Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Lunch Box


__ADS_3

Di salah satu sudut gedung tempat para mahasiswa baru mengikuti kegiatan masa orientasi. Seorang gadis yang memiliki mata indah, duduk bersila di atas lantai. Dia mengeluarkan box makan siang dari dalam tas ranselnya. Nampak bibir pias bergerak-gerak, melafalkan doa kepada Sang Pemberi Rezeki.


Gadis tersebut menyantap makan siang dengan lahap. Terlihat sekali kalau dia sangat kelaparan karena sejak pagi perutnya kosong tak terisi apa pun. Sorotan demi sorotan memandang sebelah mata. Akan tetapi, dia tidak peduli apa pun tanggapan orang lain terhadapnya.


"Eh, ada cewek miskin lagi makan pake telor ceplok. Gak mampu beli daging ya?" cibir seorang perempuan mengganggu ketenangan Nirmala. Dia menepak kencang wadah makanan hingga terjatuh, membuat semua isi di dalamnya berserakan di atas lantai. "Ups... sorry, gue sengaja!! katanya lagi sembari menutupi mulut menggunakan telapak tangan.


Nirmala menyalang seakan ingin menelan bulat-bulat perempuan di depannya. "Apa yang kamu lakukan, Nala? Lihat, gara-gara kamu nasi itu jadi mubazir!"


Nala membungkukkan badan. "Bukan urusan gue, mau itu nasi mubazir kek, mau itu nasi gue injek-injek kek. Yang penting, gue pengen lihat muka loe yang sok kecantikkan itu, menangis...!"


Nirmala sontak berdiri dan tangannya melayang ringan ke atas pipi kembarannya. "Sikapmu makin hari makin gak beradab, Nala! Apa yang kamu banggakan, muka cantik? Badan seksi? Tapi sayang sekali, kelakuanmu tidak sepadan dengan tampilan fisikmu!"


"Loe ngomong apa, hah?!" Nala ingin membalas perlakuan adiknya dengan sebuah tamparan. Nirmala sigap dan menangkis tangan Nala dari menyakitinya.


"Jangan macam-macam denganku, Nala! Aku selama ini diam dan terus mengalah, tapi kamu malah semakin menjadi!" geram Nirmala menubruk pundak Nala untuk kembali ke tempat duduknya.


Nala tidak terima dengan perlakuan Nirmala. Dia memekik kesal dan melempar tumbler yang berisikan air minum ke arah kepala sang adik. Gadis berjilbab itu mengerang kesakitan, memancing perhatian sebagian orang yang semula sibuk dengan urusan masing-masing, kini beralih ke arahnya untuk mencari tahu hal apa yang terjadi.


Nirmala memutar badan lalu memungut tumbler tersebut dan melemparkan kembali ke arah pemiliknya. Benda berisi air minum itu mengenai punggung kaki Nala, dia mengaduh kesakitan seraya meracau melontarkan makian demi makian.

__ADS_1


"Sialan loe, Nirmala! Awas aja, gue bakal bikin perhitungan sama loe!" ancam Nala menakut-nakuti, agar keberanian sang adik menciut.


"Siapa takut?!" tantang Nirmala menganggap enteng ancaman saudara kembarnya itu.


"Loe nantangin gue? Gue ini senior loe di kampus. Jadi, loe anak baru gak usah belagu!!" teriak Nala amarahnya kian tersulut.


Semua orang berduyun-duyun menghampiri, lantas menatap bergantian ke arah kedua perempuan yang tengah berdiri bersitegang. Kening mereka mengerut sebab paras keduanya bak pinang di belah dua. Gedung yang awalnya tidak begitu gaduh, saat ini riuh seketika karena mereka mempertanyakan masalah apa yang terjadi di antara kedua perempuan tersebut.


"Kalian sedang apa ngumpul di sini, hah...? Kembali ke tempat kalian sekarang juga!!"


Beruntung sang ketua BEM datang tepat waktu, menjadikan keadaan ruangan kembali aman terkendali serta kondusif. Sikap tegas dan tanpa toleransi bagi siapa pun yang melakukan kekacauan, membuatnya sangat disegani oleh semua kalangan. Oleh karena itu, hanya dengan satu kali sentakan, dia mampu menyebabkan perempuan arogan seperti Nala ketar-ketir dan tidak mampu melawan.


"Keluar!!" usir Bara pada gadis yang dia kenali sebagai biang masalah. "Jangan pernah masuk lagi ke gedung ini karena loe tidak memiliki hak sedikit pun, Nala Susanto!"


Nala keluar dari dalam gedung dan Bara melanjutkan kembali kegiatan orientasi hingga pukul tiga sore. Semua peserta OSPEK merasa lelah karena kegiatan yang mereka ikuti tidak hanya mengasah otak dan mental. Namun juga, melatih kekuatan fisik serta aktifitas yang menguras energi.


"Baiklah adik-adik mahasiswa baru sekalian, kegiatan orientasi hari ini telah selesai. Besok kita berjumpa kembali, tapi ingat! Jangan ada yang datang terlambat lagi. Karena nanti hukumannya akan langsung diberikan oleh saya dan pastinya akan lebih berat!" Bara melirik ke arah Nirmala dengan tatapan tidak bersahabat.


"Siap, Kak...!" jawab semua orang serentak. Satu per satu dari mereka meninggalkan aula secara tertib tanpa berdesak-desakkan. Ruangan yang tadinya ramai, mendadak sunyi.

__ADS_1


Nirmala menoleh sesaat ke arah Bara, tetapi pemuda itu tidak sedikit pun melirik ke arahnya. Pikiran Nirmala mengawang, timbul pertanyaan-pertanyaan di dalam benak sebab lelaki tersebut mendadak seakan tidak mengenalinya. "Ada apa dengan Bara? Mengapa sikapnya bisa berubah 180 derajat dalam sekejap mata seolah nggak mengenaliku?!"


Nirmala terus saja bertanya-tanya di dalam hati atas gerak laku Bara yang mendadak berbeda. Tapi, pada akhirnya dia tidak ingin ambil pusing, sebab masih banyak urusan lebih penting ketimbang memikirkan laki-laki yang bukan siapa-siapa.


...***...


Pukul lima sore, Nirmala telah sampai di rumah. Dia merasa tidak tenang lantaran waktu salat asar sudah hampir habis. Gadis itu memakirkan motornya asal dan berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Nirmala tidak memperhatikan bahwa Arman tengah menunggu kepulangannya, dia berjalan lurus menuju tangga kamar, mengacuhkan keberadaan sang ayah.


"Heh, mau ke mana loe ayam betina?!" tegur Arman menarik kerudung Nirmala sampai-sampai gadis itu mendongak lantaran kepalanya turut tertarik ke belakang. "Maen nyelonong aja, apa loe kagak lihat gue berdiri di sini?" tambahnya lagi.


Nirmala berusaha melepaskan cengkeraman Arman di jilbab miliknya dan berkata dengan suara lirih. "Pa, Mala mohon lepasin kerudung Mala. Sakit, Pa...."


"Oh, sakit ya?" Arman memperkuat cengkeramannya mengakibatkan kerongkongan Nirmala tercekat karena tercekik oleh kerudungnya sendiri. "Loe tadi di kampus habis malu-maluin anak gue? Udah sok jagoan loe ya sekarang, tinggal numpang di rumah gue aja pake belagu!" cibir Arman seakan Nirmala bukan putrinya juga.


Nirmala memejamkan mata karena napasnya semakin terbatas. Arman melonggarkan cekalan tangannya karena menyadari kalau pertahanan Nirmala sudah melemah. Dia mendorong punggung Nirmala tanpa sedikit pun belas kasihan. "Sana loe ke kamar, gue males lihat muka loe. Sekali lagi gue denger loe nyari gara-gara sama anak gue, lihat aja nanti akibatnya!!"


Nirmala yang sudah sangat lelah, dia tidak ingin menggubris perkataan Arman dan memilih menarik kakinya secepat mungkin dari hadapan pria yang disebut papa. Berjalan dengan langkah lebar dan buru-buru masuk ke dalam kamar lantas mengunci rapat-rapat.


"Ya Allah... kapankah penderitaanku berakhir?"

__ADS_1


...*****...


...Mohon maaf, dua hari kemarin tidak up. Semoga setelah ini bisa konsisten lagi up dengan teratur 🙏🙏...


__ADS_2