
Universitas Cahaya Bangsa
Pukul 07.10 WIB
"Heh, anak baru!!" Seorang perempuan memanggil Nirmala yang baru saja datang. "Loe tau jam berapa ini?" tanyanya ketus. Nirmala berjalan menunduk sembari memainkan jari jemarinya menutupi rasa cemas.
"Loe ini bisu atau gagu? Gue tanya malah diem aja. Ayo jawab!!" bentak perempuan tersebut menarik lengan Nirmala.
Nirmala mengangkat wajah dan menatap ke arah seniornya. "Maaf Kak, saya terlambat."
"Maaf Kak, saya terlambat," ulang si senior menirukan ucapan Nirmala seraya mencebikkan bibir. "Gue nggak butuh kata maaf dari loe. Gue cuman tanya, jam berapa ini?"
Nirmala mengangkat tangan kirinya. "Jam tujuh lewat sepuluh, Kak."
"Loe punya jam itu dipake, jangan cuman dijadiin pajangan!" cecar perempuan yang rambutnya diikat. "Karena loe udah ngelanggar aturan, loe harus dapat hukuman!!" ungkapnya sinis.
"Baik, Kak... saya mau naruh dulu tas di sana," tunjuk Nirmala pada tempat beralaskan tembok.
"Oke! Dalam hitungan sepuluh detik, loe harus udah balik ke hadapan gue. Kalau nggak? Hukuman loe gue tambah dan yang pasti akan lebih berat!"
Tanpa membuang waktu, Nirmala langsung berlari cepat diiringi suara senior tersebut menghitung waktu secara mundur. Beruntung, Nirmala kembali ke tempat semula, tepat pada waktunya.
"Mujur loe, pas banget sepuluh detik!" ucapnya tidak suka. "Oke... hukuman loe pagi ini, loe harus ngebersihin toilet cowok yang tempatnya ada di belakang gedung pagelaran itu!"
"To-toilet cowok?" ulang Nirmala tergagap lantaran dia tidak nyaman kalau harus berada di tempat yang tidak seharusnya. "Kenapa bukan toilet perempuan aja, Kak? Nggak etis kalau saya harus masuk ke kamar mandi laki-laki," sergah Nirmala karena tidak terima dengan hukuman yang terdengar konyol di telinganya.
"Jadi loe ngelawan gue? Loe nantangin gue?" tekan senior pada Nirmala agar menuruti keinginannya. "Kalau loe nggak mau, gak masalah sebetulnya. Tinggal gue laporin aja sama ketua BEM, biar loe nggak dapet izin ikut OSPEK selama seminggu."
Nirmala memejamkan mata memikirkan ancaman seniornya. Dan akhirnya dia menyetujui hukuman tersebut. "Baik Kak, saya mau ngebersihin toilet laki-laki. Mana sikat sama sabunnya?"
__ADS_1
"Nah gitu dong, mahasiswa baru nggak usah belagu!" cicit perempuan yang mengenakan celana jeans. "Sikat sama sabun, udah disiapin di toilet. Loe tinggal kerjain apa yang gue perintahkan!"
Nirmala mengangguk dan melangkahkan kaki menuju bangunan sepi di seberang tempatnya berdiri. Di saat mahasiswa baru lainnya tengah mengikuti kegiatan orientasi, Nirmala terpaksa harus membersihkan kamar mandi laki-laki seorang diri.
Sesampainya di bangunan sepi dan seperti lorong itu, Nirmala celingukan seraya bergidig ngeri. Sebab selain tempatnya nampak mencekam, bau tak sedap pun sangat mengganggu indra penciuman. Berkali-kali Nirmala menjulurkan lidah seakan ingin muntah.
"Ya ampun... ini cowok-cowok, kok pada jorok banget sih?" Nirmala mencari sikat dan sabun ke seluruh sudut ruangan sembari menutupi hidung. "Bau banget... nggak kuat!!" keluh Nirmala tersiksa dengan aroma pekat tersebut.
Gadis berjilbab putih itu mengisi air ke dalam ember, seraya mata masih mencari keberadaan benda yang dia butuhkan untuk membersihkan lantai. Dia tersenyum karena akhirnya benda yang dicari telah ditemukan.
"Aha... itu dia!" Nirmala lekas-lekas mengambil benda tersebut. Dia langsung membersihkan satu per satu bilik sempit dan bau, agar hukumannya cepat selesai.
Sudah setengah jam Nirmala membersihkan tempat tersebut. Rasa lelah mulai menyergap, keringat pun bercucuran. "Capek banget, haus lagi!!"
Peluh membasahi wajah gadis berkerudung putih, seseorang tak dikenal tiba-tiba muncul dan mengulurkan sehelai sapu tangan. "Pakai ini, jangan pakai baju kamu. Kotor!"
Nirmala menoleh ke arah laki-laki yang berbicara padanya. Laki-laki dengan paras tampan serta netra berwarna cokelat muda. Wajahnya bersih dan bersinar. Untuk sepersekian detik, Nirmala seolah terhipnotis oleh pesona pemuda tersebut.
"Ma-makasih ya..." sahut Nirmala yang langsung memakai sapu tangan tersebut untuk mengeringkan keringat di wajah.
"Sama-sama," jawab pemuda itu singkat. "Ngomong-ngomong, kenapa bisa kamu ngebersihan toilet laki-laki? Nggak seharusnya kamu berada di sini," cecarnya dengan raut tidak ramah.
"Maaf Kak... aku disuruh ngebersihin toilet, soalnya tadi kesiangan," ungkap Nirmala seadanya.
Pemuda tersebut mengangguk lantas memperhatikan Nirmala sepintas. "Kamu mahasiswa baru rupanya. Pantas aja pakai pita-pita di atas kerudung. Ya sudah kembali ke sana, gak baik perempuan berlama-lama di tempat laki-laki."
"Iya Kak... makasih sekali lagi," ucap Nirmala berjalan keluar dari dalam kamar mandi.
"Hm..." sahut lelaki tampan tersebut. "Kalau seniormu bersikap macam-macam gak usah dituruti, lawan saja!"
__ADS_1
Nirmala menghentikan langkah dan menoleh ke arah laki-laki tak dikenalnya. "Baik Kak... makasih sarannya."
Gadis berjilbab tersebut berjalan cepat ke arah di mana dia menyimpan tas. Kemudian melanjutkan langkah, ke tempat para mahasiswa baru tengah mendapatkan materi kepemimpinan.
...***...
"Dari mana saja kamu, kenapa baru datang?" Seseorang bertanya dengan ketus kepada Nirmala. Gadis itu mengernyit karena yang tengah menyorot ke arahnya adalah Bara. Pemuda yang kerap kali bersikap manis juga bertingkah tengil padanya. Namun, kali ini dia nampak seperti orang lain, tegas dan garang.
Nirmala menatap ke sekeliling yang memandanginya dengan bermacam pikiran. "Maaf Kak, tadi saya terlambat sepuluh menit lalu diberi hukuman membersihkan toilet laki-laki."
"Siapa yang menyuruhmu?" sentak Bara. Jujur saja di dalam pemuda itu, dia merasa tidak terima dengan hukuman yang diberikan pada Nirmala.
Nirmala menatap satu per satu seniornya yang berdiri di depan, matanya menyipit dengan telunjuk mengacung. "Kakak yang rambutnya diikat itu yang nyuruh saya ngebersihin kamar mandi laki-laki."
Bara melihat dengan ekor mata, perempuan yang ditunjuk Nirmala mendadak tidak berkutik. Bara menghampiri rekannya lantas berbicara dengan nada serendah mungkin. Tak berselang lama, perempuan tersebut keluar dari dalam ruangan.
Gadis berjilab putih itu masih saja berdiri karena dia bingung harus duduk di mana. Perhatian Bara kembali beralih ke arah Nirmala. Dia menepuk jidat dan bertanya dengan suara yang lebih lantang. "Kenapa kamu masih saja diam di situ? Mau jadi perhatian orang-orang?"
Nirmala menggeleng cepat lanjut cingak-cinguk mencari tempat yang kosong. Seorang gadis manis melambaikan tangan dan mengajak Nirmala untuk duduk bersamanya.
"Hai... aku Nirmala," ujarnya mengenalkan diri.
"Aku Lia," jawab gadis tersebut.
Di saat keduanya tengah saling mengenalkan diri, terdengar suara dehaman. Nirmala dan Lia sontak saja terdiam dan memutar kepala ke arah seseorang yang berdeham tersebut.
"Sudah selesai bergosipnya?" cemooh Bara pada kedua gadis tersebut. "Dengarkan saya baik-baik, saya paling tidak suka ketika saya berbicara dan kalian malah asyik sendiri merumpi di sini!" tambah Bara lagi.
Nirmala menatap ke arah Bara dengan mata tak berkedip lantaran dia seperti melihat sosok lain di dalam diri lelaki itu.
__ADS_1
...****...