siap-siap sana! Papa anter kamu ke kampus," ujar Arman pada Nala. Akan tetapi gadis itu tidak juga beranjak dari kursinya.


"Kenapa lagi, Nak?" Arman menatap wajah Nala yang ditekuk dengan mulut mengerucut. "Katakan sama Papa, kamu mau apa?" tanya Arman yang seolah paham kalau putri kesayangannya itu sedang menginginkan sesuatu.


Bibir yang mengerucut, mengembang seketika. Nala menggeser kursinya, merapat ke arah pria berkaca mata. Dia menyandarkan kepala seraya bergelayutan manja. "Pa... Nala 'kan udah dua puluh taun, udah bisa punya SIM juga."


"Ya... trus?" potong Arman yang sebetulnya sudah tahu arah pembicaraan Nala ke mana.


"Beliin Nala mobil dong, Pa... Nala 'kan malu tiap hari dianterin Papa. Sampe-sampe Nala ini diledekin temen-temen pakai sebutan anak papi!"


Arman terkekeh, "Mau mobil apa sayang? Nanti Papa belikan. Sebenarnya udah lama Papa punya rencana buat beliin kamu mobil pribadi. Tapi Papa pikir, mending nunggu kamu yang minta sendiri sama Papa."


"Beneran itu, Pa?" Manik mata Nala berbinar bahagia.


Arman mengangguk. "Tentu aja benar, ayo katakan kamu pengen dibeliin mobil apa?"


Nala berpikir sepintas lantas tersenyum manja. "Mobil apa aja deh, terserah Papa. Asalkan mobilnya masih baru dan warnanya itu warna merah menyala."


Arman merangkul pundak putrinya. "Baiklah Nak... besok siang mobil yang kamu mau ... Papa pastikan udah terparkir di depan rumah. Asalkan kamu berjanji sama Papa...."


"Janji apa, Pa?" Kening Nala mengkerut.


"Janji kalau nilai semester ganjil ini, harus lebih unggul dari Nirmala. Kalau misalkan kamu kalah, mobilnya akan Papa sita selama satu bulan. Gimana, deal?"


Mulut Nala menggeronyot karena merasa keberatan dengan tantangan Arman padanya. "Iya deh Pa... deal. Kalau pun Nala kalah, 'kan mobilnya cuman disita sebulan."

__ADS_1


Begitulah Arman yang selalu memanjakan Nala dengan materi. Berbanding terbalik dengan Nirmala, yang harus bersusah payah untuk mendapatkan sesuatu.


...*****...


__ADS_2