Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Cemburu


__ADS_3

"Psikologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani, Psychology yang merupakan gabungan dan kata psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Secara harafiah psikologi diartikan sebagal ilmu jiwa. Istilah psyche atau jiwa masih sulit didefinisikan karena jiwa itu merupakan objek yang bersifat abstrak, sulit dilihat wujudnya, meskipun tidak dapat dimungkiri keberadaannya."


"Bagus kamu Nirmala. Penjabaran mengenai pengertian psikologi sangat tepat dan detail," puji dosen pada mahasiswanya.


"Terima kasih banyak Pak," jawab Nirmala.


Pemaparan perihal pengertian psikologi, mengakhiri sesi kuliah pertama hari ini. Selepas dosen meninggalkan ruangan. Nirmala lekas-lekas keluar dari kelas untuk menitipkan makanan kering buatannya, ke salah satu penjual di kantin kampus.


"Aku bantu bawain ya?" Seseorang tiba-tiba datang dan menarik tas keresek dari tangan Nirmala.


Nirmala tersenyum senang setelah tahu siapa yang membantunya. "Bara?"


"Ngelihatnya biasa aja... jangan bikin aku terpesona," canda Bara yang berdiri mematung di hadapan Nirmala. Dia memperhatikan setiap detail wajah gadis itu dan menyimpannya di dalam ingatan.


"Bola mata kamu berwarna cokelat muda, aku suka!" ungkap Bara menatap lekat. Tatapan pemuda itu sontak saja membuat sang gadis tersipu malu. "Wajah kamu memerah, Nirmala...."


"La-lagian ... ke-kenapa kamu ngeliatin aku kaya gitu, sih?!" tanya Nirmala gelagapan sebab Bara memandanginya begitu intens. Lagi dan lagi, ada gelenyar aneh yang memasuki ruang hati si gadis berjilbab. Rasa yang tak pernah dia alami sebelumnya.


"Apa kamu gugup di dekatku, Nirmala?" Bara mengunci sepasang mata indah milik gadis itu. "Ya... kamu gugup, aku bisa mendengar suara detak jantungmu itu!" tambahnya sengaja ingin membuat gadis itu semakin salah tingkah.


"Hanya dengan digoda seperti ini, Nirmala sudah dibuat gemetaran. Jadi, nggak mungkin dia bisa seberani itu melakukan hal yang memalukan dengan papa!"


"Bara? Hallo...?" Nirmala mengibas-ngibaskan tangannya ke depan wajah Bara. "Kamu kesambet ya? Udah bengong ... senyam-senyum sendiri pula!" cicit Nirmala.


Senyuman si pemuda semakin melebar, Nirmala menundukkan kepala sebab tidak ingin semakin dibuat mati kutu olehnya. "Kalau nggak mau bantuin, tolong kembalikan kantong keresek itu."


Kelopak mata Bara mengerjap. Dia sudah bisa menguasai dirinya sendiri. "Ah, iya maaf. Melihat wajah cantik kamu, emang bikin siapa pun mendadak lupa segalanya."


"Gombal!!" sahut Nirmala berjalan terlebih dahulu. Bara terkekeh seraya geleng-geleng kepala dan menarik langkah lebar untuk menyusul gadisnya.


Kedekatan antara Bara dengan Nirmala, lambat laun menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa. Tidak sedikit yang mendukung mereka memiliki hubungan. Namun, banyak juga yang tidak terima lantaran Bara adalah salah satu pemuda incaran para gadis di kampusnya.


...***...

__ADS_1


"Kamu masih punya muka masuk kelas saya?" tegur seorang dosen pada gadis yang terduduk lesu. "Saya pikir, mahasiswa kurang ajar sepertimu, akan abai dengan urusan pendidikan!" sambungnya sinis.


Nala memutar bola matanya, dia sedang tidak ingin berdebat dengan siapa pun. "Ayolah Pak... seharusnya Bapak senang karena mahasiswa berprestasi macam saya ini, mau ikut kelas Bapak yang sangat membosankan!!"


Dosen tersebut menghela napas, tidak ingin terprovokasi oleh tingkah menjengkelkan salah satu mahasiswanya. Ia melanjutkan pelajaran yang sempat terjeda dan tidak mengacuhkan si gadis cantik, yang kini nampak begitu pasi.


"Lu, nggak apa-apa?" tanya seseorang yang duduk di bangku samping Nala. Meski di dalam hati tersirat kebencian. Namun, melihat wajah gadis yang pernah menjadi sahabatnya sangat pucat, membuat hati kecilnya terenyuh.


"Mona?" pekik Nala bahagia. Sejujurnya di dalam hati, dia begitu merindukan sahabatnya itu. Akan tetapi, rasa gengsi mengalahkan segalanya. "Kenapa lu ngedadak baik sama gue? Pasti lagi ada butuhnya, 'kan?"


Mona melengos dan tidak ingin memberikan perhatian lagi. Matanya fokus pada dosen yang tengah mengajar di depan kelas. Tidak menghiraukan Nala yang masih melihat ke arahnya.


"Dih, gue kira lu mau minta maaf sama gue. Ternyata cuman basa-basi!!"


...***...


"Kamu masih ada kuliah?" tanya Bara terus menguntit gadis itu.


"Masih... tapi nanti jam sebelasan," jawab Nirmala lalu berlari kecil ke arah taman. "Kupu-kupu ini cantik banget, Bara! Bisa fotoin buat aku nggak?" pinta Nirmala yang berjongkok di depan binatang bersayap itu.


Nirmala mengerutkan kening dengan bibir sedikit mengerucut. "Yah... nggak jadi deh kalau gitu!"


Bara terbahak. "Bercanda... lagian bukan minta bayaran apa-apa. Cuman ingin ngajak kamu makan siang bareng."


Melihat Nirmala yang berpikir keras, Bara melanjutkan perkataannya. "Aku yang traktir deh. Gimana?"


"Oke!" sahut Nirmala cepat. "Ayo dong fotoin kupu-kupunya, nanti keburu terbang!" pintanya kepada Bara.


Pemuda yang tengah berdiri, berkali-kali membidikkan kamera ponsel ke arah kupu-kupu. Namun, ia juga mencuri kesempatan untuk mengambil beberapa gambar Nirmala sebagai obat rindu bila tak berjumpa.


"Udah belum?" tanya Nirmala penasaran.


"Udah dong..." jawab Bara.

__ADS_1


Nirmala berdiri dan mendekati Bara. "Mana coba, aku pengen lihat hasilnya!"


Bara membuka galeri ponsel dan memperlihatkan semua foto yang telah dia ambil. Wajah Nirmala kembali bersemu merah sebab objek yang menjadi fokus Bara itu bukanlah binatang bersayap tadi melainkan dirinya.


"Bara... mana foto kupu-kupunya? Kenapa di sini cuman gambar mukaku doang?" selidik Nirmala.


"Kupu-kupunya kalah cantik. Jadi, aku hanya fokus sama wajah kamu."


Keduanya bersitatap, saling berbicara melalui mata. Mengungkapkan isi hati yang tak mampu terucapkan dengan sekedar kata-kata.


"Maaf, ada bulu mata." Bara mencomot sesuatu dari atas pipi gadisnya. Dia mengangkat tangan Nirmala lalu menaruh benda tipis tersebut ke atas telapak tangan. "Mitosnya sih, kalau ada bulu mata yang jatuh artinya ada yang kangen."


Nirmala terkekeh, "Ada-ada aja kamu tuh. Lagian siapa juga yang kangen sama aku?"


"Aku!" jawab dua orang pria serentak. Bara dan juga pemuda yang menjadi saingannya di kampus, Zain.


"Ya elah, lu lagi lu lagi!!" ketus Bara. "Kenapa sih, setiap gue lagi bareng Nirmala, lu pasti nongol?!" tanya Bara jengkel.


Zain tidak mengindahkan Bara. Dia memutar badan lalu menyapa si dara manis yang berada di samping Bara. "Nanti sehabis kuliah, aku tunggu di perpus ya. Aku antar kamu pulang lagi kaya kemarin...."


Setelah berbicara kepada Nirmala, Zain pergi begitu saja seakan tidak memiliki dosa. Meski dia sangat yakin kalau sekarang ini Bara tengah terbakar api cemburu karenanya.


"Jadi, kemarin siang kamu bareng sama Zain?" tanya Bara tidak suka. "Terus malamnya, kamu sama siapa?" sarkasnya seolah menuduh kalau perempuan yang bersama ayahnya adalah Nirmala.


"Ma-maksudmu?" tanya Nirmala tidak mengerti.


Bara mengibaskan tangan. "Ah... lupakan aja. Nggak usah dipikirkan."


"Tapi pertanyaan kamu barusan tidak bisa aku lupakan gitu aja, Bar!" ketus Nirmala. "Kalau bicara itu yang jelas, jangan ambigu kaya begini. Jatuhnya multi tafsir!!"


Hubungan Bara dan Nirmala yang mulai menghangat, membeku kembali karena rasa cemburu yang sebetulnya tidak beralasan dan hanya mengaburkan kata hati, menjadi sebuah kegamangan.


#Materi Psikologi Pendidikan. http://staffnew.uny.ac id

__ADS_1


...*****...


__ADS_2