
Dua sejoli menaiki elevator yang khusus digunakan oleh pimpinan perusahaan. Mereka bertolak menuju ruang direktur yang berada di lantai tiga. Keduanya saling melancarkan godaan baik dengan ucapan maupun perbuatan. Bak sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.
"Om gemas banget sama kamu, sayang." Sakti meremass bokong gadis di sampingnya, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Ih, Om genit banget sih! Ntar kalau tiba-tiba ada yang masuk, gimana?" protes Nala lantas mencubit pinggang pria yang seusia dengan ayahnya.
"Nggak akanlah, lift ini khusus buat Om seorang. Kalau karyawan, ada lift yang lain." Sakti semakin berani, tangannya menelusup ke dalam rok mini dan kembali meremass tubuh bagian belakang Nala dari balik celana tipisnya. "Pantat kamu bulat banget, Om suka!"
Nala menepis tangan Sakti. "Mon maap, Om... remas-remas pantat, bayar satu juta!"
Sakti terkekeh, "Selain nakal, matre juga kamu rupanya."
Nala melingkarkan tangan ke leher Sakti. "Cewek itu harus matre, Om. Emangnya bedak sama lipstik belinya pake daun?!"
Sakti mencolek hidung gadisnya. "Om cuman bercanda, sayang. Kamu minta uang berapa pun, pasti akan Om kasih. Asal—"
"Asal apa, Om?" sahut Nala menunggu jawaban dari ucapan Sakti yang terputus.
"Asal, kamu mau jadi simpanan Om dan mau melakukan apa pun yang Om inginkan." Sakti membelai bibir ranum Nala, ingin mencicipi kembali benda kenyal tersebut. Namun sayang, pintu elevator telah lebih dahulu terbuka.
Sekretaris baru Sakti bernama Theresa terkejut bukan kepalang melihat atasannya yang paling dia segani tengah bermesraan dengan seorang gadis yang lebih pantas menjadi putrinya. "Astaga Pak Sakti... aku benar-benar gak nyangka. Jadi benar gosip yang beredar selama ini, kalau Pak Sakti doyan main daun muda."
"Kamu kenapa, Theresa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tegur Sakti lantaran sekretarisnya itu menatap ke arahnya tanpa berkedip.
"Ti-tidak kenapa-kenapa, Pak. Mohon maaf atas kelancangan saya." Theresa membungkukkan badan, tidak ingin kehilangan pekerjaan hanya karena kecerobohannya.
Sakti berjalan begitu saja melewati sekretarisnya menuju ruangan yang pintunya tertutup rapat. "Kalau ada yang mencari saya, bilang saja kalau saya sedang ada meeting di luar."
"Ba-baik Pak..." jawab Theresa menatap nanar ke arah punggung pria yang sangat dia hormati. Hingga punggung itu menghilang tertelan oleh daun pintu yang semula terbuka dan kini kembali tertutup.
__ADS_1
Sakti duduk di atas sofa dan disusul oleh Nala di sampingnya. "Kamu mau minum apa, sayang?"
"Apa saja, Om. Nala pasti suka," imbuh Nala dengan suara serak-serak basah. Sakti mendekatkan wajah, dia membisikkan sesuatu kepada gadisnya. Mata Nala membola dengan apa yang didengarnya.
"Gimana, mau nggak? Om yakin kalau kamu udah terbiasa minum itu." Sakti tersenyum sinis. Nala tersipu malu dan mengangguk pelan.
"Om, kok bisa tau kalau Nala suka itu?" tanya Nala ambigu. Nala melirik ke arah Sakti seraya menggigit tipis bibir bawahnya.
"Pengalaman Om udah banyak, sayang. Akan sangat mudah bagi Om menerka hal seperti itu. Tapi kalau soal keperawanan ... Om harus membuktikannya sendiri, baru Om percaya."
Nala tergelak menertawakan Sakti. "Om bisa aja deh modusnya! Maaf ya Om, kalau soal itu Nala nggak bisa."
Sakti menanggapi dengan santai perkataan Nala. Dia menyalakan sebatang rokok lantas merentangkan tangan ke atas sandaran kursi. "Tenang saja, Om menunggu dengan sabar kok. Karena Om yakin suatu saat kamu akan menyerahkannya juga."
Nala tersenyum tipis mendengar selorohan Sakti, yang baginya terdengar seperti sebuah taruhan. "Nggak Om, sekali nggak tetap nggak."
"Seratus juta," kata Sakti tanpa penjelasan.
Sakti memutar batang rokok di atas asbak lalu menatap lekat netra mata cokelat muda. "Aku beli keperawananmu, seratus juta. Kurang? Lima ratus juta?"
Kerongkongan Nala seakan tercekat, meski dia selama ini tidak pernah kekurangan materi dari sang ayah. Namun, mendengar nominal uang sebesar itu, prinsipnya tergoyahkan juga. "Li-lima ratus juta, Om?"
Sakti mendekatkan wajahnya. "Iya sayang, lima ratus juta. Dan setiap main, Om akan bayar kamu lima juta untuk satu malam. Apa kamu yakin nggak akan tergiur? Nggak akan berubah pikiran?"
Nala mengerjapkan kelopak mata berkali-kali seraya memikirkan tawaran Sakti yang pastinya sangat langka untuk didapatkan. "Maaf, Om... Nala tetap nggak bisa. Nala gak mau ngecewain papa."
Sakti menarik dagu Nala ke atas. "Kenapa emangnya? Papa kamu nggak akan tau kamu masih perawan atau nggak. Kalau kamu takut, kita bisa melakukannya memakai pengaman."
"Tapi Om?" Ucapan Nala terputus lantaran Sakti mengatup bibirnya menggunakan jari telunjuk.
__ADS_1
"Om akan sabar menunggu sampai kamu berubah pikiran." Sakti mengecup bibir Nala hingga tidak ada celah yang terlewati.
...***...
Allahu Akbar... Alla...hu Akbar...
Suara azan zuhur telah diperdengarkan. Memanggil setiap jiwa untuk bertemu dengan Penciptanya. Menyisihkan sepersekian waktu untuk bersimpuh, melepaskan urusan dunia yang tidak akan pernah ada habisnya.
"Gimana Neng, kuat dipake berdiri?" Bu Ina membantu Nirmala bangkit dari tempat duduk lantas merengkuh pundak gadis itu untuk memapahnya.
"Alhamdulillah kuat Mak ... kaki Nirmala udah mendingan kok, gak sesakit tadi." Nirmala berjalan timpang ke tempat wudu dengan dibantu bu Ina. Meski kondisi kakinya tengah cedera, dia tidak ingin bermanja-manja untuk melalaikan kewajibannya sebagai seorang hamba.
Setelah berwudu, bu Ina membawa Nirmala menuju musala. Mereka akan melakukan salat zuhur secara berjemaah, dengan Yusuf sebagai imam. Pemuda yang biasanya bertingkah tengil, saat ini terlihat begitu menawan dengan pakaian berwarna putih bersih, sarung berwarna biru dan peci hitam menutupi rambut gondrongnya.
Nirmala yang tidak sengaja menatap pemuda di depannya, langsung menundukkan pandangan seraya berucap tanpa suara. "Masya Allah."
Satu rakaat, dua rakaat, tiga rakaat dan telah sampai pada rakaat ke empat. Ketiga hamba telah memenuhi kewajiban, mereka kini tenggelam dalam untaian-untaian doa yang membasahi bibir-bibir mereka. Membasuh hati yang kelam dan pikiran yang mengawang.
Nirmala terisak di antara doa, sebab dia tiba-tiba teringat akan saudara kembarnya. Dada terasa sesak, dia merasakan sesuatu yang buruk tengah terjadi kepada Nala.
"Kenapa Neng?" tanya bu Ina khawatir karena Nirmala menekan dada kirinya dengan napas yang terdengar berat.
"Nggak tau, Mak... Mala mendadak ingat sama Nala. Dada Mala juga ikutan sakit," lirih Nirmala yang merasakan bahwa saudarinya dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Bu Ina memijat lembut bahu Nirmala. "Istighfar ... terus doain neng Nala di mana pun berada selalu dalam lindungan Gusti Allah...."
"Apaan dah, cewek nyebelin macam si Nala gak usah didoain, percuma!!" timpal Yusuf yang menguping pembicaraan ibunya dengan Nirmala.
Bu Ina melemparkan sandal jepit ke arah muka putranya. "Sebelum ngomong itu dipikir dulu. Jangan kelepasan kaya kentut ... bikin bau, bikin runyam. Lagian, kamu kan laki-laki. Itu moncong dijaga!!!"
__ADS_1
"Iya, Mak.... maafin Yusuf." Pemuda berpeci hitam menarik jemari sang ibu dan mengecup punggung tangannya. Nirmala hanya bisa menatap haru, meski dalam hati menyimpan rasa cemburu sebagai seorang anak yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
...*****...