
"Pak Sakti Hendrawan... suatu kehormatan bagi saya karena seorang pengusaha sukses seperti anda, berkenan menginjakkan kaki di perusahaan saya yang masih merangkak ini," ucap seorang pria mengulurkan tangan ke arah Sakti.
Pria tersebut menyambut sangat ramah pria berusia enam puluh tahun tersebut lalu mengajaknya ke ruangan pribadi direktur utama dan mempersilakan untuk duduk menjamunya. "Kopi, teh manis atau—"
"Air putih saja," potong Sakti.
"Sebentar...," kata pria tersebut setelah sebelumnya mengangguk-anggukkan kepala. Ia lalu memanggil seorang office boy, meminta untuk menyiapkan air minum dan juga makanan ringan.
"Kalau boleh saya tahu, ada angin apa yang membawa pengusaha terkenal seperti anda menandatangi kami?" ucap pria yang tidak diketahui namanya tersebut.
Sakti menopang sebelah kakinya dengan punggung bersandar santai. "Anda tahu PT Adhigya Kusuma Djaya?"
Pria yang usianya berkisar empat puluh lima tahun tersebut nampak tengah mengingat nama perusahaan itu. Keningnya mengerut dengan mata menatap lurus ke arah Sakti. "Adhigya Kusuma Djaya? Tentu saja tahu bahkan saya kenal betul siapa pemiliknya. Lalu apa hubungannya dengan kedatangan anda ke mari?"
Sakti mengeluarkan sebuah kotak yang berisikan beberapa batang cerutu. "Boleh saya merokok di ruangan ini?"
Lelaki di sampingnya mengangguk. "Bo-boleh Pak, silakan...."
Sakti menyesapi cerutu tersebut dengan santainya membiarkan pria yang tengah menanti jawaban dilanda gelisah dan juga rasa penasaran. Berkali-kali dia mengeluarkan asap dengan bentuk seperti lingkaran. Asap tersebut kini memenuhi ruangan yang semula menguar aroma lavender, sekarang berubah menjadi bau nikotin. "Pemilik perusahaan kontraktor itu bernama Arman Susanto, benar?"
"Be-benar, Pak," ucap si pria tersebut gugup. Ia terus saja menerka maksud dari pertanyaan-pertanyaan Sakti yang masih saja menggantung.
"Dia baru saja memenangkan tender sebesar 500 M? Proyek pembangunan perumahan mewah di Pulau Bintan. Betul, 'kan?" tanya Sakti lagi. Dia menyesap kembali benda di jarinya lalu memainkan asap-asap yang mengepul.
__ADS_1
"Be-betul, Pak. Dia memenangkan tender tersebut dan saya kalah karena tidak memiliki cukup modal."
Sakti menegakkan tubuhnya lalu mematikan api cerutu tersebut di atas sebuah asbak. Dia meneguk minuman yang telah disajikan untuknya lalu melempar selembar kertas. "Itu cek dengan nominal 1 triliun. Saya ingin kamu menggunting dalam lipatan. Rebut tender itu, dengan menawarkan harga lebih tinggi kepada pihak-pihak tertentu."
"Ta-tapi..." sergah pria tersebut bimbang. "Itu artinya saya bertindak curang?" tanyanya untuk menegaskan.
"Zaman sekarang kalau tidak menggunakan cara curang, kapan majunya?" cicit Sakti meyakinkan kegamangan pria yang duduk di samping. "Kalau kamu berhasil merebut tender itu, bisa dipastikan perusahaan milik Arman akan goyah. Sementara perusahaanmu, akan naik pesat. Tidak tertarik memangnya?"
"Lalu benefit apa yang akan menjadi timbal balik bantuan anda kali ini, Pak? Tidak mungkin 'kan, anda memberikan uang dengan nominal sebesar itu, secara cuma-cuma?" Pria tersebut menelisik maksud tersembunyi dari penawaran Sakti.
Sakti tertawa dan melahap beberapa butir almond. Dia lagi-lagi membuat orang lain penasaran juga kebingungan dengan tingkahnya. "Saya memberikan uang itu tanpa syarat apa pun alias cuma-cuma. Yang penting bagi saya mendengar perusahaan milik Arman kolaps dan dia jatuh miskin!"
"Anda memiliki dendam dengan Pak Arman?" selidik lelaki yang menatap Sakti dengan raut tanda tanya.
Pria dengan rambut berjambul tersebut menundukkan wajahnya. "Ma-maaf Pak, atas kelancangan sikap saya."
Tubuh sakti bergerak dari semula duduk di kursi, sekarang telah tegak berdiri. "Urusan saya sudah selesai denganmu ... saya tunggu kabar membahagiakan mengenai Arman. Jadi, jangan kecewakan, saya. Frans!!"
"Ba-baik, Pak. Saya tidak akan mengecewakan anda."
Sakti keluar dari ruangan seraya mengenakan kaca mata hitamnya. Senyum sarat akan kelicikan, tersungging dari bibir merah kehitaman. "Nala sayang... sebentar lagi, kamu akan menjadi milik Om!"
...***...
__ADS_1
Selang beberapa hari dari pertemuan Sakti bersama Frans. Terdengar kabar bahwa tender yang semula dimenangkan eh PT Adhigya Kusuma Djaya kini beralih kepada PT Golden Tiger. Kabar ini cepat sekali merembet terutama di kalangan para pengusaha kontraktor, hingga sampai ke telinga Sakti yang notabennya bukan seorang yang bergerak di bidang konstruksi.
"Ah... kenapa bisa tiba-tiba kacau begini sih?!" Arman melempar semua berkas-berkas tender dan juga tagihan dari beberapa pihak yang dia libatkan pada giga proyek kali ini. Dia menarik kasar rambutnya lalu mengerang kesal. "Bisa-bisanya perusahaan Frans yang masih seumur jagung ngalahin perusahaan gue, dengan cara busuk pula! Apa ini karma buat gue karena dulu ngehancurin perusahaan Ahmad sampe dia stres trus mati nyusul kakaknya, Azizah?"
Kemarahan seketika berubah menjadi tawa membahana. "Karma? Apa itu karma? Nggak ada yang namanya karma, terlebih buat seorang Insinyur Arman Susanto!!"
Arman terus saja berbicara sendiri merutuki kesialan besar yang menimpanya kali ini. Sesekali dia tertawa, sesekali berteriak dan mengerang kencang. Angan-angan besar di mana dia ingin memanjakan sang anak kesayangan, pupuslah sudah. Karena dia mengalami kerugian besar-besaran dan dapat dipastikan kalau perusahaannya mengalami defisit anggaran dan juga keguncangan.
Pria berkaca mata tersebut kembali ke kebiasaan buruknya dengan mendatangi tempat hiburan malam. Di saat terpuruk seperti ini dan ketika dilanda ujian besar, yang teringat di kepalanya hanya tempat penuh maksiat. Tempat yang ia pikir bisa menyelesaikan masalah. Namun, sebetulnya hanya akan menambah masalah kian rumit.
"Maaf Pak, anda belum membayar minuman anda," tegur salah satu waiter. Arman sontak berdiri lantas menarik kerah pakaian waiter tersebut kemudian memukul wajahnya. "Body guard, seret orang ini keluar!!!" titah waiter tersebut pada dua pria yang bertubuh tambun.
Karena keributan yang dibuat oleh Arman, membuat dia harus rela diseret lalu dilempar ke jalanan beserta ucapan sumpah serapah yang ditujukan untuknya.
Arman terpelanting ke atas trotoar. Dia membalas sumpah serapah dari dua orang tersebut dengan makian dan juga kata-kata kasar. "Kampret...!!! Kalian nggak tau siapa gue, hah...?"
"Itu bukannya Om Arman, ya? Kok kaya gembel begitu?" gumam seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari tempat Arman terjungkal. "Aku fotoin ah...," Ia mengambil gambar pria tua itu dengan kondisi pakaian dan rambut acak-acakan. Nampak di tangan kiri, sebotol minuman yang sudah habis dia tenggak.
Gadis yang memiliki tindik di samping hidung, mengirimkan foto Arman ke jejaring sosial. Dengan judul, "Ayah dari Seorang Nala Susanto Ternyata adalah Pecandu Minuman Keras". Kabar ini dengan cepat merebak di kalangan mahasiswa. Siapa sih yang tidak kenal dengan Nala Susanto. Si Gadis seksi nan cantik jelita, tetapi terkenal sangat arogan.
Semua orang begitu antusias menggunjingkan perempuan seksi tersebut. Hingga melupakan bahwa diri mereka sendiri memiliki dosa dan aib yang mungkin masih Allah tutupi hingga kini.
...*****...
__ADS_1