
Kerap kali manusia dikalahkan oleh ego dan rasa gengsi. Sehitam apa pun tabir yang menutupi diri, jauh di dalam lubuk hati sebetulnya mengakui kesalahan. Meski di mulut ia terus saja mengingkari.
"Ayo, Pa!" ajak Nirmala pada sang ayah. Sesuai janjinya yang diucapkan sebelum menunaikan kewajiban, dia akan menemani Arman berangkat ke Rumah Sakit.
Arman mengangguk lalu berjalan lebih dahulu karena sudah tidak sabar ingin segera bertolak ke tempat yang dituju.
"Kalian mau ke mana?" tanya Nala yang tiba-tiba muncul lalu menghalangi jalan. "Tumben banget kalian pergi bareng-bareng. Bikin gue curiga aja!" ketus Nala dengan kedua tangan di depan dada seraya memasang wajah angkuh.
Nirmala mendongakkan kepala. "Bukan urusanmu!'
Nala terkekeh, "Tentu ini jadi urusan gue. Bukannya tadi gue udah bilang sama lu ... biarin gue mati perlahan-lahan?!"
"Papa nggak akan biarin kamu mati!" berang Arman. "Kalau kamu mati, Papa juga bakalan ikut mati!" ujarnya menekan perasaan Nala.
"Nala sehat-sehat aja kok, Pa! Jadi, kalian gak usah lebay deh!!" sahut Nala. Sebenarnya dia sudah tahu ke mana Arman dan Nirmala akan pergi. Sebab tadi tidak sengaja menguping pembicaraan antara keduanya.
"Papa bukan lebay. Tapi Papa sayang sekali sama kamu, Nak...." jawab Arman.
"Ahh..." keluh Nala. Dia kembali merasakan rasa sakit yang luar biasa di tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Nak?" Arman merengkuh pundak Nala. Dia sangat mencemaskan kondisi putri kesayangannya itu.
"Sakit banget, Pa..." rintihnya memegangi bagian badan yang sakit.
Arman sigap mengangkat tubuh Nala dan menggendongnya ke arah ke luar rumah seraya bertanya kepada Nirmala. "Taksi online-nya udah dateng, 'kan?"
"U-udah Pa... driver-nya udah nunggu di depan kok." Nirmala mengikuti langkah Arman, bergerak tidak kalah cepat.
"Pa... sakit banget, Pa. Nala udah gak kuat...."
Arman geleng-geleng kepala. "Nggak, kamu harus kuat, Nak! Kamu putri Papa yang paling kuat. Bertahanlah demi Papa."
Arman sedikit berlari lantas berteriak meminta untuk dibukakan pintu mobil kepada sopir taksi yang dia sewa. Sekejap mata kini dia beserta Nala sudah berada di dalam kursi penumpang sedangkan Nirmala duduk di samping kemudi.
"Mas, tancap gas ya! Anak saya kondisinya kritis," ungkap Arman pada sopir yang duduk di depannya.
Pria yang mengenakan kemeja berwarna biru menganggukkan kepala lalu melajukan kendarannya dengan kecepatan tinggi sesuai permintaan Arman.
"Nak... tahan ya. Kita udah di jalan mau ke Rumah Sakit." Arman tidak melepaskan genggaman tangannya sembari menahan tangis.
__ADS_1
"Kita pulang aja, Pa. Nala nggak mau ke mana-mana. Nala pengen di rumah aja..." lirihnya dengan napas yang berat.
"Mas... cepetan dong!" teriak Arman karena saat ini mobil yang dia tumpangi bergerak sangat lambat.
"Maaf, Pak. Di depan lagi lampu merah," jawab sopir menunjuk rambu-rambu lalu lintas.
"Terobos aja, bego!!" bentak Arman.
Nirmala menengok ke belakang. "Sabar, Pa. Sebentar lagi kita sampai, kok. Kalau nerobos lampu merah bukan cuman nyawa Nala aja yang dalam bahaya, tapi nyawa kita semua."
"Halah... bacot!!!" sergah Arman. Pria yang tengah dilanda kepanikan tersebut sudah sulit untuk berpikir jernih. Karena yang terlintas di otaknya saat ini, ingin segera sampai di Rumah Sakit.
"Klakson dong, klakson!!" sentak Arman saat lampu hijau telah menyala, tetapi jalanan masih tersendat lantaran tertutupi beberapa kendaraan beroda dua. "Kalo masih ngehalangin juga, tabrak aja!!" titahnya yang tak masuk akal.
Sopir ikut panik, dia menekan klakson berkali-kali kemudian membuka jendela. Dia menyembulkan kepala lalu berteriak dengan lantang kepada pengendara yang menghambat laju mobilnya. "Minggir woy, minggir!! Gue bawa pasien sekarat nih!!"
Semua kendaraan yang semula menghalangi, satu persatu menyingkir untuk memberikan jalan. Sang sopir tidak lupa mengucapkan terima kasih lantas menancap gas dalam-dalam.
Mobil bak mengapung di atas aspal. Dan dalam waktu kurang dari sepuluh menit, mereka telah tiba di Rumah Sakit yang dituju. Arman buru-buru mengangkat tubuh anaknya lantas berlarian ke arah UGD untuk mencari bantuan. Nirmala turut menyusul di belakang, setelah dia membayar ongkos sopir taksi online tersebut.
__ADS_1
...*****...