Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Doa


__ADS_3

Di atas sajadah merah, Nirmala tengah bersimpuh pilu. Memasrahkan segala kemelut hidupnya pada Sang Maha Pemberi Kehidupan. Lantunan doa-doa, tak henti membasahi bibirnya yang mulai pasi. Mengharap karunia Tuhan, akan keselamatan jiwa saudara kembar yang sangat dia sayangi segenap hati.


Andaikan bisa bertukar jasad, sungguh Nirmala sangat ikhlas bila rasa sakit yang Nala derita saat ini, ditukar dengan hidupnya yang sempurna. Namun, garis tangan setiap orang tentulah berbeda. Sesuai dengan apa yang telah tercatat di Lauhul Mahfudz, jauh sebelum ruh ditiupkan.


"Ya Allah... Sebetulnya aku malu, menghadap-Mu hanya sekadar meminta dan memohon. Tapi, ke mana lagi aku memohon. Selain kepada-Mu Sang Pemilik Hidup?"


"Ya Allah, Ya Mujib. Selamatkan Kakakku. Berikan dia kesempatan hidup yang kedua. Kesempatan agar dia bisa memperbaiki masa lalu yang kelam dan menutupnya dengan kebaikan."


"Kabulkanlah doaku ini, Ya Rabb. Rabbana aatina fidunya hasanat, wafil aakhirati hasanat. Waqina 'adzabannar. Aamiin...."


Nirmala mengusap wajahnya perlahan lantas menangis sesenggukan. Kedua bahu turut bergemetar, memikirkan nasib sang kakak yang tengah berperang dengan maut.


Manusia sejatinya hanya makhluk lemah. Tiada daya upaya sedikit pun, tanpa izin serta pertolongan dari Sang Maha Kuasa.


"Ayo bangkit, Nirmala. Kamu harus kuat demi saudara kembarmu...."

__ADS_1


Ucapan seseorang yang tiba-tiba muncul begitu saja, menyadarkan Nirmala dari buaian kesedihan. Kepala yang semula menunduk, kini terangkat bersama deraian air mata yang tak jua mengering.


"Bara..." panggil Nirmala, lirih.


"Nala akan baik-baik saja, percaya padaku." Bara yang awalnya dalam posisi berdiri, dia turut duduk di samping Nirmala. Tatapannya penuh iba. Besar rasa hati ingin memeluk sang pujaan, memberi ketenangan dan perlindungan. Namun, dia tahu akan batasan antara dirinya dengan Nirmala.


"Ntahlah... aku terlalu mencemaskan saudara kembarku," jawab Nirmala yang kembali menundukkan kepala. Helaan napas terdengar sangat berat. Siapa pun yang mendengarnya pasti bisa memahami akan beban yang tengah gadis itu pikul di pundaknya.


"Apa kamu meragukan kuasa Tuhanmu, Nirmala?" Bara menekuk lehernya, mencari paras sang gadis yang tertutupi awan kelabu.


Nirmala terkesiap dan menatap sendu ke arah pemuda di sampingnya. "Bukan begitu, Bara. Aku cuma takut. Bahkan terlalu takut...."


Nirmala mengangguk lemah. "Makasih ya... nggak tau apakah cuma kebetulan atau emang takdir yang sudah mengaturnya. Kamu selalu ada, kalau aku lagi kesusahan dan terpuruk seperti sekarang ini."


"Itu namanya kita ini berjodoh," canda Bara berusaha menghangatkan suasana.

__ADS_1


"Bukan waktunya ngelawak!" sinis Nirmala sebab suasana hatinya sangatlah buruk.


"Aku nggak lagi ngelawak," balas Bara menggoda Nirmala.


"Ayolah, Bara..." rengek Nirmala agar Bara tidak melanjutkan leluconnya.


"Maaf..." jawab Bara, mengangkat kedua jarinya.


Nirmala mendengus dan melepas mukena yang masih melekat di tubuhnya. "Aku mau menemani Papa, kamu mau ikut?"


"Kalau boleh..." sahut Bara.


"Makanya aku ngajak juga, berarti boleh, Bara..." Nirmala mulai dibuat kesal oleh pemuda di sampingnya.


Bara sekuat tenaga menahan tawa. Dia menikmati raut merengut yang menghiasi wajah Nirmala. Di matanya, momen seperti ini menjadikan paras sang gadis terlihat lebih memesona.

__ADS_1


"Oke... aku ikut. Aku datang ke rumah sakit salah satunya karena ingin tahu kondisi Nala," jawab Bara.


Nirmala memaku sesaat. Dia menoleh ke arah pemuda di sampingnya dengan tatapan tajam, penuh intimidasi. "Kamu, menyukai kembaranku, Bara?"


__ADS_2