Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
ICU


__ADS_3

"Dokter, suster... tolong putri saya!" teriak Arman menciptakan kepanikan orang-orang yang berada di sekitar. "Anak saya kritis. Tolong...!!" teriaknya lagi.


"Maaf ada apa, Pak?" tanya seorang pria yang mengenakan tanda pengenal di atas dada kirinya.


"Ada apa, ada apa. Apa lu gak lihat, kalau anak gue sekarat?" geram Arman.


Pria tersebut melihat ke arah gadis yang berada di pangkuan Arman lanjut bergerak cepat dengan menarik ranjang pasien yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Arman langsung saja merebahkan tubuh Nala, saat brankar tersebut sudah di depan mata.


"Bertahan ya, Nak!" kata Arman memberi kekuatan.


Selang beberapa detik dua orang perawat datang dan langsung membawa Nala menuju ruang gawat darurat. Dan secara bersamaan, mereka berpapasan dengan dokter jaga yang bertugas hari ini.


"Kebetulan kami bertemu Dokter di sini. Ada pasien gawat darurat, Dok!" ucap salah seorang perawat.


Seraya berjalan kaki, dokter tersebut melihat ke arah Nala. Keningnya mengerut sebab ia mengenali gadis yang terbaring lemah di atas brankar.


"Ini, 'kan, pasien saya," gumam dokter. "Tolong bawa pasien ke ruang ICU, segera!" titahnya pada perawat.


Kedua perawat tersebut menuruti perintah dokter dengan membelokkan brankar yang semula akan dibawa ke ruang UGD, beralih ke ruang ICU yang berada di gedung berbeda.


"Pa... Nala mau dibawa ke mana? Nala takut, Pa..." lirih gadis yang tengah terbaring lemah.


"Jangan banyak berpikir, Nak. Pokoknya kamu bakalan sembuh, Papa janji!!" ujar Arman pada putrinya.


Brankar pasien perlahan memasuki pintu yang bertuliskan ruang ICU. Genggaman tangan Arman sedikit demi sedikit terlepas dari jemari Nala. Pada akhirnya, pria angkuh itu terpuruk. Tangisnya pecah, tak bisa lagi tertahankan.


"Mohon maaf, Bapak tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam ruang ICU. Silakan tunggu di luar," imbuh perawat karena Arman merangsek ikut masuk.


"Pa... tenang ya, Pa. Sabar...." Nirmala menenangkan.

__ADS_1


"Mana bisa Papa tenang sedangkan kakakmu itu lagi berjuang dengan maut?!" geram Arman. "Kamu mungkin bisa santai karena menganggap Nala sebagai musuh, bukan kembaran!"


"Nggak gitu, Pa. Maksud Mala—"


"Udah-udah!! Lama-lama mulutmu Papa lakban juga!" kesal Arman tidak mau mendengar perkataan putrinya.


Arman duduk termangu di atas bangku. Pupil matanya membayang karena air mata yang sedari tadi berderai. Hingga terdengar suara kenop pintu dibuka, dia menyeka mata yang sembab dan sontak berdiri menghampiri wanita yang keluar dari ruang ICU.


"Gimana anak saya, Dok?" tanya Arman.


Dokter menghela napas. "Kondisi pasien sangat lemah. Sesegera mungkin kami harus melakukan tindakan, dengan mengangkat salah satu ginjal pasien yang sudah tidak berfungsi."


"Lakukan saja, Dok!" suruh Arman. "Perkara biaya, akan saya usahakan sekarang juga. Yang penting, anak saya bisa selamat."


Dokter manggut-manggut. "Bapak bisa menghubungi bagian administrasi dan mendiskusikan perihal ini terlebih dulu. Untuk sementara waktu, saya hanya bisa memberikan pertolongan pertama pada pasien."


"Ba-baik, Dok!" sahut Arman.


"Kamu tunggu di sini, Papa mau nyari duit." Arman pergi begitu saja berjalan tergesa-gesa tanpa menjelaskan secara detail kepada Nirmala.


"Mau nyari uang ke mana, Pa?" pekik Nirmala.


Arman berhenti dan sedikit menolehkan kepalanya. "Mau ngejual mobil Nala ... atau kalo elu mau, elu yang gue jual!"


"Pa..." lirih Nirmala.


"Pokoknya lu tunggu di sini. Gak usah banyak bacot!" sentak Arman. "Gue lagi pusing, lu bukannya nyari solusi malah bikin gue tambah pusing!!" Arman melanjutkan langkahnya. Berjalan dengan derap yang cepat.


Nirmala menatap nanar punggung sang ayah, dia berjalan lesu dan duduk kembali di atas bangku. Dia tak kalah terpukul dengan kondisi kembarannya saat ini. Di dalam hati, untaian doa kepada Sang Khalik terus terpanjat tiada henti.

__ADS_1


"Ya Allah... sembuhkanlah Nala. Berikan kekuatan pada saudara kembar hamba."


"Ya Allah... Kalaupun harus menukar nyawa Nala dengan nyawa hamba... hamba ikhlas."


"Hamba rela bertaruh nyawa demi kebahagiaan orang-orang yang hamba sayangi. Papa juga Nala...."


...***...


"Ke mana kamu Nala? Giliran om lagi butuh, kamu malah ngilang!!" gumam Sakti berjalan mondar-mandir dengan ponsel di samping telinga. "Ah... sialan kamu. Om lagi kepengen banget! Eh... gak bisa dihubungin. Mau disalurin ke mana ini?" Arman melempar ponsel ke atas kasur.


"Apanya yang mau disalurin, Pa?" timpal Bara.


Sakti menengok sepintas kemudian mendelikkan mata setelah tahu siapa yang tengah mengupingnya. "Hadeuh... si anak durhaka. Mau apa lagi, hah...? Belum cukup, bikin perkara sama Papa? Belum puas bikin Papa kehilangan muka?"


"Bara geli aja denger omongan Papa barusan. Ada tante Arum istri sah Papa, eh malah nyari pembuangan sampah!" ledek Bara.


Kedua mata Sakti melotot. "Mamamu itu udah tua, udah peot. Coba kamu lihat Papa, masih segar bugar begini, 'kan? Papa masih kuat main di ranjang. Sayang dong kalau gak disalurkan?!"


Bara geleng-geleng kepala. "Udah bau tanah, ya tobat Pa. Bukannya malah mikirin urusan selangkangann terus-terusan!"


"Oh, iya ngomong-ngomong bau tanah. Tuh peliharaan Papa, si Nala. Bentar lagi juga bakal mati. Ntah Papa atau dia duluan yang masuk kubur!" seloroh Bara.


"Maksud kamu ngomong gini, apa?" sentak Sakti.


"Si Nala, penyakitan. Udah mau mati! Ginjal dia udah rusak parah, gara-gara kebanyakan mabok!" jelas Bara. "Palingan bentar lagi Papa juga bakalan nyusul dia, tuh!" tambahnya seraya melengos lalu pergi dari hadapan Sakti.


"Nala udah mau mati?" gumam Sakti. "Ah... masa iya? Kemarin-kemarin dia masih kuat kok. Ya... emang sempat pingsan sih! Tapi 'kan, Itu juga cuman sekali doang!" Sakti berbicara sendiri.


"Aku rugi bandar dong? Belum juga nyicip surga dunia, masa dia udah mau mati aja!" Sakti mengurut keningnya yang tiba-tiba pening. "Rencanaku gagal dong? Niat hati bikin bapaknya bangkrut. Trus kaya di sinetron-sinetron, si Nala jual diri buat biaya donor ginjal. Eh, malah keburu sekarat!" Sakti memukul-mukul kepalanya sendiri karena kenyataan tidak sesuai dengan yang dibayangkan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2