
"Ada hubungan apa lu sama bokap?" Bara masih penasaran, dia menginterogasi Nala. "Lu, peliharaan bokap gue?" tanyanya lagi.
Nala menyesap minuman bersoda untuk meredakan rasa gugupnya. "Gu-gue gak sengaja ketemu sama bokap lu di taman. Trus, dia maksa-maksa gue buat ikut dia. Tau-taunya gue dibawa ke klub malam."
Bara terkekeh, "Lupikir gue sebodoh itu?"
Terlihat sekali gadis yang sekarang sedang bersama Bara begitu ketakutan. Raut wajah berubah putih pasi dan sikapnya cenderung gelisah.
"Gue gak bohong. Berani sumpah deh!" Nala mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.
"Jujur sama gue, lu ada hubungan apa sama bokap?" Bara kembali bertanya hal yang sama. Gestur tubuhnya mengatakan bahwa dia bukan orang yang mudah diperdaya dengan kebohongan.
Nala kembali menyesap minumannya. Kerongkongan naik turun dengan jari jemari gemetaran. "Gu-gue, simpanan bokap lu."
"Coba ulangi lagi?" Bara bertanya dengan suara yang ditekan.
"Gue... simpanan bokap lu," ulang Nala.
"Sejak kapan?" tanya Bara.
"Gue lupa... tapi yang jelas udah lumayan lama," ungkap Nala tidak berani menatap wajah Bara.
Pemuda yang tengah gelisah, ingin rasanya menghajar manusia tidak tahu malu di depannya. Namun, otak warasnya masih bekerja, dia tidak mungkin bersikap kasar pada seorang wanita. "Jadi, pemikiran gue bener. Kalau bokap ada main sama cewek ingusan. Yang bikin gue gak habis pikir. Lu 'kan, bukan orang susah kenapa mau-maunya jadi cewek rendahan?"
"Lu beda banget sama kembaran lu. Dia selain baik, santun, anaknya pekerja keras. Sedangkan lu?" Bara menjeda ucapannya. "Nggak ada hal baik dari dalam diri lu!"
"Jangan banding-bandingin gue sama Nirmala." Nala sekarang memiliki keberanian menatap Bara. Kilatan amarah terlihat jelas dari bola matanya. "Gue ya gue, Nirmala ya Nirmala. Gue happy dengan diri gue sendiri. Gue gak mau pura-pura jadi orang lain, sok baik, sok kalem biar dipuja-puji!" kilah Nala atas kekurangannya.
"Tapi lu bisa berubah menjadi lebih baik, 'kan? Jadi diri sendiri bukan berarti lu terus-terusan berada di zona nyaman lu sebagai cewek gampangan, gak punya aturan, bersikap seenaknya, serampangan, renda—"
Nala menampar wajah Bara karena tidak terima dengan apa yang dilontarkan pemuda itu terhadapnya. "Jaga bicaralu! Gue gak butuh ceramah dari lu. Gue ke sini bukan mau ngedengerin omong kosong lu!"
__ADS_1
"Gue cuman—"
"Apa?" potong Nala. "Cuman mau menghina gue, iya? Banyak orang dengan mudah menghakimi seseorang. Tapi mereka lupa berkaca pada diri mereka sendiri. Permisi!" Nala menarik diri dari hadapan Bara.
Bagaimanapun kerasnya watak gadis itu, Nala tetaplah seorang perempuan. Batinnya tertekan, hatinya tergores oleh perkataan Bara. Jauh di dalam lubuk hati, dia tahu betul apa yang dia lakukan selama ini salah. Namun, ada bagian hati yang masih terkunci rapat belum tersentuh oleh Rahmat-Nya.
Nala menarik langkah lebar, kedua manik matanya berkaca-kaca. Selorohan Bara terus saja terngiang-ngiang di telinga. Menjadikan kondisi tubuhnya mendadak melemah. Rasa sakit di pinggangnya kembali menjalar. Dia sedikit membungkuk menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Bara menarik bibir ke salah satu sudut, lalu berjalan melewati Nala lantas menubruknya. "Kebiasaan cewek suka banyak drama!"
Tubuh Nala terhuyung ke belakang. Bara masa bodoh dan terus saja berjalan ke arah cashier karena dia pikir Nala hanya bersandiwara. Hingga suara hirup pikuk orang-orang yang berada di restoran siap saji tersebut, berhasil mengalihkan perhatiannya.
Bara lekas-lekas kembali ke tempat di mana Nala tengah dikerubuni semua orang. Dia merangsek ke dalam kerumunan. Kini nampak jelas di matanya, wajah Nala yang terlihat seperti mayat hidup dan tarikan napas yang melemah.
"Tolong panggilkan ambulan!" teriak Bara panik.
Seorang waiter dengan sigap menghubungi nomor darurat untuk meminta dikirimkan satu unit ambulan. Dan setelah beberapa saat, kendaraan yang ditunggu pun telah datang. Anggota medis langsung membawa Nala menuju Rumah Sakit terdekat.
"Maaf Mas, Dokter mau bicara..." ujar perawat ketika Bara kembali dari bagian administrasi. "Mari ikut saya." Perawat tersebut mengulurkan kelima jarinya agar Bara mau mengikuti ke mana dia melangkah.
Bara menganggukkan kepala dan tidak bertanya apa pun karena tidak ingin membuang waktu.
"Ada apa Dok, mencari saya?" Bara langsung bertanya ketika tiba di ruangan dokter yang menangani Nala.
"Maaf, Mas ini siapanya pasien?" tanya dokter.
"Sa-saya tunangannya, Dok!" Bara berkilah.
Dokter manggut-manggut lalu menaruh kedua tangannya di atas meja dan berbicara dengan serius. "Mengenai kondisi pasien, sepertinya dia harus melewati beberapa tes. Saya khawatir, ada masalah kesehatan yang menyebabkan dia mendadak pingsan dan terjadi dalam waktu yang lama."
"Lakukan aja, Dok!" seru Bara tegas.
__ADS_1
Dokter tersenyum tipis. "Baik kalau begitu. Saya akan melakukan cek darah terlebih dahulu, setelah itu tes-tes yang lain."
"Silakan, Dok. Kalau itu benar menurut Dokter."
...***...
"Kamu kenal sama Bara?" Arum mendapat kesempatan yang tepat untuk bertanya pada karyawannya.
"Bukan kenal lagi, Bu. Tapi lengket," sahut Lia yang tidak sengaja menguping.
"Benarkah?" Arum antusias.
"Benarlah, Bu. Kak Bara itu udah kaya bayangan Nirmala. Di mana ada Nirmala, di situ pasti ada Kak Bara," cicit Lia seperti rem blong. "Tapi... kenapa Bu Arum tanya soal Kak Bara, emangnya kenal?" Lia heran.
Nirmala yang semula salah tingkah hingga tak bisa menjawab, turut bertanya-tanya mengenai hubungan Bara dengan atasannya.
Arum seolah bisa membaca pikiran Nirmala juga Lia, yang akhirnya mengungkapkan siapa dia. "Saya Mamanya Bara."
"Mamanya Bara?" Bola Mata Nirmala terbuka lebar.
"Iya... saya Mamanya Bara." Arum tersenyum manis.
"Wah... camer impian dong nih?" Lia menyenggol lengan sahabatnya.
Nirmala mengerdip-ngerdipkan mata, memberikan kode agar Lia tidak banyak bicara. Aruma memperhatikan gelagat Nirmala yang membuat bibirnya tersenyum simpul. "Nggak apa-apa, kok. Malah saya senang, Bara bisa dekat dengan gadis cantik sebaik kamu."
"Cie... dipuji camer. Cie..." ledek Lia membuat rasa malu Nirmala semakin menjadi.
Gadis berjilbab itu hanya bisa membisu dan menyembunyikan wajahnya. Selain karena fakta mengenai Arum adalah ibunya Bara, juga lantaran perasaan aneh yang menelusup ke dalam relung hati akhir-akhir ini. Menjadikan ia begitu sungkan dan tidak memiliki keberanian untuk berbicara pada wanita yang berdiri di hadapannya.
...*****...
__ADS_1