Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Ginjal


__ADS_3

Dokter menghela napas. "Silakan duduk, Mas...."


Bara mengangguk lantas duduk di tempat yang telah disediakan. "Bagaimana Dok teman saya, ma-maksud saya tunangan. Tunangan saya sakit apa?"


Dokter mengeluarkan hasil pemeriksaan cek darah, USG dan tes urine Nala, yang diambil saat gadis itu sudah siuman. "Dari ketiga hasil tes yang sudah kami lakukan terhadap pasien, dengan sangat menyesal kami sampaikan...."


"Apa, Dok?" Bara memotong pembicaraan karena dokter terlihat sengaja mengulur-ulur waktu.


"Kondisi ginjal pasien sudah sangat mengkhawatirkan dan saat ini dia hanya hidup dengan satu ginjal karena ginjal sebelah kanan sudah tidak berfungsi."


"Lalu?" Bara kembali bertanya.


Dokter menopang wajahnya dengan kedua tangan dan menatap lesu. "Kita harus mengangkat ginjal kanan pasien dan secepatnya mendapatkan donor ginjal. Kalau tidak—"


"Kalau tidak, apa Dok?" potong Nala yang menguping dari sela-sela pintu. Dia memaksa masuk meski seorang perawat sedari tadi menahan dirinya.


Semua orang terperanjat sebab kedatangan Nala yang tidak diharapkan. Dokter bersitatap dengan Bara, merasa bersalah karena tidak bisa menjaga rahasia mengenai kondisi pasiennya.


"Kalau tidak, apa Dok?" ulang Nala. "Jawab, Dokter!! Kenapa Anda hanya diam saja?" sentak Nala memukul meja.


"Silakan Anda duduk dulu, biar saya jelaskan." Dokter merangkul pundak Nala memintanya untuk duduk.


Nala mengggerak-gerakkan bahunya. "Gak perlu, Dok. Aku berdiri aja. Sekarang... tolong katakan, gimana kondisiku dengan sejelas-jelasnya. Aku berhak tau!!"


Dokter melirik ke arah Bara untuk meminta persetujuan, pemuda itu mengangguk mengiyakan. "Baiklah, akan saya jelaskan. Tapi apa pun itu, semoga Anda bisa kuat mendengar kenyataan tentang kondisi kesehatan Anda."


"Udahlah Dok, jangan muter-muter. Aku pusing dengernya. Bilang langsung apa susahnya sih? Bikin orang snewen aja!" protes Nala tidak sabar.


"Sabarlah, Nal. Tunggu Dokter ngomong dulu," tegur Bara.


Nala melengos, enggan mendengarkan ocehan Bara yang baginya menambah pening kepala. "Jadi, sakit apa yang aku derita Dok? Apa Dokter mau bilang kalo umurku gak lama lagi, iya?"


Dokter menatap Nala sesaat lalu menunduk dan menganggukkan kepala. "Kalau kita tidak secepatnya melakukan operasi pengangkatan ginjal dan mendapatkan donor, akan sangat-sangat beresiko."


"Sampai kapan aku bisa bertahan hidup, Dok?" Nala berusaha tegar.


"Melihat kondisi ginjal Anda yang berfungsi hanya tinggal satu dan itu pun dalam kondisi tidak baik-baik saja ... umur nyawa Anda bersisa satu sampai dua bulan lagi," jelas Dokter.


Nala terkekeh sembari menghapus air mata yang berderai ke atas pipi. "Aku akan mati? Sebentar lagi aku bakalan menyusul mama ke liang lahat?"

__ADS_1


Bara berdiri dan membelai lengan Nala. "Semua akan baik-baik aja. Percaya sama gue."


"Kenapa bukan kembaran gue aja sih yang penyakitan? Mengapa harus gue yang ngalamin ini semua?" teriak Nala mengacak-acak rambutnya. "Tuhan bener-bener gak adil sama gue, Bar!!"


"Jangan ngomong kaya gitu," tegur Bara.


"Terus gue harus gimana, Bar? Nerima gitu aja sama penyakit sialan ini?" isak Nala karena jiwanya tertekan. "Gue sakit Bar... umur gue gak lama lagi." Tangis Nala akhirnya pecah tak bisa tertahankan.


Bara membawa Nala ke dalam pelukan. Saat ini, gadis itu membutuhkan seseorang yang bisa menenangkan hatinya. "Pasrahkan semuanya sama Allah, Nal! Allah gak akan memberi kita cobaan di luar batas kemampuan."


"Tapi ini di luar batas kemampuan gue, Bara...! Siapa yang bisa melawan takdir? Nggak ada!!" Nala sesenggukan, membayangkan bahwa dia akan mati di usia belia. "Ini gara-gara kebodohan gue juga. Gue terlalu terlena ... minum-minuman beralkohol, mabuk-mabukan. Dan sekarang, gue harus membayar mahal semua ini!"


Nala terus menangis di dalam pelukan Bara, pemuda yang selama ini dia idam-idamkan. "Gue minta sama lu. Jangan sampai papa ataupun Mala tau penyakit yang gue derita. Selama ini gue udah cukup nyusahin mereka. Biar aja gue mati secara perlahan."


Bara geleng-geleng kepala. "Bokap sama kembaranlu, sayang banget sama lu Nal. Pikirkan juga perasaan mereka. Lebih cepat lebih baik, mereka tau soal kondisi lu. Dengan lu nyimpen penyakit ini, itu sama aja lu nyakitin orang-orang yang sayang lu."


"Ntahlah Bar, gue lagi gak bisa mikir. Saat ini gue cuman butuh lu di sisi gue, sampai gue nutup mata nanti...."


...***...


"Pa... tadi Nala bilang gak, mau pergi ke mana?" tanya Nirmala mencemaskan kembarannya.


"Masa iya ke salon sampai selarut ini dia belum pulang sih, Pa?" Nirmala geleng-geleng kepala dan mondar-mandir di depan teras, menunggu kepulangan saudaranya.


Arman berdecak. "Ah elu, kaya yang ga tau aja gimana pergaulan Nala. Paling bentaran lagi anak itu pulang."


"Nah panjang umur juga tuh anak, baru juga digosipin!" tandas Arman berdiri untuk melihat dengan jelas si anak ke sayangan yang baru saja keluar dari sebuah mobil.


Arman maupun Nirmala menyipitkan mata, memindai satu persatu orang yang berjalan memasuki pekarangan rumah.


"Eh busyet... lu lagi lu lagi!" tegur Arman ketika menyadari siapa yang datang bersama anaknya. "Gue gak suka lu deket-deket sama anak gue, kagak level!!!" cibirnya.


Tubuh Nala terhuyung-huyung, dia menutupi mulut karena merasakan mual yang teramat sangat. "Pa... anterin Nala ke kamar. Nala kepingin muntah."


"Jangan bilang, lu hamil sama berandalan ini!" tuduh Arman.


Nala geleng-geleng kepala. "Bukanlah Pa. Nanti Nala ceritain. Sekarang anter Nala ke kamar, gak kuat pengen muntah. Mual banget rasanya."


"I-iya... Papa antar kamu ke kamar." Arman merangkul Nala dan membawa gadis itu sesuai dengan permintaannya.

__ADS_1


Nirmala membuang napas panjang karena dia pun membutuhkan penjelasan dengan apa yang terjadi pada kembarannya. "Kamu sama Nala....?"


Bara menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mengerti maksud arah pertanyaan gadis di depannya.


"Lalu...?" tanya Nirmala lagi. "Kamu benar nggak ada hubungan sama Nal—"


Bara mengatup bibir Nirmala menggunakan jari telunjuknya. "Kamu percaya, 'kan, kalau aku gak mungkin melakukan hal bejat sama Nala?"


Nirmala mengangguk. "Ya, aku percaya. Kamu laki-laki baik...."


"Kamu mau tau, apa yang terjadi sama kembaranmu itu?"


"Ya tentu saja. Aku harus tau mengenai dia. Dia kakakku dan dia satu-satunya saudara yang aku punya di dunia ini," jawab Nirmala. "Jadi katakanlah...."


"Semua?"


"Semua," tegas Nirmala.


Nirmala mengajak Bara menuju bale-bale di samping rumah karena tidak ingin ada orang lain yang menguping pembicaraan mereka. "Jelaskan soal kakakku. Sekarang!"


Bara mengunci kedua mata Nirmala dengan tatapan dalamnya. "Pertama, Nala adalah simpanan papaku."


"Astaghfirullahal'adziim..." potong Nirmala gelisah. "Lalu, kedua?"


"Kedua... sekarang saudarimu itu mengidap sakit ginjal akut. Ginjal kanannya udah rusak dan ginjal kirinya, gak berfungsi dengan baik. Lantaran kebiasaan buruknya yang sering mabuk-mabukkan," jelas Bara langsung pada intinya.


"Jadi, kesimpulannya Nala...."


"Ya..." Bara mengangguk.


"Ya Allah..." Nirmala menangkup wajahnya tertegun dengan kenyataan yang baru saja didengarnya. "Terus, aku harus gimana?" lirihnya berkaca-kaca.


"Nala harus segera melakukan operasi pengangkatan ginjal sebelah kanan dan mendapatkan donor ginjal. Kalau ingin umurnya bertahan lebih lama."


"Ya Allah, Nala..." Gadis berjilbab itu menutupi wajahnya. Kedua pundak naik turun, dia menangis tersedu-sedu. Bara mendekati Nirmala ingin menenangkan dengan cara memeluknya. Akan tetapi, dia masih ingat dengan batasan.


"Sabar Nirmala... semoga Allah mempermudah jalan kita buat membantu kesembuhan Nala."


...*****...

__ADS_1


__ADS_2