Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Siapa Perempuan Itu?


__ADS_3

"Bukannya itu Mas Sakti? Tapi kok dia sama perempuan seksi? Dari perawakannya aja jelas bukan mba Arum," gumam seseorang yang memergoki pria tua itu tengah bercengkerama dengan gadis muda di salah satu restoran Jepang. "Hape mana hape?" gumamnya lagi sembari merogoh tas tangannya. Dia mencuri gambar kemesraan Sakti bersama seorang wanita sembari geleng-geleng kepala.


Sementara itu, pria yang tengah diintai sedang asyik mengelus-elus paha perempuan simpanannya. "Lembut banget kulit kamu sayang... bikin Om makin gemes deh."


Nala menepis tangan Sakti dari atas pahanya. "Jangan di sini dong, Om. Ntar kalau ada yang kenal kita, gimana? Om gak sabaran banget nih...."


Sakti terkekeh dan mencubit dagu lancip milik sugar baby-nya. "Oh, jadi kamu maunya di mana? Di dalam mobil atau di kamar hotel, hm...?"


Nala garuk-garuk kepala karena sadar sudah berucap salah. "Em... nggak gitu juga, Om. Maksud Nalaβ€”"


Sakti tiba-tiba menyambar bibir gadis di depannya di depan khalayak umum. Pria beruban itu telah hilang rasa sungkan juga rasa khawatir andaikata ada orang lain yang menyaksikan tingkah memalukannya. "Om gemes kalau lihat bibir kamu bergerak-gerak kaya barusan. Pengen rasanya nyosorin terus kaya bebek."


Nala cingak-cinguk untuk memastikan keadaan, dia sangat takut kalau ada orang yang mengenali dirinya. "Jangan gitu dong, Om. Kalau ada saudara atau tetangga Nala, gimana? Bisa-bisa ntar pada ngadu sama Papa!"


Sakti menarik dagu Nala lalu menatapnya. "Tenang aja, sayang. Om bisa membungkam mulut siapa pun dengan uang yang Om punya. Sekali pun itu papamu."


Nala menelan saliva kasar, kini dia menyadari maksud perkataan Toni yang mengingatkannya untuk berhati-hati dengan Sakti. Karena dia bisa merasakan dari kalimat yang dilontarkan pria itu, ada ancaman berat yang direncanakan olehnya. Apakah itu? Hanya Allah dan Sakti yang tahu.


"Astaghfirullah... Mas Sakti... apa nggak cukup dengan kematian Kemuning? Sekarang, dia melakukan kesalahan yang sama. Malah lebih parah karena simpanannya kali ini anak abege," gumam seseorang yang bernama Kemala. Dia terus menguntit pria tak tahu malu itu dengan ponsel di tangan.


Perempuan berusia empat puluh lima tahun tersebut adalah adik kandung Sakti. Dia saksi kunci mengenai perselingkuhan Sakti dengan Arum. Bahkan dia tahu betul kalau Arum selama ini tidak pernah merebut laki-laki itu dari istri pertamanya, Kemuning. Ini memang semata-mata penyakit Sakti yang mata keranjang. Tidak cukup bersenang-senang dengan hanya satu perempuan.


"Kali ini aku gak akan diam, Mas! Mbak Arum harus tahu apa yang Mas Sakti lakuin di belakangnya!" Kemala memasukkan kembali telepon genggam ke dalam tas setelah mengambil beberapa foto serta video sebagai barang bukti.


"Om... ngerasa gak sih, kok dari tadi kaya ada yang ngawasin kita?!" cicit Nala dengan memasang mata. Dia menutup mukanya menggunakan masker dan menggulirkan kepala ke sana ke mari.

__ADS_1


"Nggak tuh, Om nggak ngerasa ada yang merhatiin kita! Lagian kalau pun ada, ya gak masalah!" seru Sakti acuh tak acuh.


Nala mendengkus. "Yah, buat Om sih nggak apa-apa. Tapi buatku, jelas apa-apa! Om, kita pindah aja yuk cari tempat yang lebih aman!"


Sakti menganggukkan kepala. "Baiklah kalau kamu maunya gitu. Om bayar dulu makanan kita ya."


Sakti memanggil seorang waiter dan meminta bill pembayaran hidangan yang belum sempat mereka makan. Setelah beberapa saat, keduanya keluar dari restoran Jepang tersebut menuju tempat parkir di lantai dasar.


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, langit biru berganti jingga. Awan putih berarak kian kelabu. Hati yang memanas, kian meneduh. Menyambut ujung hari, dengan senyuman terbaik dan penuh syukur.


"Kak Nirmala... kak Nirmala..." panggil anak-anak komplek yang biasa belajar mengaji dengan gadis pendiam tersebut. "Kak Nirmala... Kakβ€”"


"Woy berisik!!" Arman melempar sandal ke arah anak-anak tersebut. "Pergi lu pada! Ngeganggu orang yang lagi tidur aja!" gerutu Arman yang tengah terlelap di kursi teras seraya mendengarkan lagu-lagu lawas.


Arman melotot dan berkacak pinggang. "Lagu-laguan lu, emang ini rumah punyalu? Kalau mau ngajar anak-anak ini ngaji, noh di masjid! Lukira rumah gue rumah panti, apa?"


Nirmala menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah sang ayah. "Iya Pa... maaf. Mala cuman ingin rumah ini diramaikan oleh suara anak-anak yang mengaji. Kalau Papa gak ngizinin Mala ngajar anak-anak di rumah, gak apa-apa biar di musala aja."


"Ahgr...!!" erang Arman. Dia beringsut lalu berdiri di samping putrinya. "Terserahlu dah, gue mau lanjutin tidur! Awas aja kalau berisik. Gue timpuk itu anak-anak pake sapu!" geram Arman yang terdengar ambigu.


Kedua bola mata Nirmala menyalang senang. "Ja-jadi, Papa ngizinin Mala ngajar ngaji anak-anak itu di rumah? Makasih banyak ya Pa...."


"Pa... Papa..." panggil Nirmala lantaran Arman terus saja berjalan tanpa menjawab pertanyaannya. Tentu saja pria itu tidak akan merespon karena ego sebagai orang tua jauh sangatlah tinggi.

__ADS_1


Nirmala jingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang mendapat permen lantas memanggil anak-anak kecil yang berdiri memegangi pagar rumahnya. "Ayo masuk sini!"


Keempat anak kecil tersebut bersitatap dan menarik kedua alisnya, bertanya tanpa suara. Nirmala yang menyadari guratan keraguan di wajah mereka, kembali berteriak. "Ayo masuk, aman kok."


Wajah murung kembali berbinar. Anak-anak kecil tersebut begitu antusias. Mereka memasuki pekarangan rumah dan mengucapkan salam kepada gadis yang menyambut dengan ukiran senyuman. "Assalamu'alaikum, Kak Nirmala...."


"Wa'alaikumsalam..." jawab Nirmala ramah. Dia mengajak anak-anak kecil itu ke samping rumah yang terdapat saung kecil tempat mencari angin segar. "Kita ngajinya di sini aja ya. Biar papanya Kak Mala gak keganggu."


"Kak, ini 'kan udah sore ... kata pa Ustadz gak boleh tidur sore-sore," celetuk Raihan anak tetangga depan rumah.


Nirmala menarik kedua bibirnya simetris lalu membuang napas perlahan. "Papa Kak Mala 'kan baru pulang kerja dari tadi pagi, pasti kelelahan. Jadi, wajar aja kalau ketiduran."


"Tapi... ayah Muti juga sore pulangnya, Kak. Nggak pernah tidur sore kok," timpal anak kecil berkerudung merah.


Nirmala kembali menyunggingkan senyuman dan mengusap-usap pucuk kepala anak perempuan tersebut. "Tiap orang kondisi badannya berbeda, cantik. Papa Kak Mala juga gak tiap hari tidur sore. Mungkin aja karena hari ini banyak banget kerjaan di kantor, makanya kecapean."


Semua menganggukkan kepala, mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Nirmala. "Oh gitu ya Kak. Ya udah deh, pokoknya kita mau ngaji sama Kak Mala. Nanti keburu magrib."


Nirmala turut mengangguk lantas meminta mereka untuk membuka iqra, sesuai halaman terakhir belajar mengaji. "Buka iqra 5, halaman 20 ya. Sebelum ngaji kita baca basmallah dan doa sebelum belajar terlebih dulu."


Anak-anak mematuhi apa yang diintruksikan Nirmala, sedangkan Arman yang menguping dari dalam rumah, terus saja mengumpat karena kesal. Ocehan-ocehan anak kecil tersebut membuat telinganya panas dan dada mendidih murka. "Sialan ini bocah-bocah. Awas aja kalau ketemu di jalan. Gue jewer itu kuping!!"


...*****...


...Mohon maaf... mau fokus sehabis ramadhan, ternyata masih susah karena lebaran banyak menyambangi tempat-tempat untul bersilaturahmi πŸ™πŸ™...

__ADS_1


...Semoga teman-teman semua selalu diberikan kesehatan ya πŸ™...


__ADS_2