
"Assalamu'alaikum, boleh saya... maaf maksudku, aku. Boleh aku duduk di sini?" tunjuk seorang pemuda pada bangku yang kosong.
"Wa'alaikumsalam..." Nirmala mendongak, untuk melihat siapa yang mengucapkan salam kepadanya. "Oh, Kak Zain. Duduk aja Kak, kursi emang diperuntukkan buat diduduki, 'kan?"
Zain menyunggingkan senyuman dan memilih tempat duduk yang berhadap-hadapan dengan Nirmala. Seperti biasa, Nirmala mengacuhkan pemuda itu dengan kembali menenggelamkan dirinya ke dalam buku yang tengah dia baca.
"Buku apa yang sedang kamu baca? Serius banget kelihatannya." Zain membuka obrolan.
Nirmala menegakkan buku yang dia pegang agar bisa dilihat dengan jelas oleh lelaki di depannya. "Ini, buku psikologi pendidikan."
"Oh..." Zain manggut-manggut lalu mendekatkan wajahnya ke arah Nirmala. "Aku boleh minta nomor WA-mu?" bisik Zain karena tidak ingin terdengar oleh mahasiswa yang lain.
Nirmala mengangkat wajahnya. Dia terkejut sebab jarak antara Zain dengan dirinya teramat dekat. "Kak... boleh mundur sedikit? Nggak enak dilihat orang-orang."
"Ah, iya. Maaf..." ucap Zain menjauhkan wajahnya dan kembali duduk dengan tegak. Dia menunggu jawaban Nirmala atas pertanyaannya.
"Aku nggak punya nomor WA, Kak. Karena aku gak punya hape, " jawab Nirmala seadanya.
"Lalu dengan apa aku bisa menghubungimu?" tanya Zain lagi.
"Mungkin bisa dengan sepucuk surat," jawab Nirmala asal dengan melihat ke arah Zain sepintas lalu menundukkan kepalanya kembali.
Zain terkekeh, "Kamu lucu juga ya anaknya?"
Nirmala menarik kedua alisnya ke atas. "Tapi aku gak lagi ngelucu, Kak."
Kerongkongan Zain terasa tercekat, dia menelan ludah meredakan kegugupannya. "Masih ada kuliah nggak? Kalau nggak, aku antar pulang ya?"
Zain tidak ingin menyerah, dia terus berusaha memecahkan kekakuan di antara dirinya dengan Nirmala. Berbagai pertanyaan dia lontarkan, agar sang gadis pujaan mau berbincang dengannya.
"Aku udah nggak ada kuliah sih Kak. Ini sebentar lagi pulang. Tapi... sebelumnya mau ke pusat kota dulu. Kebetulan ada interview kerja part time di salah satu toko kue," cerocos Nirmala.
"MasyaAllah... aku salut sama semangatmu!" puji Zain yang hanya ditanggapi dingin oleh Nirmala. "Em... aku antar ke sana ya, biar kamu gak telat?" tawar Zain lagi. Berharap niat baiknya kali ini tidak ditolak oleh Nirmala.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, gadis itu menganggukkan kepala menerima tawaran pemuda di depannya. "Gak ngerepotin emangnya, Kak? Kak Zain nggak ada kelas lagi?"
__ADS_1
Zain menggelengkan kepala seraya mengulum senyuman. "Nggak ngerepotin sama sekali kok. Lagi pula aku sendiri yang nawarin diri, 'kan?"
Senyuman manis tersimpul dari wajah Nirmala. "Makasih banyak sebelumnya ya Kak."
"Sama-sama, Nirmala." Zain menjeda ucapannya sesaat. "Kita berangkat sekarang aja, gimana? Takutnya keburu macet."
"Sebentar ya Kak ... tunggu temenku dulu. Dia juga mau pergi ke tempat yang sama," jawab Nirmala melihat ke arah pintu perpustakaan. "Tadi kami janjian di sini, paling lima menit lagi juga dateng."
"Ah iya..." sahut Zain kecewa.
"Niat hati ingin kenal lebih dekat dengan kamu, tapi apa daya ... kamu masih sulit untuk kugapai."
Setelah menunggu beberapa saat, gadis dengan rambut sebahu melambaikan tangan ke arah Nirmala dari depan pintu perpustakaan. "Nah, itu temenku udah dateng. Ayo, Kak!"
Zain mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Nirmala untuk menemui Lia. Gadis berambut sebahu tersebut mengerutkan dahi karena melihat Nirmala bersama dengan seorang laki-laki. Dia menunjuk ke arah Zain seakan meminta penjelasan.
"Ini Kak Zain, yang pernah aku ceritain waktu itu," jelas Nirmala. "Dia mau nganterin kita ke tempat wawancara kerja, lumayan 'kan ngirit-ngirit ongkos?" canda Nirmala yang dibalas dengan cekikikan.
Sementara Zain, dia terbengong-bengong karena ucapan Nirmala barusan membuat isi pikirannya seketika melambung tinggi. "Yang pernah aku ceritain waktu itu? Itu artinya Nirmala suka nyeritain tentang aku dong? Apa sebenarnya diam-diam dia menyukaiku? Ah dasar kaum hawa. Di luar pura-pura cuek. Di dalam hati, siapa yang tahu?"
"Aku jadinya kaya driver taksi online ya?" sindir Zain karena Nirmala memilih duduk di bangku penumpang bersama Lia. Gadis itu merasa risih kalau harus berdekatan dengan pria berkulit putih tersebut.
"Kode tuh kode ... kamu sih nggak peka jadi cewek!" Lia menyenggol lengan Nirmala. "Tadi 'kan aku udah bilang, kamu di depan aja temenin Kak Zain. Biar aku jadi nyamuk di sini," godanya seraya cengengesan.
Kini giliran Nirmala yang menyenggol lengan teman karibnya dan menyahuti dengan suara berbisik. "Jangan gitu dong... aku malu nih."
Lia tergelak karena berhasil membuat Nirmala salah tingkah. Terlebih saat ini binar wajah Nirmala nampak bersemu merah. "Tuh 'kan mukanya jadi merah. Cie... Nirmala, cie...."
Zain dibuat senyam-senyum dengan tingkah Lia yang terus menggoda Nirmala. Jalannya untuk mendekati Nirmala semakin mulus karena dia telah mendapatkan dukungan dari salah satu orang terdekat gadis itu.
"Kak Zain, berhenti di sini Kak," pekik Nirmala tiba-tiba. Zain sontak menginjak rem mendadak membuat kepala Nirmala membentur jendela. "Aw..." pekik Nirmala memegangi pelipisnya yang sakit.
Zain spontan membalikkan badannya lalu mengusap-usap bagian kepala Nirmala yang terbentur tadi. "Sebelah sini yang sakit, ya? Maaf... tadi aku ngerem ngedadak."
Tanpa sadar, Zain terus saja mengelus-elus pelipis Nirmala dengan tatapan yang begitu lekat dan dalam. "Masih sakit?"
__ADS_1
"Ehm..." deham Lia. "Pak Ustadz Zain... Dedek Nirmala... inga-inga, kalian ini bukan muhrim!" tegur Lia tertawa geli. "Gini ya rasanya di dekat sepasang sejoli yang saling memendam cinta? Bikin baper...."
"Astaghfirullahal'adziim..." Zain langsung melepas tangannya dari kepala Nirmala. "Maaf... aku udah lancang," lontar Zain merasa tertohok oleh teguran Lia.
"I-iya Kak..." sahut Nirmala tergugup. "I-ini tempatnya. Kami turun di sini ya Kak, trima kasih..." Nirmala membuka kunci pintu mobil lalu menarik handle-nya.
"Aku tunggu ya ... nggak akan lama, 'kan?" harap Zain bisa memiliki banyak waktu bersama Nirmala.
"Nanti aku pulang bareng Lia aja Kak, naik bus kota. Iya 'kan, Lia?" Nirmala mengerdip-ngerdipkan mata sebagai isyarat agar Lia mau bekerja sama dengannya.
"Loh, rumah kita bukannya lain arah ya? Sejak kapan kita naik bus kota bareng-bareng?" celetuk Lia menjadikan Nirmala harus bersusah payah menelan salivanya.
"Nah 'kan, biar aku tunggu aja ya. Tanggung juga soalnya," kilah Zain agar Nirmala merasa sungkan dan bersedia menerima tawarannya.
Nirmala mendesah pelan. "Baiklah... terserah Kak Zain aja kalau gitu. Aku sama Lia masuk dulu ya Kak, takutnya udah ditungguin."
Zain mengangguk tipis. "Iya... semoga berhasil, Nirmala! Bismillah...."
Nirmala menganggukkan kepala lalu menggandeng lengan Lia berjalan tergesa-gesa memasuki toko kue yang dimaksud.
"Mbak-mbak ini yang mau interview sama pemilik Arum's Bakery ya?" sapa seseorang seolah tahu bahwa kedua gadis itu yang sedang ditunggu-tunggu oleh atasannya.
"Iya, mbak. Kami yang mau wawancara sama pemilik toko ini," jawab Nirmala sopan.
"Kalian sudah ditunggu bu Arum di ruangannya. Mari ikut saya..." Pegawai toko menjulurkan tangan mempersilakan Nirmala juga Lia untuk mengikutinya.
"Permisi, Bu... orang-orang yang Ibu tunggu sudah sampai," ucap pegawai tersebut sembari mengetuk pintu.
"Persilakan mereka masuk!" suruh Arum yang masih disibukkan dengan berkas-berkas di atas meja.
Nirmala dan Lia memasuki ruangan secara bersamaan. Bersiap untuk mendapatkan tes wawancara kerja dari wanita yang duduk di hadapan mereka. Arum menaruh pulpen di atas meja. kepalanya ditarik tegak dengan tangan dalam posisi bersidekap. Dia melihat ke arah Lia setelah itu ke arah Nirmala. Keningnya bertautan karena seakan mengenali wajah jelita tersebut.
"Sepertinya saya pernah bertemu dengan kamu. Tapi di mana dan kapan ya?" terka Arum sebab wajah Nirmala tidak asing di matanya.
Nirmala turut mengerutkan dahi, berusaha untuk mengingat paras bersahaja di depannya. Ingatannya berputar tentang kejadian beberapa waktu yang silam. Bibirnya tertarik sempurna, sinar mata terpancar dari kedua netra cokelatnya. "Ibu ini yang waktu itu kecopetan di pasar, 'kan?"
__ADS_1
...*****...