
"Selamat ya... besok kalian sudah bisa bekerja di tempat kami." Arum mengulurkan tangan, Nirmala dan Lia membalasnya. "Jobdesk kalian berdua sudah saya titipkan ke mbak Ririn. Jadi, kalau ada yang ingin ditanyakan, hubungi saja beliau."
"Baik, Bu. Terima kasih banyak..." jawab Nirmala dan Lia serentak.
"Sama-sama... semoga kalian betah berkerja di sini ya..." harap Arum pada karyawan barunya.
Nirmala dan Lia keluar dari ruangan Arum. Dari jarak beberapa meter ada seseorang yang memperhatikan keduanya. "Nirmala... dia ada di sini? Di toko tante Arum?"
Seseorang itu buru-buru masuk ke dalam ruangan Arum karena rasa penasaran yang menggebu di dalam kalbu. Wanita yang menjadi ibunya kini, terheran-heran. Sebab untuk pertama kalinya sang anak sambung sudi menginjakkan kaki di tempat usaha miliknya.
"Bara?" pekik Arum girang. "Ini benar-benar kejutan buat Mama kamu ada di sini, Nak..." kata Arum seakan tengah bermimpi. Dia beranjak lalu merentangkan tangan, ingin mendekap Bara layaknya seorang ibu kepada putranya.
"Tante gak usah berpikir terlalu jauh. Aku ke sini cuman ingin memastikan, kalau kondisi Tante baik-baik aja," ketus Bara berjalan satu langkah ke belakang.
Arum tersenyum kecut. "Ah... iya. Maafkan Mama ya, Nak. Mama cuman terlalu bersemangat."
Bara mengangguk, dia ingin sekali bertanya mengenai Nirmala. Namun, rasa sungkan membuatnya ragu-ragu. Arum bisa mencium sesuatu yang mengganjal di dalam pikiran Bara.
"Ada apa, Nak? Ada yang kamu pikirkan?" selidik Arum. "Katakan saja, gak perlu merasa malu sama Mama," titahnya mengusap-usap lengan Bara sesaat.
Bara menghembuskan napas panjang. "Aku cuman penasaran aja sama cewek berjilbab yang tadi keluar dari ruangan Tante. Apa namanya Nirmala?"
Arum memiringkan kepala menatap dalam anak sambungnya. "Iya betul.. nama anak itu, Nirmala. Kamu kenal sama dia?"
Bara tersenyum senang. "Iya, aku kenal dekat sama Nirmala. Dia juniorku di kampus ... tapi ada urusan apa dia di toko Tante?"
Arum menarik kakinya dan kembali duduk di balik meja kerjanya. "Dia habis interview."
Bara begitu antusias. Dia mendaratkan tubuh di atas kursi karena rasa ingin tahunya mengenai sang gadis pujaan. "Interview? Terus dia diterima nggak, Tan?"
Arum mengangguk seraya mengukir senyuman manis. "Iya... tentu saja Mama nerima dia bekerja di sini. Selain dia baik ... Mama juga berutang budi pada gadis itu."
"Utang budi?" ulang Bara.
"Iya utang budi," tegas Arum. "Dia pernah menolong Mama waktu kecopetan di pasar. Anaknya jago bela diri ternyata," jelas Arum mengingat kejadian saat itu.
"Makasih ya Tan, udah nerima Nirmala buat kerja di sini," balas Bara senang lantaran dia bisa lebih leluasa mendekati sang kekasih hati.
__ADS_1
"Gak perlu bilang makasih, anak itu memang layak mendapatkannya," sahut Arum. "Coba Mama tebak ... kamu ada hati sama Nirmala, 'kan? Karena Mama bisa merasakannya..." ujar Arum berharap anak dari istri pertama Sakti, bisa lebih terbuka kepadanya.
Wajah sumringah Bara seketika menghilang tergantikan oleh kemarahan. Ego di dalam diri, mulai menguasai pikirannya kembali. "Tante gak usah berharap aku bisa menerima Tante. Jadi, jangan melewati batasan karena Tante bukan mamaku."
"Tante nggak bermaksud begi—"
"Nggak perlu kepo sama urusan pribadiku, aku nggak suka!" potong Bara kesal.
"Kapan kamu bisa memaafkan dan menerima Mama sebagai mamamu, Nak? Sebegitu bencinya kamu sama Mama?" ratap Arum karena rasa bahagia yang semu.
Bara berdiri lalu memunggungi ibu sambungnya. "Sampai Tante mau meninggalkan papa dan menceraikannya. Baru aku akan memaafkan Tante!"
Jantung Arum terhenyak, begitu dalam kebencian Bara terhadapnya. Ingin sekali dia berteriak, bahwa di sini pun dia sama-sama menjadi korban. Korban keegoisan dan keserakahan Sakti. Tetapi, pembelaan diri di saat semua kesalahan ditujukkan padanya. Hanya akan terdengar bak hembusan angin, tiada guna.
...***...
"Om... Nala minta duit dong Om." Tanpa rasa malu, gadis bersurai hitam menadahkan telapak tangan ke arah Sakti. "Papa nggak ngasih Nala uang jajan soalnya, bete!" rajuk Nala mengerucutkan bibir tebalnya.
Sakti terkekeh lalu mengeluarkan benda berwarna cokelat pekat dari dalam saku celana. "Kamu butuh uang berapa?"
Pupil mata seketika melebar lantaran melihat lembaran uang berwarna merah berbaris rapi di dalam dompet pria di sampingnya. "Terserah Om aja mau ngasihnya berapa. Nala sih, terima-terima aja."
Nala meneguk saliva lalu mengulurkan tangan ingin mencomot uang yang digenggam oleh Sakti. Pria tua itu menjauhkan benda tersebut, dengan bibir tertarik tipis. "Eits... nggak ada yang gratis ya. Kamu mau uang ini? Temani Om minum-minum nanti malam. Dan...."
"Dan apa, Om?"
"Kamu pakai penutup kepala kaya kembaranmu itu. Om suka banget lihat Nirmala," pinta Sakti yang terdengar aneh di telinga Nala.
"Permintaan Om ada-ada aja nih," sahut Nala mencubit manja pinggang Sakti.
"Gimana, mau nggak?" tanya Sakti memastikan.
Nala menganggukkan kepala tanda dia menyetujui keinginan Sakti. "Dipikir-pikir, oke juga tuh ide aki-aki bau tanah! Aku jadi nggak perlu takut, kalau satu waktu kepergok lagi jalan berduaan bareng Om Sakti! Orang-orang bakalan ngira aku ini adalah Nirmala."
"Ya udah, Om. Kalau gitu ... Nala mau pulang dulu ya. Mau siap-siap sama pinjem jilbab ke Nirmala," cakap Nala kepada Sakti.
Sakti mengangguk. "Kita langsung ketemu di klub aja ya, di ruangan biasa!"
__ADS_1
"Siap, Om!!" Nala mengacungkan kedua ibu jarinya. "DP-nya dulu dong Om... mobil Nala 'kan diisi bensin, bukan pake air galon!" seloroh Nala.
Sakti mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan lalu melipatnya. Dia memasukkan uang tersebut ke dalam belahan dada Nala. "Satu juta dulu ya, cantik ... sisanya nanti kalau habis nemenin Om."
"Rebes, Om... makasih cuannya." Nala mengecup kedua pipi Sakti lalu berjalan keluar ruangan. Dia mencabut uang yang diselipkan pria itu ke dalam dadanya lanjut mengecupnya.
"Yes, akhirnya aku punya uang juga!" kelakar Nala di depan pintu ruangan Sakti. "Lumayan bisa buat pergi ke salon!" gumam Nala seraya berjalan tanpa mempedulikan sekelilingnya.
Orang-orang memandangi Nala dengan tatapan sinis karena mereka mengetahui dengan pasti hubungan terlarang antara gadis itu dengan atasan mereka.
...***...
"Wow... kamu benar-benar sempurna sayang..." Sakti berdiri dan merentangkan tangan menyambut tubuh Nala ke dalam dekapannya.
"Jadi selama ini Nala kalah cantik dibanding Nirmala ya Om?" rengek Nala menekuk wajah karena rasa cemburu.
Sakti terkekeh lantas mencubit pipi simpanannya. "Sama-sama cantik sayang... tapi kalau pakai jilbab begini, bikin Om makin geregetan!"
"Ah, bisa aja nih Om gombalnya!" Nala mencubit paha Sakti gemas. "Mana nih Om minumannya? Tumben banget belum disiapin," protes Nala karena di atas meja hanya ada makanan ringan.
"Sebentar lagi pesanannya datang, sabar dong sayang..." Sakti menjawil dagu lancip milik Nala. "Kamu udah gak tahan ya kepengen mabuk bareng Om?" goda Sakti mengusap-usap punggung Nala.
"Iyalah Om, seret nih kerongkongan Nala. Butuh sesuatu yang bikin darah mendidih!" seloroh Nala lupa akan perkataan Tono mengenai kondisi kesehatannya.
Sepuluh menit kemudian, seorang waiter datang membawa dua botol minuman beralkohol di atas nampan. Nala langsung saja menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas yang berisikan beberapa es batu.
"Ah... enak banget nih, Om!" puji Nala menghabiskan satu sloki wiskey termahal di klub malam tersebut. Dia menuangkan kembali minuman memabukkan tersebut dan meneguk gelas kedua.
Berawal dari rasa senang karena nafsuu dunia telah dia nikmati. Kini rasa sakit yang harus dia ditanggung seorang diri. Nala mengaduh dan merintih sebab merasakan nyeri yang teramat sangat di bagian bawah punggung dan pinggang sebelah kanan.
"Om... tolongin Nala, Om. Pinggang Nala sakit banget!" lirih Nala menahan rasa sakit dan mual yang menyerang tiba-tiba.
Sakti tetap santai karena mengira Nala tengah berpura-pura, mengerjainya. "Udah... gak usah acting-acting segala! Ayo minum lagi ... bersulang...."
Tubuh ringkih Nala akhirnya roboh lantaran si Empunya tidak kuat menahan rasa sakit yang menjalari tubuh.
"Nala... sayang... Nala...."
__ADS_1
...*****...