Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Kamu?!


__ADS_3

Masa muda adalah masa yang akan selalu dikenang. Setiap memori yang dihadirkan, terkadang menjadi bayang-bayang kehidupan di waktu mendatang. Bagaimanapun juga masa muda memang hanya akan hadir sekali dan tidak akan terulang. Di mana segala warna warni ceritanya memenuhi ingatan dan separuh ruang di hati.


"Rapatkan shaf kalian," titah pemuda yang berdiri di belakang mimbar. Tanpa sengaja, dia melihat seorang gadis dengan wajah anggun memesona. Dan untuk sepersekian detik, tubuhnya mematung, mata tak ingin berpaling dari keindahan yang tengah ia nikmati.


"Ehm...!" deham Bara karena menyadari lelaki di depannya sedang memandangi sang gadis pujaan. "Jaga mata... jaga hati, Pak Ustadz!" canda Bara.


Zain terkesiap, wajah putihnya kini bersemu merah lantaran dia malu sudah kepergok menatap Nirmala sedemikian rupa. "Bar, ikamah!"


"Malu niyeh..." ejek Bara. "Makanya jangan cuman bisa negur orang lain buat jaga pandangan. Giliran dirinya sendiri ngelihatin anak orang sampe mulut ngeces begitu!" tambah Bara yang dibalas dengan sut dari orang-orang.


Suasana musala seketika hening, yang terdengar kini hanya suara ikamah yang diperdengarkan oleh pemuda yang bersurai hitam dengan kulit eksotis, berwajah tampan nan manis. Semua orang melaksanakan salat zuhur dengan tertib juga khusu. Dari rakaat pertama hingga rakaat keempat.


Musala yang semula dipenuhi mahasiswa, saat ini beranjak sepi. Hanya bersisa beberapa orang, termasuk Bara, Zain dan tentu saja Nirmala.


"Nirmala, aku antar pulang ya. Motor kamu 'kan masih di bengkel," tawar Bara menghampiri Nirmala yang bersiap untuk keluar dari musala.


"Sama saya aja ... saya bawa mobil, lebih nyaman," timpal Zain yang muncul dari balik punggung Bara.


"Mending sama aku, naik vespa. Adem ... angin sepoi-sepoi," tangkas Bara tidak ingin kalah.


Nirmala mendengkus karena lagi-lagi dia dihadapkan dengan dua orang pemuda yang bertikai demi mendapatkan perhatian dirinya. "Nirmala naik bus aja, trimakasih banyak atas tawaran kalian."


Gadis tanpa lesung di pipi itu, meninggalkan Bara juga Zain yang berdiri membisu. Karena ia memilih untuk mengacuhkan mereka, mahasiswa idaman para wanita. Tidak sedikit yang mengejar-ngejar cinta keduanya. Namun, hanya Nirmalah yang mampu membuat kedua pemuda itu terpikat.


"Gara-gara elu nih... Nirmala pergi 'kan jadinya?!" Bara mendorong dada Zain.


"Nirmala itu cocoknya sama saya. Kalau buat laki-laki urakan macam kamu, pantasnya dapatin si Nala!" kelakar Zain bernada cemoohan.


"Lihat aja nanti, lu apa gue yang bakalan dapetin hati Nirmala!" tunjuk Bara ke arah muka Zain lalu ke arah mukanya sendiri.


Zain menyeringai, "Tentu saja saya yang akan mendapatkan Nirmala. Tampan, pintar ngaji, berprestasi. Apa kamu melihat kekurangan di dalam diri saya?"

__ADS_1


Bara berjalan selangkah mendekat dan mengacungkan jari telunjuk ke arah dada lelaki di depannya. "Lu mau tau kekurangan diri lu? Di sini ... lu terlalu merasa menjadi manusia paling sempurna. Lu selalu menganggap orang lain rendah. Hati lu gak tulus, Zain! Terlalu sombong!!"


Pria berkulit putih itu membulatkan manik matanya lantas membalas cuitan Bara. "Dengan apa yang saya miliki, sudah sepatutnya saya sombong. Sedangkan kamu, apa yang bisa dibanggakan, hati yang tulus? Nonsense!!!"


Zain meninggalkan Bara di musala seorang diri lalu berjalan tergesa-gesa. Berharap masih bisa menyusul Nirmala dan mengajak gadis itu untuk pulang bersamanya.


...***...


"Ya Allah... kenapa nggak muncul-muncul juga ya ini bus kota?" Nirmala merasa gusar, dia berkali-kali melihat ke arah jam tangannya. "Kalau kaya gini caranya, keburu sore ke rumah Nini," ucap Nirmala bermonolog.


"Nungguin apa, Neng?" tanya seorang bapak penjual kopi keliling.


"Ini Pak, saya lagi nungguin bus kota. Kok lama banget datangnya ya? biasanya 'kan setiap setengah jam sekali," jawab Nirmala.


"Iya Neng. Katanya macet parah, jadi pada telat," jawab penjual tersebut. "Emangnya Neng, mau ke mana?" tanyanya lagi.


"Mau ke daerah Pasar Baru, Pak..." balas Nirmala.


"Naik bus mini itu aja Neng. Jurusannya sama kok ke Pasar Baru, malah ongkosnya lebih murah," tunjuknya pada bus yang melaju ke arah halte.


"Mangga, Neng. Hati-hati...."


Nirmala menaiki bus tersebut lanjut memilih tempat duduk yang berada di dekat pintu belakang. Tempat itu dipilih untuk memudahkannya turun ketika telah sampai di tujuan nanti. Sebab sang kondektur, berdiri di depan pintu belakang.


Nirmala duduk dengan santai. Tanpa dia sadari, Zain menyusulnya ke tempat pemberhentian bus. Namun sayang, pemuda itu terlambat datang. Nirmala telah lebih dahulu menaiki kendaraan umum ketika Zain baru saja sampai di depan halte. "Ah... telat, 'kan?! Gara-gara Bara, aku jadi gagal buat mendekati Nirmala!!"


Zain terus saja mengumpat kesal sembari memukul-mukul setir mobil yang tidak memiliki salah apa-apa padanya. "Gagal lagi, gagal lagi! Bara benar-benar jadi saingan terberatku buat ngedapetin Nirmala!"


Seraya bersungut-sungut, Zain menjalankan mobilnya untuk kembali ke kampus. Karena siang ini dia memiliki agenda rapat bersama anggota rohis lainnya.


...***...

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Nini..." salam Nirmala ketika tiba di rumah dengan khas bangunan tua zaman Belanda.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Nini Gayatri yang tengah memperhatikan murid padepokannya tengah berlatih pencak silat. "Eh... Neng, kirain Nini siapa." Gayatri berdiri lalu memeluk Nirmala dan mengecup kedua pipinya.


"Emangnya, Nini kira siapa?" tanya Nirmala menggoda sang nenek.


Gayatri mencubit pipi cucu kesayangannya karena gemas. "Nini kangen sama cucu Nini yang bawel ini. Kenapa baru jengukin Nini?"


Nirmala duduk di kursi kosong sebelah Gayatri. "Maafin Mala ya Ni... kemarin-kemarin, Mala fokus nyiapin biar bisa dapet beasiswa."


"Trus gimana, dapet?" tanya Gayatri antusias.


Nirmala tersenyum lebar. "Alhamdulillah... dapet. Sekarang, Mala udah kuliah di tempat Nala kuliah...."


Gayatri tiba-tiba merengut. "Nini paling males denger nama itu anak disebut. Kalau dia ke sini, mau Nini jewer ampe lepas itu kupingnya."


Nirmala tergelak karena celotehan Nini Gayatri. "Jangan dong, Ni. Kalau kuping Nala lepas, nanti gak bisa direkatin lagi pake lem."


Gayatri mendesah pelan. "Habisan itu anak sering banget bikin Nini kesal. Papamu juga, mereka berdua kaya pinang dibelah dua. Sama-sama buat darah tinggi Nini kumat! Untungnya ... kamu mewarisi sifat Azizah, mamamu. Lembut, baik hati, selalu sopan pada siapa pun."


"Doain terus Mala ... jadi anak salihah dan selalu istikamah ya Ni." Nirmala menggenggam tangan Gayatri yang sudah dipenuhi keriput.


Gayatri mengangkat tangan sebelahnya dan menepuk-nepuk punggung tangan sang cucu. "Tanpa diminta pun, Nini akan selalu mendoakan kamu maupun Nala."


Nirmala beringsut lalu mendekap tubuh renta sang nenek. "Mala sayang banget sama Nini. Hanya Nini sama tante Utari yang selalu menyayangi Mala."


Gayatri mengusap-usap punggung sang cucu. "Jangan bilang begitu, Neng. Sebetulnya papamu itu sayang... banget sama kamu. Tapi karena gengsi dia kegedean. Makanya bersikap kaya orang gila!"


"Assalamu'alaikum..." salam seseorang yang menghentikan obrolan Nirmala dengan sang nenek.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Nirmala dan Gayatri serentak.

__ADS_1


Nirmala melepas pelukan dari tubuh Gayatri lalu menoleh ke arah seseorang yang mengucapkan salam tersebut. Keningnya mengerut bingung sebab tidak percaya dengan siapa yang dilihatnya saat ini. "Kamu?!"


...*****...


__ADS_2