Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Kekesalan Arman


__ADS_3

Sementara itu, Arman yang tengah gusar memikirkan nasib putri kesayangannya. Nampak berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Sesekali dia melihat ke arah lampu indikator. Sesekali dia menatap jengah ke arah koridor sepi nan gelap di depannya.


"Astaga... ke mana si anak sialan, kenapa kagak balik-balik?" gerundel Arman sebab Nirmala yang pamit untuk ke musala, belum juga kembali.


Kekesalan Arman memuncak, saat anak yang dia tunggu-tunggu sedari tadi, muncul bersama seorang pemuda yang dia kenali. Namun, sangat dia benci. Darahnya mendidih, pikiran-pikiran jahat langsung saja menguasai akal dan batinnya.


Arman berjalan beberapa langkah menyambut Nirmala seraya berkacak pinggang. Kedua bola mata terbuka sempurna. Pria paruh bayah tersebut, tiba-tiba melayangkan sebuah tamparan keras kepada gadis di hadapannya. "Dasar anak durhaka!!!"


Satu tamparan tidak membuat Arman merasa puas. Dia melayangkan kembali, pukulan kedua yang tidak kalah keras. "Kakak lu lagi bertaruh nyawa di sini dan lu malah asyik-ayikan pacaran? Anak biadab! Gue nyesel udah ngegedein lu. Harusnya dulu gue kubur lu hidup-hidup!!"


"Om, cukup! Nirmala, anak Om juga!!" geram Bara mencekal tangan Arman. Dia takut kalau pria yang sudah kesetanan itu akan menyakiti Nirmala untuk kesekian kalinya.


"Lu kagak usah ikut campur sama urusan keluarga gue. Mending lu pergi dari sini sekarang juga. Sebelum gue teriakin lu maling, biar lu mampus digebugin masa!" usir Arman yang pastinya bukan sekadar gertakan semata.


"Pa... Nirmala gak sengaja ketemu Bara di musala. Dia mau melihat keadaan Nala..." Nirmala turut menimpali, meski suaranya terdengar lirih dan bergemetar.


"Berisik lu, tai kucing!! Lu pikir, gue bakalan percaya sama mulut rombeng lu itu, hah...???" Emosi Arman mulai tak terkendali. Dia lupa kalau sekarang ini tengah berada di depan ruang operasi.


Teriakan-teriakan Arman yang menggema di koridor Rumah Sakit, tentu saja mengundang perhatian orang lain. Khususnya satpam yang tengah berjaga tidak jauh dari tempat keributan. Satpam tersebut lekas-lekas beranjak untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tegur satpam pada orang-orang di depannya. "Kalau kalian mau ribut, jangan di sini! Apa kalian buta, tidak bisa membaca tulisan di atas pintu itu?" tunjuk satpam pada papan yang bertuliskan "ruang operasi".


"Lu kagak diajak. Sono-sono, pergi!!!" Arman mengibas-ngibaskan tangannya, mengusir satpam tersebut tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Bapak yang seharusnya pergi, bukan saya!!!" balas satpam mencengkeram kuat lengan Arman juga Bara. "Sekarang, kalian ikut saya keluar dari sini. Sebelum pentungan, mengenai batok kepala kalian!!!" Satpam menyeret kedua orang yang tengah bertikai, menjauh dari tempat yang seharusnya tenang.


"Apa-apaan ini? Lepas!!!" Arman membetot tangannya sendiri dari kungkungan pria yang mengenakan seragam berwarna biru. "Lu berani-beraninya sama gue. Lu kagak tahu siapa gue, hah? Jangankan Rumah Sakit ini, harga diri lu juga bisa gue beli!!!" pekik Arman, merasa terhina oleh perlakuan satpam.


"Saya tidak tahu Bapak ini siapa. Yang jelas, kalau Bapak masih saja melawan. Saya tidak segan-segan buat melaporkan Bapak ke polisi!!" ancam satpam yang sudah habis kesabaran oleh tingkah Arman.


Mendengar kata polisi, kegagahan Arman langsung saja menciut. Dia bersimpuh di depan si pria berseragam biru lantas menggenggam erat kedua tangannya. "Ampun... jangan laporkan gue ke polisi. Anak gue lagi dioperasi. Biarin gue nungguin anak gue di sini...."


"Baik, saya beri Bapak satu kali kesempatan. Tapi, kalau nanti terdengar ribut-ribut lagi di sini, tidak ada kata ampun!!" Satpam mewanti-wanti Arman agar tidak membuat kegaduhan kembali.


"I-iya... gue janji! Gua kagak bakalan ribut-ribut lagi," jawab Arman merasa girang.


"Ya sudah, silakan berdiri Pak. Saya bukan Tuhan, Bapak nggak perlu bersikap seperti ini!" Satpam langsung melengos dan menarik langkah meninggalkan Arman beserta yang lainnya. Sedangkan Arman, dia berdiri sembari melempar tatapan sadis ke arah putri kandungnya.


"Lu emang pembawa sial, Mala. Di mana-mana ada lu, pasti sial!!" Arman berjalan gontai menjauh dari putri bungsunya. Mencari tempat yang menurutnya terasa nyaman.

__ADS_1


"Sabar ya..." Bara meletakkan kedua tangannya di atas bahu Nirmala.


"Makasih, Bara. Tapi sebaiknya kamu pulang aja. Aku gak mau Papa marah lagi." Nirmala menarik tubuhnya agar terlepas dari sentuhan tangan Bara.


Bara mendesah, "Ya udah, malam ini aku pulang. Tapi besok pagi aku ke sini lagi ya?"


"Terserah kamu aja." Nirmala seakan malas menanggapi ucapan Bara. Bukan tanpa alasan, dia hanya tidak ingin orang lain terkena imbas kekesalan Arman yang disebabkan dirinya.


"Aku pulang ya..." kata Bara meski berat hati.


"Hm..." sahut Nirmala, menganggukkan kepala lanjut membuang muka.


Bara beringsut dari hadapan Nirmala dengan langkah-langkah kecil. Sesekali, kepalanya menengok ke belakang berharap sang pujaan hati tengah menatap juga ke arahnya.


Sejumput senyuman pun terukir dari kedua sudut bibir pemuda tersebut lantaran harapannya ternyata bersambut kebahagiaan. Saat dia menoleh ke arah Nirmala, gadis itu pun tengah memandangi dirinya.


"Bye..." Bara melambaikan tangan. Dan Nirmala kembali memalingkan muka.


...******...

__ADS_1


__ADS_2