Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Rindu


__ADS_3

Kedamaian malam ini digemparkan oleh seseorang yang tiba-tiba berteriak sangat lantang. "Anak kurang ajar, ayo keluar!!!"


"Di mana kamu anak sialan? Sini turun dan hadapi Papamu!" teriaknya lagi mendorong apa pun yang berada di dekatnya membuat kegaduhan.


Seluruh penghuni rumah terperanjat. Mereka lekas berhamburan untuk melihat apa yang tengah terjadi di ruang keluarga.


"Ada apa, Mas? Kenapa teriak-teri—" sahutan Arum terputus sebab melihat darah yang mengering di atas wajah suaminya. "Ka-kamu kenapa, Mas?" Arum hendak menyentuh wajah Sakti. Akan tetapi, pria yang tengah dipenuhi amarah itu menepis tangan Arum.


"Aku gak butuh cang-cing-cong. Mana anak itu?" tanya Sakti murka.


"Maksud Mas, Bara?" Arum balik bertanya.


Sakti mendekati Arum dan menunjuk pelipis sang istri. "Kamu ini bodoh atau tolol? Memangnya anak kita siapa lagi kalau bukan Bara? Anakmu? Anak tuyul yang ada!!"


Arum menarik napas dalam-dalam. "Bara belum pulang, Mas. Mungkin sebentar lagi."


"Jangan sembunyiin anak itu dariku, mana dia?" sentak Sakti mencari putranya ke sana-ke mari.


"Emangnya ada apa nyariin Bara? Ada masalah penting? Terus, kepala Mas kenapa itu?" Arum membuntuti Sakti.


Sakti mengerang kesal. "Kamu bisa diam nggak? Aku pusing ngedengerin ocehanmu, udah kaya radio rusak!!"


"Maafkan aku, Mas." Arum menelan saliva. "Aku hanya ingin tau apa yang udah terjadi sama Mas."


"Ini gara-gara anak sialan itu!" pekik Sakti.


"Tapi kenapa bisa? Emangnya apa yang udah Mas lakukan? Sampai-sampai, anak itu berani menyakiti Papanya?" Arum mencium ada sesuatu yang tidak beres.


"Ah!!" erang Sakti. "Kalau kamu nggak bisa bantuin aku, seenggaknya jangan bikin otakku makin panas!!" Sakti menjungkalkan kursi dan melempar benda-benda yang berada di atas meja.

__ADS_1


Pada waktu bersamaan, Bara telah sampai dan berjalan tergesa-gesa lantaran menangkap suara keributan yang terdengar hingga pekarangan rumah. Dia menatap nanar ke sekeliling karena kondisi ruangan yang berantakan.


"Ada apa ini?" tanya Bara.


Sakti menyeringai senang karena anak yang tengah dia nanti-nantikan kini berada tepat di belakang punggungnya. Dia membalikkan badan sekaligus dan satu pukulan berhasil menghantam pipi kanan putra semata wayangnya itu. "Anak kurang ajar!!"


"Mas!!" pekik Arum berlari untuk melerai.


Kali ini Bara tidak segan-segan untuk membalas perlakuan Sakti dengan melayangkan beberapa pukulan.


"Bara, Mama mohon sudah, Nak...."


Pemuda yang tengah kalap, dia seketika lupa bahwa orang yang dia serang dan dia pukuli adalah orang tuanya. "Bara jijik sama Papa!! Papa benar-benar makhluk paling menjijikkan di muka bumi ini!!"


"Sudah, Nak. Mama mohon ..." Arum menarik kencang lengan Bara. "Bagaimanapun juga dia itu Papamu," isaknya sebab saat ini Bara memperlihatkan sisi gelapnya.


Bara menghempaskan tangan Arum dan berjalan mundur memberikan jarak. "Tante gak tau aja gimana bejatnya kelakuan Papa! Kalau Tante tau, pasti gak bakalan berpihak sama si tua bangka ini!"


"Apa kematian mama gak bisa dijadikan pelajaran, Pa?" lirih Bara terluka. "Bara selama ini membenci Tante Arum dengan segenap hati, nyatanya kelakuan Papalah yang sudah menghancurkan kebahagiaan Bara!"


"Sabar, Nak. Eling..." Arum merengkuh pundak Bara dan mengusap-usapnya. "Istighfar, mohon ampun sama Gusti Allah..." Arum berusaha menenangkan anak sambungnya itu.


Bara mengusap wajahnya seraya mengucap istighfar. Punggungnya bergetar lantaran saat ini dia menangis tersedu-sedu. Arum menarik tubuh Bara lalu mendekap dengan hangat.


"Kalau mau menangis, menangislah Nak... keluarkan semua beban yang ada di bahumu ini," ujar Arum penuh kelembutan. Dia melirik ke arah sopir dan pembantunya lantas menyuruh mereka untuk membopong Sakti.


Bak anak kecil, Bara menangis sesenggukan di dalam pelukan Arum. Air mata bercucuran, membasahi pakaian ibu sambungnya. Terakhir dia menangis seperti itu ketika sang ibu, Kemuning meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.


"Maafkan Papamu, Nak..." Arum mengusap-usap kepala Bara. "Buang jauh-jauh kebencian yang mengotori hati. Agar hidupmu lebih lepas juga bahagia."

__ADS_1


Bara hanya mengangguk, tidak sanggup untuk menimpali nasehat yang diberikan Arum kepadanya. Sebab dadanya saat ini terlalu sesak.


Arum bisa merasakan bagaimana getirnya perasaan Bara saat ini. Bertahun-tahun hidup bersama orang tua yang hanya bisa menyisakan luka. Belum lagi trauma masa kecil, membuat luka di atas luka.


"Mama antar kamu ke kamar ya." Arum merangkul pundak Bara dan membawa pemuda itu ke kamarnya untuk beristirahat.


Sesampainya di kamar, Arum membantu Bara untuk membaringkan badannya di atas kasur.


"Makasih ya Tan..." ucap Bara tulus.


Sejumput senyuman terbit dari kedua sudut bibir Arum. "Sama-sama Nak. Sekarang tidurlah... Mama tau, kamu sangat lelah."


Bara menganggukkan kepala dan langsung mengatup kelopak mata. Arum mengusap-usap pucuk kepala sang anak sambung kemudian mengecup keningnya. "Tidur yang nyenyak. Besok pagi, insyaAllah semua akan kembali membaik."


"Aamiin..." sahut Bara.


Arum beringsut dari atas ranjang lantas berjalan menuju keluar kamar. Dia memadamkan lampu utama lalu menoleh sesaat ke arah Bara. Helaan napas terdengar berat, wanita itu menutup pintu dan melangkah menuju ruangan di mana Sakti tengah diobati oleh sopir pribadinya.


Sepeninggal Arum, Bara membuka kedua matanya kembali. Dia menatap kosong langit-langit kamar dan membayangkan wajah meneduhkan si gadis pujaan.


"Nirmala..." Bara menyebut nama gadis yang sekonyong-konyong melintas di isi pikirannya. "Kamulah salah satu alasanku untuk tetap tersenyum," gumamnya seakan tengah menatap gadis yang dia cintai.


Bak ada ikatan yang kuat, Nirmala merasa gelisah terus saja memikirkan Bara. Meski sejak satu jam yang lalu dia berusaha untuk memejamkan matanya. Namun, tidak bisa.


"Ayolah... pergi jauh dari hadapanku, Bara! Aku mau tidur!" Nirmala berguling ke sana ke mari berusaha untuk terlelap, tetapi bayangan wajah pemuda itu berkelibatan di ingatannya.


"Ya Allah... hilangkan Bara dari pikiranku."


Semakin Nirmala memaksakan diri untuk melupakan Bara, semakin juga pemuda itu merangsek menghantui pikirannya.

__ADS_1


"Enyahlah dari otakku!!" Nirmala memukul-mukul sendiri pelipisnya. Dia mengambil bantal lalu menutupi kepalanya.


...******...


__ADS_2