Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Protes Nala


__ADS_3

Ketika hati gersang bak di sebuah padang tanpa ilalang. Di saat itulah, waktu yang tepat untuk kembali kepada Rabb-mu. Bersimpuh dan memohon ampun atas segala noda yang telah diukir sepanjang usia.


Amarah maupun keresahan, terkikis bila di hadapan-Nya. Namun, manusia terkadang alpa jua angkuh, hingga menutupi hati yang hitam kian berkarat.


Hari masih gelap nan gulita, jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi. Seorang gadis yang kini hatinya tengah gelisah, menghadap Tuhannya untuk berkeluh kesah. Meski diri merasa malu karena mengingat-Nya hanya ketika ujian menerjang. Akan tetapi, tiada lagi tempat yang tepat untuk meluapkan segala beban yang kian terasa berat, selain hanya kepada-Nya.


"Ya Allah... di sepertiga malam ini, hamba datang untuk menemui-Mu. Mencurahkan setiap apa yang berkecambuk di dalam hati. Tidak banyak yang hamba minta, hanya memohon berikanlah ayah hamba kekuatan dan ketabahan di dalam menghadapi setiap ujian serta cobaan yang Engkau berikan."


Gadis itu tenggelam dalam lautan doa diselepas salat malamnya. Mata indah berlapis tangis, bibir pasi melantunkan untaian doa serta kalam Illahi dengan khusu. Hingga Ia tidak menyadari, bahwa sosok yang disebut dalam doa-doanya itu, tengah terduduk lesu dengan mata terkatup rapat disertai air mata yang menitik di atas wajah lelahnya.


"Shadaqallahul adzim...," Seperti biasa Nirmala mengecup kitab yang menjadi mukjizat terbesar Nabi Muhammad tersebut sebelum menaruhnya kembali ke atas meja sudut. Dia berdiri lalu membalikkan badan dan menemukan Arman tengah tertidur dengan punggung bersandar ke atas kusen pintu. "Papa?" gumamnya mengernyit bingung.


Dia berjongkok dan membangunkan sang ayah mengusap-usap pundaknya lembut. "Pa... Papa... bangun Pa...."


Arman meracau seraya mengibas-ngibaskan kedua tangannya tak sadar. "Sialan lu Frans, usaha gue hancur gara-gara lu! Awas aja, gue bakalan bales apa yang udah lu lakuin sama gue!!"


Nirmala menepuk-nepuk pipi sang ayah. "Pa... sadar Pa. Ini Mala, Pa. Papa mengigau...."


Perlahan, Arman membuka kedua matanya. Kelopak mengerdip cepat lantaran bias cahaya lampu yang menyilaukan indra penglihatan. "Ah... gue di mana ini? Kenapa gue ada di sini?"


"Ini di musala rumah, Pa. Justru Mala yang seharusnya nanya, kenapa Papa tiba-tiba ada di sini?"

__ADS_1


Arman menepis tangan Nirmala dari atas pundaknya dan berusaha untuk berdiri. Namun, keadaan yang tengah setengah mabuk membuat pria tua itu tidak mampu mengangkat tubuhnya.


"Mala bantu Papa berdiri ya." Nirmala merangkul kedua bahu sang ayah lalu mencoba menariknya dengan susah payah. Dia mengernyih lantaran beban tubuh Arman terasa sangat berat.


Arman membiarkan tubuhnya ditopang oleh Nirmala dan dipapah menuju kamar tidur. Biasanya dia akan marah meski hanya tangan yang disentuh oleh Nirmala. Namun, kali ini dia seakan pasrah.


"Papa mau mandi air hangat atau langsung tidur aja?" Nirmala membaringkan tubuh Arman di atas tempat tidurnya. Pria itu tidak menjawab, dia membalikkan badan dan merangkul guling yang berada di sampingnya.


Nirmala menengokkan kepala dan melihat Arman telah terlelap di dalam tidurnya. Dia mendesah pelan lalu melepas sepatu yang masih melekat di atas kedua kaki. Gadis itu menarik selimut untuk menutupi tubuh sang ayah. "Tidur yang nyenyak ya Pa... serahkan semuanya pada Allah. InsyaAllah... kita bisa melewati setiap masalah kalau dihadapi bersama-sama."


...***...


"Pa... coba jelasin sama Nala. Kenapa Papa bisa-bisanya bertingkah kaya orang low class kaya gini?" Nala memperlihatkan rekaman video yang diambil secara sembunyi-sembunyi oleh seseorang. "Jujur aja, Nala malu Pa...! Temen-temen Nala pada jelek-jelekin Nala dan Papa di sosmed!"


Nala menarik kursi kosong di samping Arman lalu duduk di atasnya. "Tentu gak bisalah Pa. Ini masalah serius. Mau ditaruh di mana muka Nala nanti, kalau pergi ke kampus? Temen-temen pasti ngejekin Nala. Kenapa sih, Papa malah malu-maluin anak Papa ini?"


Arman menarik napas panjang lalu melempar sendok ke atas piring. Dia mendorong kursi makan ke belakang dan beringsut tanpa menjawab sepatah kata pun.


"Pa... Nala belum selesai ngomong, Pa!! Dengerin Nala dulu, Pa!!" Nala mengerang kesal sebab Arman mengabaikannya dan terus berjalan menaiki anak tangga.


"Papa pasti lagi ada masalah, kenapa kamu nggak bisa peka sih, Nal?" tegur Nirmala yang turut kesal dengan sikap Nala. "Harusnya di saat Papa kaya gini kamu itu ngasih support sama Papa, bukannya bersikap kekanak-kanakkan!" sentak Nirmala.

__ADS_1


"Sok dewasa banget lu! Lu baca sendiri 'kan semalem gimana komenan orang-orang di postingan video itu? Mereka mencemooh gue, Mal. Mereka ngehina gue!!" sembur Nala tidak terima dengan nasehat yang diberikan adiknya.


"Iya aku tau, Nal. Tapi kamu gak perlu nanggepin omongan orang-orang secara berlebihan. Bisa nggak, sekali.... aja kamu bersikap tenang kalau lagi ada masalah?" timpal Nirmala.


Nala berdiri dan melempar lap tangan ke arah muka Nirmala. "Nggak bisa! Gue bukan elu yang sok baik dan sok bijak jadi cewek! Gue ya gue ... elu ya elu. Seperti dua sisi mata uang, berbeda dalam segala hal. Cuman muka doank yang sama!"


Nala beranjak dari hadapan Nirmala dengan menyilangkan tas selempang ke depan dada. Akan tetapi, baru juga berjalan dua langkah dia membalikkan badan lalu berjalan ke arah Nirmala sembari cengengesan. "Mala, gue minta duit dong! Gue males minta sama papa. Mending sama elu aja."


Nirmala geleng-geleng kepala lantaran Nala bersikap baik padanya hanya ketika ada butuhnya. "Maaf Nal, aku gak punya uang. Sebulan ini 'kan aku berhenti kerja dari toko uni Ara sama bikin gorengan di warung Bu Ina."


"Ah... lu gak guna banget sih jadi adik. Giliran gue butuh duit, pasti banyak alesan! Kerja makanya, jangan ongkang-ongkang kaki mulu!" Nala menoyor kepala Nirmala sembari memekik kesal. "Nggak elu ... nggak papa. Bisanya cuman bikin naik darah!!" Nala melanjutkan langkah yang sempat terjeda. Ntah ke mana pagi ini dia akan pergi sebab dia tidak cukup berani menghadapi bully-an orang-orang terhadapnya.


Nirmala tidak ingin ambil pusing atas sikap kasar Nala kepadanya. Dia mengambil piring kosong dan diisi dengan nasi beserta lauk pauk. Gadis itu bergerak menuju kamar sang ayah yang berada di lantai dua.


"Pa... boleh Mala masuk?" pekik Nirmala seraya mengetuk pintu. Terdengar suara Arman yang mengizinkan putrinya memasuki kamar.


"Papa hari ini nggak ke kantor? Apa Papa lagi sakit?" Nirmala menyentuh kening Arman mengecek suhu tubuhnya. Arman mengatup mulut rapat-rapat, diam seribu bahasa. "Ini... Mala bawakan sarapan buat Papa. Tadi Papa 'kan belum sempat makan. Mala suapi ya?" tawar Nirmala pada sang ayah.


Arman menoleh ke arah putrinya dan sedikit menganggukkan kepala. Binar bahagia terpancar dari wajah dara berusia dua puluh tahun tersebut lantaran sikap berbeda dari sang ayah. Ia menyuapi pria yang menjadi cinta pertamanya, sesendok demi sesendok. "Makannya habiskan ya Pa. Kalau masih lapar, nanti Mala ambilkan lagi ke bawah."


Arman mendorong piring yang dipegang Nirmala dengan kepala bergerak ke kanan jua ke kiri. "Papa udah kenyang ... Papa pengen tidur."

__ADS_1


Nirmala manggut-manggut, dia menyodorkan air minum untuk Arman dan membiarkan pria itu beristirahat meski di dalam benaknya dipenuhi segudang pertanyaan. "Jaga Papa hamba, ya Rabb...."


...*****...


__ADS_2