Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Kangen


__ADS_3

Ayah adalah cinta pertama bagi putrinya. Cinta murni tanpa syarat. Cinta yang mengalahkan indahnya dunia. Namun, tidak bagi seorang Nirmala. Sedari kecil, dia tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah. Dia yang selalu diperlakukan kasar, dia yang selalu mendapat hinaan dan kata-kata menyakitkan. Menjadi pelampiasan akan jiwa lemah yang tidak bisa menerima suratan takdir Sang Pencipta.


"Sakit Pa..." rengek Nirmala karena Arman berulang kali menampar wajahnya. Perasaan pria berkaca mata itu tidak sedikit pun tergugah, meski Nirmala berkali-kali mengeluh kesakitan.


"Cukup!" Bara menahan lengan Arman dari menyakiti Nirmala. "Kalau Om berani memukul Nirmala lagi ... jangan salahkan saya, kalau besok Om dijemput oleh pihak kepolisian!" ancam Bara kepada Arman. Pria yang tega melakukan kekerasan fisik pada anak kandungnya sendiri.


Arman menarik kerah kemeja Bara. "Loe berani sama gue, bocah tengik? Loe 'nggak tau siapa gue! Gue bisa aja bikin kaki loe cacat seumur hidup!"


Nirmala menarik lengan sang ayah. "Pa... sudah Pa. Lepasin temen Nirmala... Papa jangan sakitin temen Nirmala. Nirmala yang salah kok, Pa...."


Arman melonggarkan cengkeramannya dan mendorong tubuh Bara. "Pergi sana, berandalan! Sekali lagi loe berani muncul di hadapan gue ... gue 'nggak akan segan-segan buat matahin kaki loe itu!"


Pria yang kini usianya menginjak 55 tahun, menarik kasar lengan Nirmala. Dia menyeret anak perempuannya itu untuk masuk ke dalam rumah. Nirmala berjalan tertatih-tatih karena harus menyamakan langkahnya dengan langkah Arman.


"Pa... sakit Pa," keluh Nirmala sebab Arman mencengkeram kuat pergelangan tangan. Arman seakan menulikan indera pendengaran dengan terus saja menyeret Nirmala. Tidak tahu apa yang membuat pria paruh baya itu begitu murka. Namun yang pasti, nasib Nirmala kini berada di tangan sang ayah.


"Masuk!!" Arman menghempaskan tubuh Nirmala ke dalam kamar lantas menutup pintu dan menguncinya dari luar. "Loe gue hukum sampai besok pagi. Tanpa minum ataupun makan!" teriak Arman. Pria berkaca mata itu cepat-cepat beranjak dari depan kamar Nirmala, sebab dia tidak ingin mendengar suara rengekan maupun tangisan dari putrinya.


"Pa... buka pintunya, Pa! Kalau Nirmala salah, Nirmala mohon maaf." Gadis berkerudung cokelat menggedor-gedor pintu kamarnya dari dalam. Namun, sia-sia sebab Arman sudah lebih dahulu pergi. "Pa... maafin Nirmala, dengarkan penjelasan Nirmala dulu!" teriaknya berharap sang ayah mau mendengarkan, tetapi dia tidak mendapat jawaban ataupun sahutan.


Tubuh Nirmala melangsur. Dia terduduk lesu di atas lantai dengan punggung bersandar pada daun pintu. Gadis itu masih mencoba mengetuk pintu dengan kencang seraya berteriak lantang. Hingga dia tak mampu lagi menggerakkan tangannya karena kelelahan dan kondisi tubuh melemah. Tidak terasa kedua mata terkatup begitu saja, sampai terdengar sayup-sayup suara azan.


Nirmala mengerjap-ngerjapkan mata dan melihat ke sekeliling kamar yang gelap nan gulita. "Jam berapa ini? Ah... bisa-bisanya aku ketiduran."


Nirmala menarik tubuhnya dari atas lantai dan meraba-raba dinding kamar mencari saklar lampu. Dia memencet tombol on dan kamar yang gelap kini berubah terang. Nirmala melihat ke arah jam weker yang tersimpan di atas nakas. "Astagfirullahal'adziim... aku melewatkan salat magrib."

__ADS_1


Nirmala menarik tubuh lemahnya menuju bilik mandi yang terdapat di dalam kamar. Dia mengambil wudu untuk sesegera mungkin memenuhi panggilan-Nya. Melaksanakan salat isya dilanjut salat magrib dalam satu waktu.


Selepas salat, gadis bermata bulat tersebut berniat untuk kembali ke peraduan. Akan tetapi terdengar suara keroncongan yang berasal dari dalam perutnya. "Aku lapar... baru ingat kalau hari ini cuman makan nasi goreng tadi pagi."


Nirmala beringsut ke arah meja, barang kali tersimpan sisa-sisa makanan. Namun, dia tidak menemukan apa pun di sana. "Huh... mana makanan ringan juga habis. Kalau begini caranya, lebih baik aku tidur aja, biar rasa laparnya ilang."


Gadis bernetra cokelat berjalan gontai ke arah ranjang. Tetapi telinganya menangkap suara mencurigakan dari arah balkon. Seperti suara kaki seseorang yang melompat. "Siapa di sana?"


Nirmala mengendap-endap seraya memasang kuda-kuda. Terlihat bayangan dari balik tirai, gadis itu memberanikan diri untuk bertanya sekali lagi. "Siapa di balkon?"


"Ini aku, Bara!" jawab pemuda itu pelan-pelan. Nirmala membuka gorden, Bara menyeringai manis ke arahnya sembari memperlihatkan sebuah bungkusan.


"Apa?" tanya Nirmala tanpa bersuara. Bara menjawab pertanyaan Nirmala dengan berpantomim membuka pintu.


Nirmala manggut-manggut tanda mengerti. Dan benar saja, tidak lama dari situ dia menarik kenop pintu dan keluar dari kamar untuk menemui pemuda tersebut. "Ada apa Bara, kenapa kamu nekat naik ke kamarku? Kalau Papa tau, kamu bisa celaka!"


Nirmala meraih bungkusan yang disodorkan Bara. "Ta-tapi kenapa kamu bisa tau kalau aku lagi kelaparan? Dan kenapa bisa tau, ini kamarku?"


Bara tersenyum misterius. "Aku penggemar rahasiamu sejak lama, Nirmala. Jadi hal kaya begini, gampang buatku."


Nirmala mendesah, "Apa pun itu... aku bener-bener berterima kasih. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu, Bara."


"Aamiin..." jawab pemuda yang bernama Bara Biantara.


...***...

__ADS_1


"Ayolah beb ... satu bulan kemarin kita 'gak ketemu. Gue pengen malam ini ngehabisin waktu bareng loe," ucap seorang pemuda kepada kekasih yang sangat dirindukan. Semenjak kepindahannya dari kampus Cahaya Bangsa, dia kesulitan untuk menemui sang gadis pujaan.


"Gue suntuk, Boy! Gue pengen pulang!" tolak Nala lantaran dia sudah memiliki janji pertemuan dengan Sakti.


Boy mendorong tubuh Nala ke sandaran kursi mobil dan mengungkungnya seraya menatap dalam. "Gue kangen banget sama loe. Gue kangen bibir manis loe ini, Nal."


Laki-laki yang tengah dirundung nafsuu, menyambar bibir ranum sang kekasih dan melumatt dengan liar. Menolak di awal, tetapi menikmati pada akhirnya, Nala menyambut setiap pagutan dan cumbuan lalu membalasnya tak kalah beringas.


"Kamu makin pinter aja, beb. Siapa yang ngajarin?" Tatapan Boy bertambah sayu sebab gairahnya tengah merangkak. "Sebulan gak ketemu, kamu makin ngegemesin." Boy menggigit bibir Nala dengan tangan menjelajah setiap lekuk tubuh kekasihnya.


Nala melenguh, menjadikan Boy semakin berani mempermainkan tubuhnya. Menyentuh titik-titik sensitif yang membuat dia meremang juga kelojotan.


"Stop it!" sentak Nala karena tangan Boy sudah sangat jauh bergerak. "Jangan ke situ... itu daerah terlarang," ujar Nala manja.


Boy mendengus kecewa. "Ah loe payah, Nal! Kita pacaran udah tiga tahun, masa greppe-greppe doang ke situ aja 'nggak boleh!"


Nala menyandarkan kepala ke atas bahu kekasihnya sembari bergelayutan manja. "Sorry... gue belom siap, Boy! Gue masih takut."


"Takut apa sih, loe. Takut bunting?" sentak Boy kesal karena penolakan Nala dengan kalimat menggantung. "Gampanglah, kita bisa pake pengaman!" tambah Boy menarik dagu kekasihnya dan kembali mencumbu mesra.


Nala menggulirkan bola mata mencari jawaban yang tepat. "Ah... pokoknya saat ini gue bener-bener belum siap, Boy! Please... jangan paksa gue!"


Boy mendorong kepala Nala dari atas bahunya dan menyalakan mesin mobil. "Nggak asyik loe, Nal! Bosen gue lama-lama pacaran modelan begini, 'nggak jauh beda kaya macarin anak SMA!"


Pemuda yang tengah kecewa, melajukan kendaraannya dengan kecepatan maksimal. Meluapkan kekesalan dari hasrat yang tidak bisa tersalurkan. "Mau gue putusin si cewek manja ini, tapi sayang gue belum dapet apa-apa. Rugi, kan? Sedangkan dia, udah morotin banyak duit gue."

__ADS_1


...*****...


__ADS_2