
Suasana kediaman Sakti Hendrawan malam ini terasa sangat menegangkan. Karena semua orang tengah menunggu pria itu pulang, berniat untuk mengintrogasinya mengenai foto serta video yang diambil oleh ponsel Kemala di pusat perbelanjaan tadi siang.
"Mana anakmu, kenapa belum sampai juga?" geram Bratajaya kepada istrinya, Aruna.
"Mas Sakti udah di jalan Pi. Mungkin sebentar lagi juga sampai," sahut Arum mewakili.
"Papi nggak bertanya sama kamu, Arum. Tapi sama Aruna," ketus Bratajaya kepada wanita yang tidak pernah dia anggap sebagai menantu. "Ini gara-gara kamu nggak becus ngurus suami, makanya dia nyari daun muda di luaran sana!" cibirnya begitu pedas.
Aruna mengusap-usap punggung suaminya. "Sudahlah Pi... jangan terus-menerus nyalahin Arum. Kasihan dia...."
Bratajaya terkekeh, "Kasihan sama dia, buat apa? Dia aja nggak mampu membuat Sakti bahagia!!"
Keributan yang diciptakan Bratajaya terhenti lantaran suara gerungan mobil mewah dari arah pekarangan rumah. Pria yang telah berumur delapan puluh lima tahun itu segera bangkit dan berjalan perlahan ke arah pintu ruang tamu menggunakan tongkat di tangan. Semua orang turut mengikutinya dan menunggu adegan apa yang akan terjadi dalam hitungan beberapa detik. "Dari mana saja kamu?"
Pria mabuk yang baru saja keluar dari mobil, dia berjalan sedikit sempoyongan lantas menghampiri Bratajaya. "Sakti habis minum, Pi! Happy-happy!!!"
Bratajaya membuang napas panjang dan menuntun putra kesayangannya itu ke dalam ruang keluarga. "Kamu sudah tua, Sakti. Kurang-kurangilah minum sampai mabuk begini."
Sakti terkekeh, "Tuaan mana sama Papi?"
Pria yang rambutnya telah dipenuhi uban, mendaratkan tubuh Sakti di atas kursi kosong. "Duduk di sini, ada yang mau Papi dan Mami tanyakan sama kamu!"
Sakti baru menyadari bahwa di ruangan itu tidak hanya ada Bratajaya dan Aruna saja. Melainkan ada Kemala, Bayu dan tentunya sang istri tercinta, Arum. "Apa-apaan ini, kenapa kalian semua ada di rumahku?"
Kemala mendelik, memperlihatkan raut kekesalan. "Pikir aja sendiri, kira-kira kenapa kami ngumpul di rumah Mas?! Sebetulnya aku malas harus nginjakkin kakiku lagi di sini. Tapi terpaksa karena ini soal rumah tangga Mas Sakti sama Mbak Arum."
Sakti tidak membalas cuitan sang adik lantaran dia sudah lelah dan ingin bersigera masuk ke dalam kamarnya untuk merebahkan tubuh. "Jadi cepat katakan, Mi... Pi... ada masalah apa ini? Tumben-tumbenan kalian kompakan dateng ke rumahku!"
__ADS_1
Bratajaya memperlihatkan beberapa foto juga video kemesraan Sakti ketika bersama perempuan simpanannya. "Jelaskan pada Papi, siapa gadis ini?"
Bukannya menjawab, Sakti malah balik bertanya. "Siapa ini yang berani menguntitku? Pasti kamu 'kan, Arum!!"
"Bukan Mbak Arum ... tapi aku yang memergoki dengan mata kepala sendiri, kalau Mas Sakti sedang berduaan sama anak ABG di mall! Malulah Mas ... udah bau tanah, tapi masih aja nggak tau diri!!" cibir Kemala.
Sakti tergelak, "Ngapain Mas harus malu? Meski umur Mas udah tua tapi lihat, badan Mas masih segar bugar ... uang juga banyak. Salah, Mas nyari daun muda di luaran sana?"
Aruna geleng-geleng kepala mendengar celotehan kakak laki-lakinya. "Otakmu Mas, makin tua malah makin menjadi. Menjadi gila, sinting!!"
Perkataan Aruna memancing kemarahan Sakti. Pria itu melempar apa pun yang ada di hadapannya seraya mengerang kesal. Bara yang tengah berada di kamar, dia buru-buru turun dan melempar tatapan murka. "Drama apalagi ini? Udah pada tua tapi masih aja doyan ribut!!"
"Kamu nggak perlu ikut campur dengan urusan orang tua!" geram Sakti menyalang tajam. Namun, Bara tidak gentar dia membalas tatapan Sakti tidak kalah tajam. "Anak ingusan macam kamu, fokus saja belajar. Bikin Papa yang udah ngeluarin duit banyak buat kamu kuliah, bangga!!"
Bara tertawa samar. "Aku dituntut harus bikin Papa bangga. Sedangkan Papa? Membuat anak Papa satu-satunya ini jijik sama kelakuan bejat Papa! Jangan sangka aku nggak dengar apa-apa. Aku dengar semuanya, Pa!!"
"Mbak Arum!!" pekik Kemala melihat darah menetes dari dalam hidung kakak iparnya. Dia lekas-lekas menghampiri wanita malang itu lalu merangkul bahunya agar tidak terjatuh.
"Sakti, apa-apaan kamu??" teriak Aruna mendorong bahu putranya.
"Mas Sakti, emang sinting Mi. Nggak punya hati!!!" sambung Kemala mendekap pundak Arum lantas memapah wanita itu ke kamarnya untuk diobati.
Bara tersenyum sinis ke arah Sakti yang bergetar karena amarah. Sedangkan Bratajaya hanya duduk santai di atas sofa melihat anak dan cucunya bersitegang. "Bagus Sakti, harusnya dari dulu kamu hajar wanita itu. Karena Papi nggak pernah suka sama dia, anak kampung yang bermimpi menjadi seorang nyonya!!!"
Pemuda yang berdiri di depan Sakti tertawa terbahak-bahak seraya kepala bergerak ke kanan dan ke kiri. "Sekarang Bara paham, sifat arogan dan egois Papa ternyata turun dari Opa. Tua hanya sebatas angka, tapi tidak dengan perilaku!!"
Bara memutar badannya dan langsung menaiki tangga menuju kamar Arum. Meski dia membenci wanita yang telah menggeser posisi sang ibunda. Namun, melihat aksi Arum menolongnya tadi sedikit banyak menggetarkan hatinya.
__ADS_1
"Mau ke mana kamu anak kurang ajar? Papa belum selesai bicara!!" murka Sakti pada putranya.
Bara menghentikan langkahnya sesaat dan sedikit menolehkan kepala. "Bara mau melihat keadaan tante Arum. Gimana pun juga wanita itu sudah menolong Bara dari amukan Papa! Setidaknya, Bara masih memiliki hati nurani. Tidak seperti Papa!!"
Sakti mengeratkan kepalan tangannya dan meninju dinding pilar di sampingnya. "Sekali lagi kamu bersikap tidak tau diri, Papa tidak akan segan-segan melemparmu ke jalanan. Camkan itu!"
Bara tidak mengindahkan ancaman ayah kandungnya, dia terus berjalan ke arah kamar yang pintunya terbuka lebar. Sedangkan Sakti menghampiri Bratajaya dan berbincang-bincang dengan pria renta itu.
"Ya Allah... bagaimana hamba bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang ... kalau anak, menantu dan cucu hamba masih saja bertikai," ucap Aruna di dalam hati.
...***...
Pagi yang indah bagi secercah senyuman. Di mana setiap hal yang dijalani akan selalu ada onak dan duri. Setiap hari-hari yang kita lewati akan ada beragam kisah. Semua itu menjadi bekal di hari esok agar hidup bisa lebih baik.
"Kamu mau salat zuhur ya? kalau gitu aku pulang duluan ya, Mala..." ucap Lia teman baru Nirmala.
"Oke Lia, hati-hati ya..." sahut Nirmala sembari melambaikan tangan. Gadis berjilbab itu melanjutkan langkah menuju musala yang berada di seberang gedung Fakultas Pendidikan.
Setibanya di musala, Nirmala langsung menuju tempat wudu untuk mensucikan diri dari hadas kecil. Akan tetapi, suara seseorang menghentikan langkah kakinya.
"Kita bertemu lagi," sapa seseorang yang berparas tampan.
Nirmala membalikkan wajahnya, nampak seorang pemuda tersenyum amat manis ke arahnya. "Kak Zain mengagetkan saja!"
Zain merasa tidak enak hati lantaran Nirmala menyahutinya dengan nada tidak ramah. Dia menatap hambar saat gadis itu berpaling dan pergi begitu saja dari hadapannya. "Nirmala... ntah kenapa, aku semakin terpacu buat mendekati gadis sepertimu!"
...*****...
__ADS_1