Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Parfum


__ADS_3

"Parfumnya lain, sejak kapan mas Sakti ganti parfum?" gumam Arum seraya mengendus-endus kerah kemeja milik suaminya. "Tapi ini lebih kecium wangi perempuan deh." Kening Arum mengerut seraya terus membaui pakaian lelakinya.


Arum merogoh saku jas dan celana, siapa tahu menemukan hal yang mencurigakan lainnya. "Bon belanjaan, baju-baju perempuan? Apa yang dilakukan Mas Sakti di belakangku, Tuhan...?"


Arum memasukkan celana milik suaminya ke dalam mesin cuci. Selepas itu, dia beranjak menuju kamar seraya membawa kemeja juga bon pembelian yang terselip di dalam kantong celana.


"Mas, jawab dengan jujur. Kamu di luar sana main perempuan?" tanya Arum langsung pada intinya. Mengingat kenangan kelam beberapa tahun lalu, yang mana dia sendiri pernah berada di posisi sebagai wanita simpanan Sakti.


Pria berkaca mata yang tengah memasangkan dasi, membalikkan badan dengan raut wajah tidak suka. "Maksudmu apa, Arum? Kamu nuduh aku selingkuh?"


"Aku nggak nuduh, Mas ... aku cuman nanya. Dan tolong jelaskan, ini apa?" Arum memperlihatkan bill dari sebuah butik kenamaan. "Dan ini? Coba Mas cium, di kemeja Mas Sakti ada parfum perempuan!" Arum melempar kain putih di tangannya ke arah muka Sakti.


Sakti memungut pakaiannya lantas melemparkan kembali ke wajah Arum. "Ngaco kamu!! Bilang aja kalo kamu sendiri yang punya piaraan brondong di luaran sana. Nggak usah nyari-nyari kesalahan orang!"


Arum berdecih, "Kamu emang pintar berkelit, Mas. Aku ngomong apa pun, kamu selalu memutar balikan fakta. Apa susahnya berterus terang, dari pada mencari kambing hitam buat dilimpahin kesalahan!"


Sakti mencengkeram kedua pipi Arum hingga mulut istrinya itu mengerucut. "Dengarkan aku baik-baik, Arum. Aku nggak selingkuh dan aku nggak ada affair dengan wanita mana pun. Mengenai parfum yang nempel di kemeja, itu parfumnya Theresa. Dia kemarin ngerapihin kerah sama dasi, pas aku mau meeting sama para investor."


Arum mendesah, dia melingkarkan tangan ke pinggang suaminya lantas merebahkan kepala di atas dada. Meski di dalam hati masih menyimpan kecurigaan akan beberapa kejanggalan. Namun, Arum tidak ingin bertindak gegabah. "Maafkan aku ya Mas, aku hanya merasa cemburu dan khawatir. Jadi, bawaannya langsung nethink aja."


Sakti mendorong tubuh Arum dari dalam dadanya. "Lain kali pikir bolak-balik dulu kalau mau ngomong. Jangan udah selesai ngebacot, baru mikir. Telat itu namanya!"


Arum menghela napas mendengar perkataan kasar suaminya. "Iya Mas... lain kali aku bakalan lebih hati-hati kalau bicara."

__ADS_1


Sakti tidak mengindahkan ucapan istrinya, dia menenteng tas berwarna hitam dan keluar dari kamar sembari menggerutu. "Di kantor pusing. Di rumah nggak ada yang nyenengin. Punya istri, tapi kagak becus!!!"


"Mas Sakti, Mas!!" panggil Arum karena suaminya pergi begitu saja.


Arum mengusap dada sembari menatap nanar ke arah Sakti yang terus berjalan tanpa sekali pun menoleh ke arahnya. "Apa aku harus mempercayaimu, Mas? Sementara selama ini, kamu sudah terlalu banyak menyimpan kebohongan."


"Wanita mana yang nggak akan curiga kalau di baju suaminya ada parfum wanita lain, Mas? Belum bon pembelian baju perempuan. Sementara, seumur aku hidup denganmu, aku nggak pernah sekali pun dibelikan baju."


Hidup dengan seorang pria yang tidak pernah menyesali kesalahan terbesarnya, akankah bisa meneguk rasa bahagia?


...***...


Saat ini, peserta OSPEK tengah diberikan waktu untuk istirahat, salat dan makan (isoma). Nirmala memilih untuk lebih mendahulukan kewajibannya sebagai hamba, dia menarik tubuh menuju musala.


"Aku mau salat zuhur. Kamu mau bareng?" Nirmala balik bertanya.


Lia menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. "Aku nonmuslim, Nirmala...."


Nirmala mengangguk-anggukkan kepala dan menarik bibirnya simetris tanda mengerti. "Baiklah... aku ke musala dulu ya, takut keburu habis waktu isomanya."


"Oke, Nirmala. Aku tunggu di aula," sahut Lia kembali ke ruangan semula.


"Siap!" Nirmala melanjutkan langkah menuju tempat ibadah yang berjarak hanya beberapa meter.

__ADS_1


Sebelum menunaikan salat zuhur, gadis berkerudung putih itu mensucikan diri terlebih dahulu dari hadas kecil. Dia berwudu dengan tertib, tidak ada satu pun yang terlewati.


Suasana musala siang ini masih sangat sepi lantaran semua orang masih berada di dalam aula menyantap makan siangnya. Nirmala mengenakan mukena dan berdiri bersiap untuk mengucapkan takbir. Akan tetapi suara seseorang menghentikannya. "Mari kita salat berjemaah...."


Nirmala mendongak dengan mata menyipit karena tengah mengingat wajah tidak asing pemuda di depannya. "Itu 'kan yang tadi minjemin aku sapu tangan? Dia ganteng juga ternyata, kharismatik! Eh, astaghfirullah...."


"Jaga pandanganmu dari menatapku!!" tegur pemuda tersebut yang membuat Nirmala merasa malu.


"Ma-maaf," balas Nirmala pelan.


"Hm...." sahut pemuda yang mengenakan kemeja biru.


Nirmala melaksanakan salat zuhur sebagai makmum beserta lelaki yang tidak dikenalnya sebagai imam. Hingga rakaat ketiga, musala masih juga sepi. Hanya ada satu orang laki-laki yang berdiri dengan mata menyorot tidak suka dari balik jendela.


Laki-laki itu tidak lain dan tidak bukan, si pemuda yang menjadi pengagum rahasia Nirmala, Bara Biantara. Dia sedari tadi mencari keberadaan Nirmala dan akhirnya menemukan gadis itu tengah salat zuhur bersama seseorang di musala. Bara menatap cemburu, sebab dia tahu pasti bagaimana sepak terjang laki-laki yang berdiri di depan sang gadis pujaan.


"Ah... Zain! Kalau sampai dia suka sama Nirmala, akan jadi saingan terberatku buat ngedapetin cinta gadis itu!!!" batin Bara dengan tangan mengepal erat. Hanya dengan melihat Nirmala salat berjemaah dengan pemuda bernama Zain, sudah membuat Bara ketar-ketir. Memangnya siapa, Zain?


Zain adalah mahasiswa tingkat 5, sama dengan Bara. Berperawakan tinggi, berwajah tampan juga maskulin. Terkenal dingin serta pendiam, dia adalah ketua Rohis kampus Cahaya Bangsa. Belum lagi, Zain termasuk salah satu mahasiswa berprestasi. Karena itulah, ketika Bara melihat Nirmala tengah bersama dengan Zain, timbul rasa kekhawatiran yang tidak beralasan.


...******...


...Mohon maaf ya, belum bisa fokus 🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2