Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Hantam


__ADS_3

"Nala pulang..." teriaknya lemas ketika memasuki rumah. Semua orang yang tengah menyantap makan malam, terperangah sebab mendapati gadis itu dalam kondisi semrawut dengan seorang lelaki berpenampilan urakan turut bersamanya.


"Kamu kenapa, Nak?" Arman memegangi pundak putrinya lalu menilik pakaian yang sudah terkoyak. Dia melirik ke arah Bara dan tanpa bertanya terlebih dahulu, melepaskan satu pukulan keras pada muka pemuda itu. Bara yang tidak siap mendapatkan serangan mendadak, harus merelakan wajah lelahnya terkena hantaman tangan Arman.


"Lu apain anak gue, anak miskin?!" Arman menarik lengan Bara dan meninjunya kembali.


"Papa!!" Nirmala membetot tangan Arman, mencegah sang ayah bersikap gegabah lantaran emosi. "Biarkan Nala bicara dulu, Pa!" sentak Nirmala.


"Lu belain cowok ini karena dia temen deket lu, 'kan?" sergah Arman.


Nirmala geleng-geleng kepala. "Nggak gitu, Pa... tapi Mala tahu persis, Bara itu anak baik-baik."


"Iya Pa... Bara nggak ngapa-ngapain Nala kok," timpalnya karena tidak ingin sang ayah berlaku di luar batasan. "Justru Bara udah nyelametin Nala, dari—"


"Dari siapa?" potong Arman. "Siapa yang udah bikin lu kaya begini? Jawab!!!" bentaknya membuat semua orang terperanjat.


"..." Nala menunduk, menyembunyikan wajahnya karena tidak mungkin berterus terang dengan apa yang terjadi padanya malam ini.


"Jawab Papa, Nala!!" ulang Arman. "Papa mau ngasih perhitungan sama orang yang berani bersikap kurang ajar sama kamu!!


Nala mengetuk-ngetukkan kakinya. Menimang-nimang, memikirkan jawaban yang tepat untuk diberikan kepada sang ayah. Karena sedikit saja dia salah bicara, maka akan fatal akibatnya.


Beruntung, Nirmala kembali bersuara menengahi kesalah pahaman yang terjadi di antara Arman dengan Bara. "Kita biarin Nala istirahat dulu aja Pa. Kasihan dia... besok, barulah Papa menginterogasi lagi."


Arman mendengkus. "Iya dah, kali ini gue dengerin apa kata lu."


Arman menuntun sang anak kesayangan menuju kamar yang berada di lantai dua. Membiarkan Nirmala berada dalam situasi tidak nyaman sebab saat ini dia bersama dua orang pemuda yang sama-sama menaruh hati terhadapnya.


"Permisi, saya pamit undur diri." Bara memalingkan muka, tidak ingin berlama-lama berdiam diri di tempat yang tidak menerimanya dengan baik.

__ADS_1


"Tunggu!" sergah Nirmala. "Jangan pulang sekarang, biar aku obatin lukamu dulu. Ya?" tawarnya pada Bara.


Si pemuda urakan tersebut tentu saja tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang tidak akan datang untuk kedua kali. Peduli amat dengan Zain ataupun Arman. Yang terpenting baginya saat ini, bisa berdekatan dengan Nirmala dan membuat saingannya merasa cemburu buta.


"Duduk di sini." Nirmala menepuk-nepuk bantalan kursi di dekatnya.


Bara mengangguk. Dan bagai seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, dia menuruti perintah Nirmala untuk menurunkan badannya di atas kursi makan.


"Tunggu sebentar ya, aku ambilkan kotak obat dulu." Nirmala bergegas menuju tempat di mana dia biasa menyimpan benda yang berisikan obat-obatan tersebut.


"Jangan lama-lama, nanti aku rindu!" pekik Bara. Dia mulai memprovokasi Zain dengan gombalan mautnya.


"Menjijikkan!" cibir Zain.


"Bilang aja lu sirik!" sahut Bara.


"Terus saja bermimpi, Zain. Mumpung gratis!" ledek Bara.


Perdebatan di antara keduanya terhenti sebab Nirmala telah kembali beserta kotak obat di genggaman. Dia menghampiri Bara, lalu menaruh barang yang dia bawa ke atas meja lanjut membukanya.


"Pelan-pelan ya," kata Bara saat melihat Nirmala menuangkan obat luka ke atas kapas.


"Cengeng jadi laki!" cela Zain.


Nirmala mendengus kesal karena pertikaian tiada berkesudahan antara kedua pemuda tersebut. "Kalian ya... benar-benar kaya kucing dan anjing!!!"


"Aku kucingnya karena aku lucu dan menggemaskan!" sahut Bara. "Dan si Zain anjingnya. Lihat tuh mata dia, melotot-melotot kaya herder!!" tunjuk Bara ke arah wajah Zain.


"Bisa diem gak?" geram Nirmala. Dia mendelikkan mata lalu membungkukkan badan menatap ke arah luka di wajah Bara dengan memegang selembar kapas. "Tahan ya, ini pasti sedikit perih." Nirmala mengobati luka tersebut dengan lembut dan juga hati-hati.

__ADS_1


Bara tersenyum dan menenggak salivanya kasar berulang kali. Kedua mata menatap tak berkedip lantaran sang gadis pujaan begitu dekat dengan hanya berjarak beberapa inci.


Zain merasa cemburu, dia merampas kapas dari tangan Nirmala. "Biar Kakak aja yang ngobatin Bara."


Pemuda berkulit putih itu menekan-nekan kapas pada bagian muka yang terluka dengan sangat kasar. Bara mengerang kesakitan, tetapi Zain semakin terpacu untuk terus mengerjai rivalnya tersebut.


"Lu gila apa? Sakit mulut gue!!" protes Bara.


"Laki-laki itu harus kuat, jangan lemah!" cicit Zain menahan tawa karena sudah berhasil mengerjai Bara.


Nirmala hanya bisa geleng-geleng kepala karena kelakuan menggelikan kedua pemuda di sampingnya. "Kak Zain, nggak boleh gitu. Kasihan Bara."


"Tau nih, si Pak Ustadz! Muka doang kaya muka anak baik-baik. Tapi aslinya, beuhhh... wedan tenan!!"


"Udah malam, papa juga kayanya lagi ngobrol sama Nala. Kalian berdua pulang ya, aku gak enak sama tetangga soalnya," usir Nirmala karena sudah terlalu letih.


"Baiklah... kamu jangan tidur terlalu larut. Dan, makasih banyak buat makan malam yang benar-benar lezat! Lain kali aku boleh 'kan makan malam lagi di sini?"


Nirmala mengangguk, tidak ingin berkata panjang lebar. "Iya, Kak. Sama-sama."


Bara cengengesan karena Nirmala tidak menggubris pertanyaan Zain. "Aku pulang ya. Makasih udah ngobatin lukaku."


"Sama-sama, Bara. Kamu hati-hati di jalan," ujar Nirmala.


Bara mengacungkan ibu jari dan telunjuk lalu dibentuk seperti huruf O. "Mimpi indah, Nirmala. Mimpiin aku ya...."


Zain menjulurkan lidah seakan ingin muntah, mendengar perkataan Bara yang amat menggelikan.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2